Beranda / Kolom / JAM 6 TENG: “KOPI PAGI”

JAM 6 TENG: “KOPI PAGI”

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Ada satu ritual kecil yang hampir tidak pernah absen dalam banyak pagi: secangkir kopi.
Bagi sebagian orang, hari terasa belum benar-benar dimulai sebelum aroma kopi hangat naik perlahan dari cangkir.
Bagi saya sendiri—dan mungkin juga Anda—menyeruput kopi pertama sambil masih mengucek mata dan mencoba mengingat hari apa sekarang adalah semacam jeda singkat sebelum dunia kembali bergerak cepat.
Di momen itu ada sugesti yang hampir otomatis: begitu kafein masuk, tubuh akan langsung “menyala”.
Kopi terasa seperti tombol sederhana yang mengaktifkan energi sebelum kita menghadapi rapat yang berderet, pekerjaan yang menunggu, atau perjalanan panjang menuju kantor. Tidak mengherankan jika banyak orang percaya bahwa secangkir kopi di pagi hari adalah sumber tenaga pertama sebelum hari benar-benar berjalan.
Namun jika kebiasaan ini dilihat sedikit lebih dekat dari sudut pandang sains, ceritanya ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Logika yang selama ini kita pegang memang terdengar masuk akal: kafein masuk, energi muncul. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa sensasi “melek” setelah tegukan pertama di pagi hari tidak selalu berasal dari tambahan energi baru. Thornton (2012) menjelaskan bahwa perasaan segar tersebut sering kali terjadi karena tubuh kita sedang menghentikan gejala penarikan kafein yang terbentuk selama kita tidur.
Tubuh manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika seseorang terbiasa minum kopi setiap hari, tubuh perlahan menyesuaikan diri dengan keberadaan kafein. Selama tidur malam, kadar kafein dalam tubuh menurun cukup jauh. Pada saat itulah tubuh mulai merasakan gejala ringan dari proses penarikan tersebut.
Ketika kopi diminum kembali di pagi hari, rasa lega yang muncul sebenarnya lebih mirip proses mengakhiri gejala tersebut daripada memperoleh energi baru dari nol (Griffiths, 2004, sebagaimana dikutip dalam Thornton, 2012).
Di balik sensasi sederhana itu, ada proses biologis yang cukup kompleks.
Sepanjang hari, tubuh memproduksi senyawa bernama adenosin. Senyawa ini berfungsi sebagai sinyal biologis yang memberi tahu tubuh bahwa waktunya beristirahat. Semakin lama seseorang terjaga, semakin banyak adenosin yang menumpuk, dan semakin kuat rasa kantuk yang muncul.
Kafein bekerja dengan cara menghalangi reseptor adenosin tersebut sehingga sinyal kantuk untuk sementara tertunda (Thornton, 2012).
Namun tubuh manusia jarang tinggal diam menghadapi gangguan semacam ini. Jika reseptor tersebut terus-menerus diblokir oleh kafein, otak akan merespons dengan memproduksi lebih banyak reseptor adenosin. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru membuat tubuh semakin sensitif terhadap rasa lelah ketika efek kafein mulai menghilang (Thornton, 2012).
Di sinilah muncul fenomena yang sering dikenal sebagai _caffeine crash._
Ketika terlalu banyak kafein masuk ke dalam tubuh dalam waktu singkat, sistem saraf dapat bekerja lebih cepat dari biasanya. Tubuh bahkan dapat merespons kondisi tersebut seperti menghadapi ancaman ringan, memicu respons fisiologis yang dikenal sebagai fight-or-flight: detak jantung meningkat, pupil melebar, dan energi dialihkan ke otot (Thornton, 2012). Namun begitu efek kafein mereda, tubuh sering kali mengalami penurunan energi yang cukup tajam.
Ironisnya, banyak orang justru meminum kopi dalam jumlah besar di pagi hari—ketika tubuh sebenarnya masih memiliki cadangan energi alami yang cukup.
Secara biologis, rasa kantuk biasanya mulai muncul menjelang siang atau sore hari—momen ketika banyak orang tiba-tiba merasa ingin menambah satu cangkir kopi lagi.
Pada saat itulah kewaspadaan mulai menurun secara alami. Ketika kopi diminum terlalu banyak di pagi hari, efek kafein sering kali sudah memudar saat tubuh benar-benar membutuhkan dorongan kewaspadaan tersebut (Neal, 2007, sebagaimana dikutip dalam Thornton, 2012).
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep menunjukkan bahwa tubuh merespons lebih baik ketika kafein dikonsumsi dalam dosis kecil tetapi secara bertahap sepanjang hari. Pola konsumsi seperti ini membantu menjaga tingkat kewaspadaan tanpa memicu penurunan energi yang drastis di kemudian hari (Wyatt et al., 2004, sebagaimana dikutip dalam Thornton, 2012).
Temuan-temuan ini sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menghapus ritual kopi pagi yang sudah begitu akrab dalam kehidupan banyak orang.
Sebaliknya, ia hanya mengingatkan kita bahwa secangkir kopi tidak selalu harus menjadi ledakan energi instan. Kopi bisa tetap menjadi bagian dari ritme pagi yang tenang—sebuah jeda kecil sebelum hari berjalan lebih cepat.
Barangkali di situlah letak nilai sebenarnya dari secangkir kopi di pagi hari.
Bukan semata-mata pada kafeinnya, tetapi pada momen yang menyertainya: beberapa menit hening sebelum kesibukan dimulai, aroma kopi yang perlahan naik dari cangkir, dan kesempatan kecil untuk membiarkan pikiran benar-benar bangun.
Karena sering kali, energi terbaik tidak datang dari sesuatu yang diminum dengan tergesa-gesa, melainkan dari cara kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memulai hari dengan sedikit lebih sadar. *Edhy Aruman*

*DAFTAR PUSTAKA*

Griffiths, R. (2004, September 29)._ Caffeine withdrawal recognized as a disorder_ [Press release]. Johns Hopkins University.
Neal, R. (2007, December 5). Using caffeine the wrong way? _CBS News._ https://www.cbsnews.com
Thornton, L. (2012). _You’re doing it wrong: How to improve your life by fixing everyday tasks you (and everyone else) are totally screwing up._ Adams Media.
Wyatt, J. K., Cajochen, C., Ritz-De Cecco, A., et al. (2004). Low-dose repeated caffeine administration for circadian-phase-dependent performance degradation during extended wakefulness. _Sleep,_ 27(3), 374–381.

 

 

 

Oleh: Edhy Aruman

 

 

 

 

 

 

 

*hm bnjg/ bnj/ wi/ nf/ 110326

Views: 43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *