Bab 5 Mimpi Ke Amerika
Miskin, itu yang kualami semasa SMA. Jadi, begitu kulihat rumah Nety yang masih gubuk, itu yakin aku akan dapat menemukan pendamping yang dapat kuajak hidup susah nantinya. Walaupun saat bertemu Nety, aku tidak lagi miskin. Namun, pengalaman menjadi miskin saat di SMA begitu melekat.
Uang saku hanya sebesar 1.000 rupiah setiap bulan. Dana itu harus kugunakan untuk membayar SPP 900 rupiah. Sisa uang saku itu baru dapat kugunakan untuk melampiaskan hobi makan, makan bakso di kantin. Ya, makan bakso di kantin hanya bisa kulakukan sekali sebulan saat itu.
Akan tetapi, aku tidak mau kalah dengan kemiskinan yang kuderita. Saat duduk di bangku akhir SMA, setiap hari, aku bangun pagi, membantu Ibu mencuci piring dan menanak nasi dengan tungku yang masih ditiup. Bisa dibayangkan asap yang selalu mengepul jika api belum juga mampu menyala dengan kuat. Perempuan yang kupanggil ‘ibu’ itu sebetulnya adalah adik ayah kandungku karena ibu kandungku meninggal saat aku masih kecil.
Alhamdulillah, aku termasuk siswa berprestasi—sedikit memuji diri—Prestasiku itulah yang dilirik Toni dan kawan-kawan sehingga kami belajar bersama di rumah Dedeh untuk persiapan ujian masuk PTN.
Namun, karena aksiku itu, membuatku mengalami perbaikan gizi secara drastis.
Situasi dan kondisi perbaikan gizi itu terhenti saat ujian masuk PTN sudah berlalu. Kembalilah diriku dengan kehidupan biasa. Bahkan, tidak ada lagi uang saku karena tidak ada kewajiban membayar SPP. Situasi dan kondisi yang sungguh tidak mengenakkan bagiku.
Perubahan yang terjadi saat aku sudah tidak lagi bersama teman-teman yang memberikan seyum dan tawa. Hidupku semakin terasa begitu mengenaskan karena belum tentu dapat diterima sebagai mahasiswa di UGM. Mau kuliah di PTS, lebih-lebih sangat tidak terbayangkan dengan situasi dan kondisi gambaran besaran uang saku yang kuterima.
Ibu sepertinya sangat sedih karena melihatku sering termenung. Saran beliau untuk mendaftar ke PTS tidak kutanggapi dengan anggukan kepala. Namun, Ibu tidak mau menyerah, aku diminta mengikuti testing di PT lain yang kusuka.
Tiba-tiba, ada berita kecil di Kompas, media yang sering kami baca beramai-ramai karena ada tetangga yang langganan. Pernah kami saling mengantre karena menunggu informasi berita Piala Dunia.
Namun, kami juga dengan tidak sabar menunggu kelanjutan cerbung Mushasi yang sedang populer pada zaman itu.
Ada informasi tentang ikatan dinas dengan kuliah sambil mendapat uang saku. Masku, bahkan mengatakan saudara Mas Ipar tempat dia menempuh SMA di Jakarta, bahkan sampai kuliah di Amerika. Hanya karena tadinya beliau kuliah di sana.
Amerika. Wow, Amerika!
Lamunanku pun mulai terbang melayang jauh. Aku akan ikut tes dan berangkat ke Jakarta. Aku ingin mewujudkan mimpiku ke Amerika.
Sesaat kupandangi wajah Perempuan Satu MMiliar itu, lamunanku tentang mimpi ke Amerika pun buyar. Aku mulai berpikir suatu hal luar biasa telah terjadi pada Nety saat ini. Bukan saja dia telah membuatku hidup di luar Jawa—lebih tepatnya di Sumatera bukan di Amerika—tetapi juga Nety yang dahulu miskin dan harus mendapatkan beasiswa untuk dapat melanjutkan kuliah itu, kini telah menjadi perempuan kaya.
Kalau hanya karena hemat saja, rasanya tidak mungkin Nety dapat mempunyai tabungan dengan jumlah yang sangat besar. Tabungan Nety, bahkan mungkin tidak akan kudapatkan selama hidupku. Namun, Nety bukanlah penyebab gagalnya mimpiku ke Amerika.
Mengingat hal itu, kembali lamunanku melayang.
Hidup di Jakarta membuatku tidak nyaman. Kemanjaan yang kualami walau hidupku miskin saat di Yogyakarta, tidak lagi kutemukan di Jakarta. Sebagai orang Yogyakarta, aku cukup banyak mempunyai kenalan kawan saat kuliah.
Prestasiku saat kuliah di Jakarta jauh di bawah harapanku.
Memang hasil ujianku tidaklah paling buruk kalau tidak dikatakan masih baik. Namun, prestasiku tidak akan mengantarkanku meraih mimpi ke Amerika. Apalagi, aku kesulitan menguasai bahasa Inggris untuk menjadi bahasa ketigaku, selain bahasa nasional dan bahasa Jawa tentu saja.
Hampir setiap bulan aku pulang ke Yogyakarta. Belajar naik KA Ekonomi dengan cara duduk di dekat toilet. Jakarta-Yogyakarta menjadi murah dengan pola itu. Bahkan, konon teman S-2-ku di Yogyakarta, masih menggunakan cara yang sama saat dia rindu dengan keluarganya di Jakarta.
Pada semester kedua, aku mulai belajar lagi, mempersiapkan diri untuk ikut tes ujian masuk PTN. Namun, karena nilai-nilai ujianku masih baik, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Yogyakarta dan tidak masuk kuliah lagi. Ya, aku DO.
Dana beasiswa, kupakai untuk modal kuliah di Yogyakarta. Aku diterima lagi di Kampus Biru. Saat mengurus izin penelitian untuk menyusun skripsi itulah, aku bertemu Nety.
Dengan bekal sudah menjadi tentor di bimbel ternama di Yogyakarta, aku merasa PD untuk menggoda perempuan yang belum kukenal.
“Jacky,” kataku sambil mengajak bersalaman perempuan yang baru datang bersama perempuan lain yang lebih tinggi karena aku lebih dahulu mengantre menunggu pejabat yang melayani izin penelitian itu datang.
“Nety,” jawabnya singkat sambil tersenyum manis, senyum yang membuat jiwaku melayang.
Kupandangi wajah Perempuan Satu MMiliar yang sedang duduk di ruang tamu rumah saat ini. Wajah manisnya masih membekas walau usianya sudah hampir 60-an. Salah satu alasanku memilih dia selain karena miskin, dia itu manis. Wajah yang manis di samping hemat biaya juga tahan lama.
Akan tetapi, ada hal yang masih membuatku penasaran dengan Perempuan Satu MMiliar itu.
Perasaan karierku di pekerjaan lebih menonjol dari dia. Take home pay-ku juga jauh lebih tinggi dari penghasilannya. Masa, sih, hanya karena hemat dia lalu bisa mempunyai tabungan yang begitu besar?
“Aku harus berpacu dengan waktu, Mas ….” Suatu malam dia berguman menjelang tidur, setelah tamu kami yang sama-sama berasal dari Jawa datang. Mereka sekeluarga silaturahmi ke rumah pada Idulfitri hari kedua. Tahun itu, hari ketiga harus sudah masuk.
“Berdoa saja, mudah-mudahan Ibu cepat mendapatkan orang yang dapat menjadi teman untuk berangkat haji,” jawabku pelan.
Nety ingin memberangkatkan ibunya naik haji. Namun, niat baiknya tidak kesampaian karena ibunya meninggal di kampung saat Idulfitri hari ketiga, saat dia harus mendampingku mengikuti Lady’s program di pendidikan jabatan yang kuikuti.
Lama setelah itu, Nety tidak menemukan cara untuk mewujudkan keinginannya memberangkatkan ibunya ke tanah suci. Padahal, walaupun beliau sudah meninggal, dia dapat meminta tolong orang lain untuk naik haji atas nama ibunya.
Sedekah seratus juta? Tiba-tiba aku teringat tentang sedekah Nety yang boleh dikatakan sampai seratus juta. Apakah sedekahnya itu yang membuat dia kini menjelma menjadi Perempuan Satu AMiliar? Amazing!
Bisa jadi begitu adanya, tetapi bagaimana bisa itu terjadi?
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
Kontak order wa/me: 081266804830
*mjkr/ wi/ nf/ 300426
Views: 26








