Gaya komunikasi Menteri Keuangan ke 30 sejak Indonesa merdeka memberikan dampak yang positif untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga kondisi ekonomi. Dialek mantan kepala LPS itu mengingatkan kita kepada Presiden RI ke. 4, alm. KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Oleh sebab itu saya berikan gelar GUS BAYA untuk Menteri Keuangan kita ini.
Gaya komunikasi keduanya (Gus Dur & Gus Baya) mempunyai kemiripan, suka ceplas-ceplos dan terkesan tidak memiliki beban terkait dengan jabatan yang diemban. Dengan gaya komunikasi yang tak lazim bagi seorang menteri keuangan yang terbiasa dengan bahasa bernuansa intelek dan sulit dimengerti masyarakat , telah menjadikan Gus Baya salah satu pejabat negara yang mampu menyita perhatian publik.
Komunikasi Gus Baya sangat Lugas, cepat , tepat sasaran dan tak bertele-tele sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami oleh masyarakat umum.
Bukan saja bahasa komunikasinya yang luar biasa, kerjanya juga terbilang cukup berani, baru sebulan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto , Gus Baya telah membuat beberapa kebijakan-kebijakan yang menarik perhatian publik. Berbeda dengan Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati, yang mengutamakan stabilitas dalam kebijakannya, Gus Baya justru lebih mengutamakan kebijakan yang berpihak pada pertumbuhan ekonomi.
Gebrakan Gus Baya yang paling kontroversial ialah memindahkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) negara yang selama ini ditempatkan di Bank Indonesia (BI) ke sistem perbankan dalam negeri. Dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun ini ditempatkan di lima bank milik pemerintah (Himbara).
Gus Baya juga menolak jika pembayaran hutang kepada PT. KCIC diambil dari APBN, dirinya secara terbuka menyebut bahwa utang kereta cepat harus ditanggung Danantara yang saat ini mengelola semua aset BUMN. Sehingga beban utang KCIC yang harus dibayar ke China, diminta diselesaikan sendiri oleh Danantara, bukan dengan uang pajak.
Penulis Muchlis Hassan
anwi/ wi/ nf/ 010226
Views: 36










