Beranda / Kolom / Buruh ya Marsinah

Buruh ya Marsinah

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Oleh : Yadhie Mohammad

 

Aku tak ingat persis, kapan Marsinah meregang nyawa
Sebab, sampai kini masih menjadi misteri
Teka-teki itu, mungkin bisa diutak atik dari angka keramat 3, 4, 5 dan 8 pada 1993
Namun, kapan pasti Marsinah dipanggil pulang?
Masih tersimpan rapih di Lauhul Mahfudz

Ya, aku pernah melihat bercak merah darah, lebih menyala dari semangat siapa pun, Pejuang Negeri
Menempel pada dinding kusam ruangan di sebuah kantor militer yang tak sempat ikut dilenyapkan bersama kematiannya

Aku pun banyak mendengar kisah, ketika Marsinah mengepalkan tinjunya ke udara
Melawan Rezim Tiran!
Melawan cukong!
Melawan arus!

Aku pun banyak membaca kisah di surat2 kabar
Mendengar di radio, televisi tentang kisah heroik Marsinah
Membela kaumnya
Kaum Buruh
Buruh Perempuan
Buru seantero negeri

Jangan dibayangkan, usai naik mobil komando dibalut seragam lalu antre dan bersimpuh dengan mulut tersumbat nasi bungkus dan lembaran rupiah

Buruh Marsinah hanya mengenal sesaknya nafas dipenuhi asap mesiu dan gas air mata
Marsinah juga hanya akrab dengan moncong bedil yang siap mengoyak lehernya

Tapi, itu tak cukup!
Dan, kisah-kisah di bawah tanah itulah yang akhirnya mengantarku pada titik kesempurnaan
Sosok Buruh Pejuang
Sosok Pejuang Buruh

Marsinah ya buruh
Buruh ya Marsinah
Tanpa balutan apapun
Tapi, mampu meruntuhkan semua argumen otak, tentang aktivis buruh yang selalu mengusung mimpi besar ‘tuk mencapai singgasananya!

Marsinah bukan sekelas aktivis nasi bungkus
Marsinah bukan sekelas aktivis amplop
atau
Aktivis dengan segudang mimpi dunia

Buruh ya Marsinah
Marsinah ya Buruh
Buruh Marsinah
Marsinah buruh
Yang gaya mengepal dan meninju langit menjadi panutan banyak kaum buruh

Gerakannya iklas
Suaranya tulus
Tinjunya memaksa pintu langit terkuak lebar
Sekali melangkah, penguasa dibuatnya lari terkencing-kencing
Tinggal gelanggang colong playu!

Marsinah ya buruh
Buruh ya Marsinah
Tapi Marsinah bukan buruh yang lahir dari halaman depan koran, bukan pula yang ujug2 manggung di layar televisi atau yang gemar kotbah di radio radio

Marsinah
Sepeninggalmu
Para buruh telah kehilangan arah
Kehilangan Marwah
Kehilangan arwah

Mimpimu tentang buruh yang duduk sebangku dengan penguasa dan cukong, pupus sudah
Marsinah
Perjuanganmu membebaskan kaum buruh dari cengkeraman cukong dan penguasa, reda dan sirna
Justru atas namamu, kaum buruh masuk dalam fase paling kelam: buruh dijagal, dipanggang, diinjak dan susunya diperas sebagai tumbal singgasana orang-orang buruh karbitan

Marsinah
Percayalah mimpi-mimpimu tak sepenuhnya pupus
Kaummu, kaum buruh, hanya butuh bersabar hingga catatan di Lauhul Mahfudz kembali mengirim orang2 sepertimu, seperti Marsinah, buruh ndeso Nglundo, Nganjuk

Kampung Raden, 1 Mei 2026

 

 

 

 

*tupo/ wi/ nf/ 010526

Views: 12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *