Beranda / Kolom / MONSTER HUTAN DAN KEBODOHAN BERLAPIS GELAR…DOA PERLAWANAN RAKYAT YANG TERSAKITI

MONSTER HUTAN DAN KEBODOHAN BERLAPIS GELAR…DOA PERLAWANAN RAKYAT YANG TERSAKITI

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Oleh: H. J. Faisal*
*Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI)

Tulisan ini saya tujukan untuk semua saudara-saudara saya di Sumatera yang sedang terkena musibah banjir, yang sudah kehilangan nyawa dan harta, sampai kehilangan semua yang sangat kalian cintai, sampai batas kemampuan kalian untuk bertahan.

Ini bukan tulisan untuk membuat kita semua tambah bersedih. Ini bukan tulisan untuk membuat kita semua tambah berputus asa.

Justru ketika kalian mendapatkan musibah ini, inilah bukti bahwa kalian adalah rakyat yang tersakiti, namun kalian kuat.

Kalian adalah rakyat yang tidak bersalah, namun kalian justru yang menerima sialnya.

Kalian adalah rakyat yang hanya ingin hidup tenang setiap harinya, namun kalian yang menerima teror konyol dan bodoh dari mereka yang berwujud setengah manusia setengah setan.

Saudara-saudaraku di Sumatera, musibah banjir yang menimpa kalian bukanlah sekadar fenomena alam. Itu adalah cermin dari kebodohan aktor-aktor yang dengan pongah melanggar sistem, merusak tatanan, dan menukar masa depan rakyat dengan keuntungan sesaat.

Mereka adalah para pengelola kepentingan yang lebih sibuk menghitung laba pribadi dan kelompok daripada menghitung nyawa yang hanyut bersama arus.

Ironisnya, mereka menganggap diri cerdas karena mampu menaklukkan celah hukum dan prosedur.

Padahal, kecerdasan tanpa moral hanyalah kebodohan yang berlapis gelar. Mereka menulis narasi pembangunan, tetapi tinta yang mereka gunakan adalah lumpur yang menenggelamkan rumah-rumah rakyat.

Mereka berpidato tentang kemajuan, tetapi suara mereka tenggelam dalam deru air bah yang menelan sawah dan ladang.

Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang mengaku beradab masih membiarkan aktor-aktor setengah manusia setengah setan ini menukar ekosistem dengan ego, menukar hutan dengan beton, menukar keselamatan rakyat dengan kursi rapat yang penuh tepuk tangan palsu?

Namun, di tengah kebodohan mereka, rakyatlah yang menunjukkan kecerdasan sejati, yaitu kecerdasan untuk bertahan, untuk saling menolong, untuk tetap hidup meski sistem yang seharusnya melindungi justru dikhianati.

Musibah banjir ini bukanlah sekadar air yang meluap. Ini adalah konsekuensi dari jutaan hektar hutan yang telah dirusak tanpa perhitungan.

Data menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan lebih dari 9 juta hektar hutan primer antara tahun 2001–2022 (Global Forest Watch), dengan laju deforestasi yang masih terus berlanjut.

Apakah jutaan hektar hutan itu sepadan dengan satu nyawa manusia? Tidak. Tidak ada satu pun nyawa yang bisa ditukar dengan keuntungan sesaat dari kayu, sawit, atau tambang.

Hutan rusak, lingkungan hancur, nyawa hilang. Semua itu adalah kalkulasi bodoh dari para penyelenggara negara yang lebih besar nafsunya daripada volume otaknya dan volume hati nuraninya, dan para pengusaha hitam, para monster hutan yang hanya tahu menghitung laba, bukan luka.

Mereka menganggap diri visioner, padahal mereka hanyalah pedagang masa depan yang menjual hak generasi mendatang dengan harga diskon.

Mereka menulis laporan keberlanjutan, MDG, SDG, Climate Change dan virus-virus konsep penjual kecemasan dan ketakutan lainnya, tetapi tinta mereka adalah darah dan nyawa rakyat yang hanyut.

Mereka berpidato tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi panggung mereka berdiri di atas tanah longsor dan banjir bandang.

Sungguh, kebodohan ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kejahatan intelektual, mengorbankan sistem ekologi demi laba sesaat, demi keuntungan kelompok.

Sekali lagi, saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada kalian…hanya helaan nafas panjang dan doa, semoga kalian bisa semakin berani bertindak melawan para pengambil keputusan yang bodoh dan melawan para monster hutan, untuk mencegah hal ini terjadi lagi.

Helaan nafas panjang ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran.

Kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan para pengambil keputusan yang bodoh.

Ya, bodoh karena mengira jutaan hektar hutan bisa ditukar dengan keuntungan sesaat. Bodoh karena mengira laporan keuangan lebih berharga daripada satu nyawa manusia.

Mereka adalah monster hutan, pengusaha hitam yang menulis narasi pembangunan dengan tinta banjir dan lumpur.

Mereka menganggap diri cerdas karena mampu menaklukkan sistem, padahal kecerdasan tanpa moral hanyalah kebodohan yang sangat berbahaya.

Bagi rakyat yang terkena getah musibahnya, ini bukan masalah bersabar atau pasrah menerima kenyataan, ini adalah bentuk perjuangan untuk melawan, membuat class action.

Pencabutan hak izin pengelolaan hutan oleh pemerintah belumlah cukup, mereka harus memberikan gantirugi yang setimpal, karena kerusakan sudah terjadi, maka harus ada tanggung jawab lebih lanjut dari pemerintah sebagai pemberi izin pengelolaan hutan, dan dari para pengusaha ‘monster hutan’ sebagai pelaksana pengelola.

Ini bukan sekadar soal bersabar, melainkan perjuangan hukum, moral, dan sosial. Rakyat tidak boleh hanya menjadi korban, tetapi harus mendapatkan keadilan yang nyata.

Maka dari itu, inti perjuangan yang harus dilakukan selanjutnya adalah melakukan class action, dimana rakyat bersatu menuntut ke pengadilan, bukan hanya menerima keputusan sepihak.

Harus ada ganti rugi setimpal, berupa kompensasi nyata, bukan sekadar janji atau formalitas.

Harus dilakukan kembali rehabilitasi ekologi, menanam kembali pohon yang ditebang, memulihkan hutan yang rusak.

Dan yang paling utama adalah kompensasi keadilan sosial, yaitu dengan memberi makan rakyat yang terdampak selama 5 tahun penuh, sebagai bentuk tanggung jawab atas penderitaan yang ditimbulkan oleh para monster hutan tersebut.

Sungguh sangat ironis sekali, jika para pengambil keputusan sering menganggap pencabutan izin sebagai “solusi final.”

Padahal, itu hanyalah upacara administratif yang tidak mengembalikan nyawa, tidak mengeringkan air bah, dan tidak menumbuhkan kembali hutan yang hilang.

Mereka menulis laporan keberlanjutan dengan bahasa manis, tetapi rakyat membaca laporan itu dengan perut kosong.

Mereka menebang pohon dengan kalkulasi laba, tetapi tidak pernah menghitung biaya sosial dari banjir, longsor, dan hilangnya mata pencaharian. Mereka mengira pencabutan izin adalah akhir cerita, padahal itu baru bab pertama dari tuntutan rakyat.

Dan doa ini adalah doa perlawanan. Doa agar kita semakin berani bertindak, agar kita tidak lagi menjadi korban dari kalkulasi konyol mereka. Doa agar persatuan rakyat menjadi benteng terakhir melawan kerakusan.

Bersatulah, wahai semua saudaraku di Sumatera dan di seluruh Indonesia. Karena hanya dengan persatuan, kita bisa menghentikan siklus kebodohan ini. Aamiin.

You’re all strong and you’re all unstoppable…

 

 

 

Views: 41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *