
WARTAIDAMAN.com
Bob Chapman dulunya pemimpin seperti kebanyakan orang. Ia memimpin perusahaan besar. Fokusnya adalah pada angka, laporan, dan keuntungan. Pikirannya selalu dipenuhi dengan obsesi, kalau perusahaan untung dan tumbuh, itu berarti ia sudah memimpin dengan baik.
Ia memimpin Barry-Wehmiller seperti kebanyakan eksekutif lain—penuh strategi, penuh kontrol, dan semua itu difokuskan pada laba.
Barry-Wehmiller makin besar. Omzet miliaran dolar. Ribuan karyawan di berbagai negara. Dari luar, semua tampak sempurna. Tapi dari dalam—hampa. Orang-orang bekerja, iya. Tapi semangat mereka hilang. Tak ada gairah. Tak ada rasa memiliki.
Jeruji itu membuatnya berpikir ulang.
Setelah bercerai dan menikah lagi, ia mulai berusaha jadi suami dan ayah yang lebih baik. Ia belajar mendengarkan keluarganya. Ia ingin membuat orang-orang di rumah merasa dicintai dan dihargai.
Namun, dia tetap resah.
Mengapa ia bisa begitu perhatian di rumah, tapi begitu dingin di kantor?
Lalu ia sadar sesuatu. Di tempat kerja, ia tidak melakukan itu. Ia bersikap dingin. Kaku. Ia tidak pernah benar-benar peduli pada orang-orang yang bekerja bersamanya.
Sampai suatu hari, saat ia menghadiri pernikahan, ia melihat seorang ayah mengantar putrinya ke altar. Dan ia berpikir,
“Semua orang yang bekerja denganku… juga anak seseorang.”
Mereka adalah manusia. Mereka bukan cuma operator. Bukan cuma teknisi. Mereka punya kehidupan. Mereka adalah seseorang yang dicintai. Yang ditunggu pulang. Yang punya cerita. Yang punya harapan.
Dan ia… selama ini hanya melihat mereka sebagai pekerja.
Sejak hari itu, Bob Chapman berubah.
Ia ingin memimpin dengan cara baru. Ia menyebutnya Truly Human Leadership—kepemimpinan yang manusiawi. Bukan cuma soal target. Tapi soal memperlakukan orang dengan baik.
Ia mulai melakukan banyak hal kecil yang berarti. Chapman membongkar budaya lama dengan mulai dari hal kecil. Seperti memusnahkan kandang besi tempat menyimpan peralatan di pabrik. “Kalau kita bilang kita percaya pada karyawan, kenapa barang-barang dikunci?” katanya
Ia bangun BW University sebagai tempat pelatihan yang menyenangkan. Tempat orang belajar menjadi pemimpin yang manusiawi. Di sana orang tidak hanya belajar strategi, tapi juga belajar mendengarkan. Merayakan. Memahami.
Ia hapus aturan-aturan yang terlalu kaku. Ia ajak orang berdiskusi. Ia buat. Ia rayakan keberhasilan kecil. Ia tunjukkan bahwa setiap orang itu penting.
“Kami akan mengukur kesuksesan lewat cara kami menyentuh hidup manusia,” katanya.
Hasilnya luar biasa.
Karyawan jadi lebih bahagia. Mereka semangat bekerja. Perusahaan tumbuh. Bahkan saat krisis seperti pandemi, mereka tetap kuat. Karena orang-orang merasa dihargai, bukan dimanfaatkan.
Kim B. Clark, dalam bukunya Leading Through, bilang bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan. Tapi soal membuat orang lain jadi lebih baik. Kepemimpinan itu kerja keras—tapi juga kerja yang membahagiakan. Karena saat kita membantu orang lain berkembang, kita juga ikut tumbuh (Clark, 2024).
Jadi, jika Anda seorang pemimpin—di kantor, di rumah, di komunitas—cobalah mulai dari hal kecil.
Dengarkan lebih dalam. Hargai lebih sering. Jadikan setiap orang merasa berarti.
Karena pemimpin sejati bukan yang paling berkuasa. Tapi yang paling peduli.
DAFTAR PUSTAKA
Clark, K. B. (2024). Leading through: Activating the soul, heart, and mind of leadership. Harvard Business Review Press.
oleh: Aruman, Jurnalis
*hm/ wi/ nf/ 020425