JAKARTA – Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal, Sekretaris Jenderal DPP BIMA (Barisan Insan Muda), Noorhadi Sadli, menyerukan refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa. Melalui tulisan renungan yang viral, ia menegaskan bahwa momentum kelahiran Rasulullah seharusnya bukan sekadar dirayakan dengan seremonial belaka, melainkan menjadi titik balik untuk melakukan “instal ulang” (reinstall) moral dan integritas nasional di tengah krisis kepercayaan publik.
Noorhadi mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dari euforia perayaan dan berani bertanya: “Apa yang sedang terjadi dengan negeri kita?” Ia menyoroti fenomena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang kian sistemik, merasuk ke berbagai lini kehidupan mulai dari legislatif, eksekutif, yudikatif, hingga dunia usaha dan organisasi masyarakat.
Bencana sebagai Tanda Tanya Besar
Dalam renungannya, Noorhadi juga mengaitkan kondisi sosial-politik dengan deretan bencana alam yang silih berganti melanda Indonesia. Meskipun ia tidak serta-merta menyebut bencana sebagai hukuman Tuhan, ia mempertanyakan apakah musibah tersebut bisa dibaca sebagai peringatan keras agar bangsa ini berkaca.
“Jangan-jangan bukan hanya hutan yang kita rusak, tetapi juga amanah. Bukan hanya lingkungan yang kita eksploitasi, tetapi juga kekuasaan,” tulis Noorhadi. Kalimat ini menyiratkan bahwa kerusakan ekologis dan kerusakan moral adalah dua sisi mata uang yang sama-sama mengancam keberlangsungan bangsa.
Konsep “Reinstall Indonesia”
Poin paling menonjol dalam tulisan Noorhadi adalah metafora “Reinstall Indonesia”. Ia berpendapat bahwa negara ini tidak perlu dihapus atau diganti, namun memerlukan pembaruan total pada sistem nilai yang mendasarinya.
“Indonesia perlu di-reinstall moralnya, reinstall integritasnya, reinstall tata kelola kekuasaannya, dan reinstall keberanian rakyatnya untuk peduli,” tegasnya.
Proses instal ulang ini, menurut Noorhadi, tidak bisa dimulai dari istana, parlemen, atau pengadilan semata. Perubahan fundamental harus bermula dari individu. Ia mengingatkan bahwa membenarkan kecurangan kecil atau menjual amanah demi kepentingan pribadi sama artinya dengan memperpanjang penyakit bangsa, terlepas dari seberapa hebat pemimpin yang ada di atas.
Maulid sebagai Momentum Transformasi Diri
Noorhadi menekankan bahwa Rasulullah SAW datang membawa perubahan nyata: mengajarkan kejujuran di tengah budaya bohong, menegakkan keadilan saat yang kuat menindas, dan menjaga amanah ketika kekuasaan rentan disalahgunakan. Oleh karena itu, peringatan Maulid tahun ini dituntut untuk melahirkan manusia-manusia yang berani berkata “CUKUP!” terhadap praktik koruptif dan ketidakadilan.
“Indonesia tidak akan diselamatkan hanya oleh pemimpin yang hebat. Indonesia akan diselamatkan oleh manusia-manusia yang berani menjaga kebenaran ketika kebenaran tidak lagi populer,” pungkas Noorhadi.
Seruan dari Sekjen DPP BIMA ini menjadi pengingat keras bahwa esensi meneladani Nabi adalah transformasi karakter. Tanpa perbaikan diri dan integritas kolektif, perayaan Maulid hanyalah ritual kosong yang gagal menjawab tantangan zaman.
*anwi/ wi/ nf/ 230826
Views: 0













