Bayangkan suatu pagi di ruang redaksi.
Claresta, seorang jurnalis, duduk di depan laptopnya. Di layar sudah tersusun beberapa paragraf berita yang hampir selesai. Ia sendiri belum menulis satu kata pun. Namun dalam hitungan detik sebuah sistem kecerdasan buatan telah menyusunnya—lengkap dengan judul, ringkasan, bahkan kutipan yang terdengar cukup meyakinkan.
Beberapa tahun lalu, pemandangan seperti ini mungkin hanya muncul dalam cerita fiksi ilmiah. Saya sendiri – sebelum atau pada awal pandemi Covid-19 — sempat berpikir kemungkinan itu masih sangat jauh. Pernah suatu kali saya berdebat dengan seorang teman tentang hal ini.
Waktu itu saya memang sudah mendengar ada mesin yang bisa membuat _press release_, tetapi tetap saja rasanya sulit membayangkan teknologi semacam itu benar-benar masuk ke ruang redaksi. Sekarang, situasi seperti itu mulai menjadi bagian dari keseharian di sejumlah media. Bahkan video yang beredar di media sosial kini sering membuat orang sulit membedakan apakah itu hasil AI atau bukan.
Teknologi kecerdasan buatan, atau _artificial intelligence_ (AI), memang membawa perubahan dalam cara berita diproduksi. Berbagai sistem otomatis mulai digunakan untuk membantu pekerjaan yang bersifat teknis: mentranskripsi wawancara, menerjemahkan teks, merangkum dokumen panjang, atau sekadar memeriksa tata bahasa. Tugas-tugas yang dulu bisa memakan waktu berjam-jam kini sering selesai dalam hitungan detik.
Perkembangan ini membuat sebagian orang bertanya-tanya: apakah suatu hari mesin benar-benar akan mengambil alih pekerjaan jurnalis?
Namun jika kita melihat lebih dekat bagaimana jurnalisme dijalankan sehari-hari, gambaran tersebut terasa terlalu sederhana.
Penelitian yang dilakukan Laura Amigo dan Colin Porlezza terhadap jurnalis di Swiss menunjukkan bahwa meskipun AI mulai digunakan dalam berbagai tahap produksi berita, peran utama dalam proses editorial tetap berada di tangan manusia.
Teknologi memang dapat mempercepat proses teknis, tetapi keputusan penting—seperti menentukan apakah sebuah peristiwa layak diberitakan, bagaimana sebuah cerita disusun, atau konteks apa yang perlu disampaikan kepada publik—masih bergantung pada pertimbangan jurnalis.
Ada pula sisi lain yang sering luput ketika orang membicarakan AI dalam jurnalisme.
Jurnalisme pada dasarnya bukan hanya soal menulis teks.
Seorang jurnalis sering kali harus keluar dari ruang kerja, bertemu dengan narasumber, mendengarkan cerita mereka secara langsung, lalu mencoba memahami sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang. Banyak hal penting yang justru tidak tercatat dalam data: nada suara yang terdengar ragu, ekspresi wajah ketika seseorang membicarakan pengalaman sulit, atau jeda panjang sebelum sebuah kenangan diungkapkan.
Hal-hal kecil seperti itu sering memberi kedalaman pada sebuah cerita.
Dalam penelitian yang sama, para jurnalis juga menyinggung kemampuan memberi konteks terhadap informasi. Mesin memang dapat memproses data dalam jumlah besar dengan sangat cepat. Tetapi kecepatan itu tidak selalu diikuti kemampuan untuk menilai apakah suatu informasi benar-benar penting, menyesatkan, atau sekadar kebetulan statistik.
Di sinilah peran jurnalis tetap krusial: memeriksa ulang fakta, mengajukan pertanyaan tambahan, dan memastikan bahwa informasi yang sampai kepada publik memang dapat dipercaya.
Sekali waktu, dalam kelas metodologi penelitian — saat menjelaskan validitas dan reliabilitas – saya sempat menanyakan mahasiswa di kelas, contoh reliabel tapi tidak valid. Mahasiswa menjawab, mesin pencari – apakah Google atau AI.
Menariknya, perkembangan teknologi ini terjadi pada saat jurnalisme sendiri sedang menghadapi tantangan yang tidak kecil. Media sosial membuat informasi menyebar dengan sangat cepat. Berita, opini, rumor, hingga hoaks sering kali muncul berdampingan di layar ponsel kita.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan terhadap informasi yang terverifikasi justru semakin besar.
Beberapa jurnalis yang terlibat dalam penelitian tersebut bahkan melihat sebuah paradoks. Di satu sisi, teknologi membuat siapa saja dapat memproduksi dan menyebarkan informasi. Namun justru karena itulah masyarakat semakin membutuhkan orang-orang yang secara khusus bekerja untuk memeriksa kebenaran informasi tersebut.
Semakin banyak informasi beredar, semakin penting pula jurnalisme yang dapat dipercaya.
Ada satu kemampuan lain yang sering disebut ketika jurnalis membandingkan pekerjaannya dengan mesin: kemampuan bercerita.
Berita yang paling diingat orang biasanya bukan sekadar kumpulan fakta. Ia hadir sebagai cerita yang membantu pembaca memahami sebuah peristiwa secara lebih manusiawi. Di dalamnya kadang terdapat emosi—kemarahan, harapan, kesedihan—atau bahkan humor kecil yang muncul di tengah peristiwa besar.
Mesin mungkin mampu menyusun kalimat yang rapi dan terstruktur. Tetapi cerita yang benar-benar terasa hidup sering kali lahir dari pengalaman manusia.
Karena itu, banyak jurnalis tidak melihat AI sebagai akhir dari profesi mereka. Teknologi ini mungkin akan mengubah cara kerja ruang redaksi, tetapi tidak serta-merta menggantikan peran manusia di dalamnya. Jika pekerjaan teknis dapat dibantu oleh sistem otomatis, jurnalis justru memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal yang paling penting dalam profesi ini: menyelidiki, memahami, dan menjelaskan peristiwa kepada publik.
Teknologinya mungkin berubah, tetapi inti jurnalisme tampaknya tetap sama. AI dapat membantu merangkum teks, menerjemahkan dokumen, atau mentranskripsi wawancara dengan cepat. Namun keputusan editorial—memilih fakta yang relevan, memberi konteks, serta memastikan akurasi—tetap membutuhkan penilaian manusia.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan sering bercampur dengan disinformasi, peran tersebut justru menjadi semakin penting. Mesin dapat membantu memproses data, tetapi kepekaan membaca situasi, memahami pengalaman manusia, dan menyampaikan cerita secara bertanggung jawab tetap menjadi kekuatan utama jurnalis.
Karena itu, masa depan jurnalisme mungkin bukan tentang menggantikan manusia dengan mesin. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung kerja jurnalis.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah AI akan menggantikan jurnalis mungkin kurang tepat.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi ini dapat membantu jurnalis menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik.
Selama masyarakat masih membutuhkan cerita yang dapat dipercaya tentang dunia di sekitarnya, satu hal tampaknya akan tetap berlaku:
Jurnalisme akan selalu membutuhkan jurnalis. *Edhy Aruman*
*RUJUKAN*
Amigo, L., & Porlezza, C. (2025). _“Journalism will always need journalists.” The perceived impact of AI on journalism authority in Switzerland._ Journalism Practice, 19(10), 2266–2284. https://doi.org/10.1080/17512786.2025.2487534
Oleh: Edhy Aruman
*islu/ pjmi/ wi/ nf/ 080326
Views: 63











