Beranda / LifeStyle / PEREMPUAN SATU MILYAR: _Jujur Hancur Ngegombal Susah_

PEREMPUAN SATU MILYAR: _Jujur Hancur Ngegombal Susah_

 
WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Bab 2 Jujur Hancur, Ngegombal Susah

 

Jujur hancur. Terkadang, muncul cerita dari berbagai kalangan kalau sedang menghadapi istri. Harus diakui bahwa pada saat ini kebutuhan keluarga sudah banyak tergantung kepada kerelaan istri daripada ketersediaan dana bulanan pensiun yang jauh di bawah PTKP—tentu saja—tidak dapat mencukupi lagi.

Namun, berkata jujur kalau pada situasi saat ini sangat tergantung harta kekayaan istri sehingga membuat dia dicinta, akan dapat berakibat fatal.

Ingatanku tiba-tiba kembali kepada kisah Rama dan Shinta. Rama pernah jujur kepada Shinta saat bicara tentang cintanya. Rama jujur kalau tidak seratus persen cintanya untuk Shinta. Tentu saja, Shinta terkejut mendengar hal itu.

Walaupun maksud Rama cintanya kepada Shinta tidak boleh melebihi cinta kepada Allah Robbul Alamin, Shinta sudah telanjur kecewa berat. Dia pun lari dari Rama, padahal mereka berdua baru saja menikmati deburan ombak pantai WestProg di dekat NYIA.
Jujur kepada istri, tetapi berakibat fatal sudah dialami Rama. Dia menyatakan secara jujur jika cintanya kepada istri tidak boleh melebihi cintanya kepada Allah membuat dia ditinggal lari Shinta. Padahal, perkataan Rama yang jujur itu benar. Namun, ternyata dampak yang timbul dari kata-kata Rama yang jujur itu bahaya juga.

Tidak kurang dari Laksmana (adik Rama) dan Hanoman (panglima perang Rama) meminta Shinta untuk kembali dengan meyakini kesetiaan Rama terhadapnya, perjuangan Rama untuk membawanya kembali.

Akan tetapi, Shinta sudah telanjur kecewa berat karena tidak seratus persen cinta suaminya hanya ditujukan kepadanya. Ternyata, kejujuran Rama kepada Shinta berdampak buruk.

Emosi Shinta sebagai seorang perempuan yang ingin memiliki Rama sebagai satu-satunya pria yang harus mencintainya sepenuh hati lebih menonjol daripada perbuatan dan tindakannya untuk dicinta dan diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cinta dunia sering membuat orang lupa akhirat.
Barulah setelah Wibisana dengan kebijaksanaannya memberi tahu bahwa ada surga menunggu Shinta jika dia kembali kepada Rama, Shinta akhirnya mau dipeluk Rama. Jujur dengan keadaan memang bisa saja hancur. Perlu perjuangan panjang untuk dapat menuju ke arah saling pengertian kembali dalam setiap hubungan suami istri. Kembali lamunanku melayang.
Bagaimana Shinta tidak mau kembali ke Rama kalau ternyata ada surga di sana?

Wibisana memberikan gambaran utuh beda cinta Rama dengan cinta Rahwana kepada Shinta. Lamunanku melayang jauh, mengingat kata-kata Wibisana kepada Shinta.

“Kanda Wibisana. Mengapa tiba-tiba kalian semua ada di sini? Kemarin waktu terjadi gempa, hilang. Semua memikirkan nasib diri sendiri, tapi sekarang mau ikut campur pula urusan suami-istri!” Kejengkelan Shinta langsung tumpah kepada Wibisana.

“Dewi Shinta, tidak ingatkah Dewi ketika Wibisana menolak keputusan Baginda Raja Diraja, Rahwana, raja Alengka?” tanya Wibisana.

“Lupakah Dewi. Kalau Wibisana ini lalu diusir dari istana karena Wibisana menolak perintah Baginda Rahwana.

Tidak ingatkah Dewi, kalau Wibisana ini menolak perintah untuk membela keputusan Rahwana, raja, mengurung Dewi Shinta sebagai tahanan rumah supaya Dewi Shinta dapat menjadi istri Rahwana, raja? Tahukah Dewi Shinta bahwa ‘fatamorgana cinta’ Rahwana meruntuhkan akal sehat! Rahwana begitu tergila-gila dengan kecantikan Dewi. Sampai-sampai semua yang dimiliki Rahwana harus dikorbankan demi cinta Rahwana kepada Dewi.

“Keluarga pun Rahwana korbankan untuk mendapatkan cinta Dewi. Seluruh keluarga kerajaan gugur dalam perang Rama-Rahwana. Harta benda, Rahwana persembahkan untuk sang Dewi. Bagi Rahwana, Dewi Shinta adalah segalanya. Apa pun keinginan Dewi, Rahwana selalu berusaha memenuhi. Rahwana begitu terpesona melihat kecantikan Dewi Shinta. Hati Rahwana dipenuhi keinginan untuk dapat merengkuh Dewi sebagai istri.

“Dewi perhatikan baik-baik. Rahwana adalah seorang Raja yang menjadi panutan rakyatnya. Apa jadinya para lelaki di dunia ini jika seluruh lelaki mengikuti ‘fatamorgana cinta’ Rahwana? Mereka, para lelaki itu begitu menyembah kepada kecantikanmu, Dewi.

Mereka, para lelaki di dunia ini, mau berbuat apa saja untuk menyenangkan istri. Kalau istri melihat tetangga beli mesin cuci baru yang bukaan depan karena yang lama masih bukaan atas, maka istri lalu minta kepada lelaki penyembah istri. Kalau istri di arisan RW melihat ada istri lain pamer intan berlian, istri akan menuntut kepada suami, untuk dibelikan intan berlian juga, tanpa peduli cara suami mendapatkannya.

“Para lelaki pemuja istri itu akan berbuat apa saja, layaknya Rahwana, tanpa lagi berpikir apakah perbuatannya itu salah atau benar. Bagi lelaki pemuja istri, hidup Di bawah Ketiak Istri (DKI), membuat rumah tangga bahagia. Kalau kemudian tiba-tiba istri melihat mobil ekspander meluncur menyalip mobilnya, jangan heran, kalau sampai di rumah lelaki DKI itu harus menghadapi istrinya merengek minta ganti mobil. Dewi, apakah Dewi ingin para lelaki di dunia ini mencintai istri seperti halnya cinta Rahwana kepadamu Dewi Shinta?”

“Sadarkah Dewi, bahwa dampak buruk DKI itu akan sangat mengganggu kehidupan normal para lelaki. Lelaki menjadi tidak ada harganya jika sudah berhadapan dengan istri. Cinta Rama beda dengan cinta Rahwana kepadamu, Dewi. Kembalilah, Dewi. Selalu ada kesempatan bagi orang-orang yang berpikir jernih.

Menggunakan perasaan dari jiwa yang paling dalam. Di sudut sudut hati Dewi tentu masih ada suara-suara nurani. Suara yang bersatu dengan ruh. Suara yang mengajak kepada suasana guyub, rukun, ngangeni,” jelas Wibisana.

“Ada sorga tersedia bagi Dewi jika kembali. Insyaallah, amin …,” desah Wibisana.
Kalau saja Wibisana tidak mengingatkan Shinta tentang dampak buruk lelaki DKI (di bawah Ketiak Istri), jika Rama terlalu mementingkan keinginan Shinta sehingga dia mau kembali pada Rama, mungkin bahaya akan menimpa setiap lelaki yang jujur kepada istrinya
***

Lantas, jika jujur itu berbahaya, apakah kemudian harus berbohong?

Ingatanku pun kembali kepada Dusmin dan Ijah. Akan tetapi, berbohong yang dilakukan Dusmin kepada Ijah juga bukan hal mudah. Memang, merayu dengan berlebih-lebihan harus pakai akal cerdas juga.
Bisa saja, Dusmin bilang kepada Ijah saat dia ditanya istrinya.

“Apa Abang, mau ikut dengan Ki Ageng Batman terbang dengan perahu surya?”

“Tidak …,” jawab Dusmin berbohong karena dia baru saja melihat Ki Ageng Batman terbang dengan kedua istrinya, Mbak 00 WeIBe dan Miss Kiara, bersama anak-anak mereka, Jalal dan Tanjung. Bayangan mereka berlima tampak berada di antara bulan purnama.

“Tapi, aku memang saat ini sedang terbang Ijah,” kata Dusmin.

“Terbang ke mana, Bang?” tanya Ijah.

“Ke hatimu …,” bisik Dusmin menggoda sambil wajahnya menatap Ijah.

Duh, tidak mudah merayu di duta. Namun, pilihan harus diambil.

Karena tanpa jawaban yang jelas, situasi justru akan lebih berabe. Bisa melebar!

Apa yang hendak dibuat, nih, untuk menjawab pertanyaan Perempuan Satu Miliar itu?

Apa kalau tabungannya tidak sebanyak itu, Aku masih sayang kepadanya?

Jujur bisa hancur, tetapi mau merayu dengan berlebih-lebihan susah.

Akan tetapi, perjalanan hidup setelah pensiun memberikan jalan terbaik untuk mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan.

Kesadaranku terhadap arti penting peran tauhid kepada Allah menguatkanku untuk mengambil keputusan.

Berserah diri kepada Allah, takut kalau tobat tidak diterima, takut kalau masih tergoda berbuat maksiat, harap untuk mendapat rida Allah, berusaha menuju jalan mendaki lagi sulit, jalan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, harus menjadi pertimbangan utama dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan.

Bismillah.

“Harta—sebesar gunung, tidak akan dibawa mati …,” desisku.

“Tapi, ketentraman jiwa, usaha kita untuk mendekatkan diri pada Illahi Robbi, Insyaallah, akan membuat kita lebih tenang dalam menjalani hidup,” jelasku.

“Bersyukurlah diberi rahmat harta. Untuk itu, usahakan harta itu dapat menemani bukan hanya di dunia, tetapi juga di akherat. Insyaallah, berkah. Aamiin,” tambahku.

“Aku harus lebih banyak sedekah lagi, ya Mas?” Istriku mendesis.

Lega rasanya dunia ini mendengar kata-kata istriku.
***

Namun, dinamika kehidupan selalu muncul dalam hubungan suami-istri. Begitu juga hubungan antara aku dan istri, tentu saja. Suatu hari, saat kami sedang berada di ruang tamu, tiba-tiba dia bertanya, “Mas, tolong beri tahu aku. Sebetulnya, berapa jumlah uangku di rekening tabungan itu?” tanya istriku.
Hal itu dia tanyakan kepadaku karena ATM-nya—dia minta—aku yang pegang. Kalau ada perlu saja dia meminta lalu aku mengambilkan uangnya.

Namun, entah mengapa hari itu dia seperti ingin menegaskan jumlah uang yang ada di tabungannya. Padahal, sudah sering kuganggu dan berkata jujur karena yakin tidak akan hancur walaupun juga mungkin seperti merayu dengan belebihan, kukatakan bahwa dia itu Perempuan Satu Miliar.

“Ya, sekitar itulah,” jawabku.
Kalau pertanyaannya tidak mengenai cinta, mudah menjawabnya.

“Jangan pakai sekitar!” seru istriku.

Waduh, ada apa lagi ini? Apakah kejujuranku yang membuat suasana panas dan seperti akan membuatku hancur atau ngegombalku tentang julukan Perempuan Satu Miliar kepadanya, itu yang membuat dia tiba-tiba berang?

Pertanyaan-pertanyaan Perempuan Satu MMiliar itu, bagai cubitan saat oleng. Cubitan istri saat oleng dapat membantu memulihkan kesadaran. Pada saat oleng, terkadang kesadaran bisa hilang.

Di saat itulah, cubitan istri bukan saja membantu kesadaran, melainkan juga menyelamatkan jiwa. Gara-gara dicubit istri, selamatkan jiwa. Apalagi, itu?

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak order wa/me: 081266804830

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 260326

Views: 41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *