Bab 3 Namaku Jacky
Ya, cubitan istriku pernah membuat jiwaku selamat.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Saat itu istriku tentu saja belum menjadi Perempuan Satu Miliar. Tubuhnya juga masih langsing. Sepertinya istriku begitu bangga memilih hidup bersama denganku. Oh, ya, begini-begini, dahulu aku sering digoda teman, Bahkan, aku sering berakting, maksudnya bernyanyi walaupun itu lagu dangdut.
Namaku sangat populer saat itu. Jacky, ya, Jacky. Namun, saat aku bekerja di kantor, terutama saat awal bekerja di kantor, mereka memanggilku Jack. Seolah, mereka ingin menghindari panggilan Jacky yang sangat populer di siaran lagu dangdut.
Nah, soal pertanyaan Perempuan Satu MMiliar yang bagai cubitan saat oleng itu membuat anganku melayang saat kami berdua pergi ke Pacitan dari Yogyakarta tengah malam.
Menjelang tengah malam, aku bangun. Pelan-pelan aku turun dari tempat tidur supaya istriku tidak terbangun. Saat keluar pintu kamar, aku masih bisa tidak mengeluarkan suara.
Namun, begitu mau membuka pintu keluar ruang tamu, suara kunci dan pintu kayu itu agak kuat. Ruang tamuku berada di depan pintu kamar, motor juga terletak di sana.
Pada saat pintu keluar akan terbuka, aku dikejutkan oleh suara dengan nada bertanya.
“Mau ke mana, Mas?”
Ternyata—ketika aku melihat ke arah suara itu— istriku sudah berdiri di pintu kamar. Tentu saja, aku kesulitan untuk berbohong kalau aku ingin berangkat ke Pacitan mengurus pajak motor itu sendirian, naik motor dari Yogyakarta ke Pacitan.
“Pajak motor ini kan harus dibayar. Kalau berangkat malam ini, Insyaallah besok pagi kan, udah bisa sampai Pacitan,” jawabku mencoba membuat alibi.
“Aku ikut!” seru istriku.
“Malam-malam begini?” tanyaku.
“Lebih bahaya lagi kalau Mas berangkat sendiri. Pokoknya aku ikut!” seru istriku.
Akhirnya kami berangkat dari Yogyakarta malam hari dengan perhitungan sampai di Pacitan masih pagi dan segera dapat mengurus administrasinya. Dari rumah, kami langsung pakai mantel, pakaian lengkap, baju dan celana tersebut berdua. Kami berani memutuskan untuk berangkat dari Yogyakarta ke Pacitan tengah malam itu tanpa sadar bahwa kami sedang melakukan petualangan maut.
Sepanjang perjalanan ke Wonosari, kami menjumpai beberapa rombongan—entah berjalan kaki entah naik sesuatu, sudah tidak begitu ingat—berlawanan arah dengan kami. Mungkin mereka menuju Yogyakarta. Sampai di Wonosari, masih ada warung yang buka untuk tempat bertanya jalan tembus dari Wonosari ke Pacitan kalau tidak melalui kawasan Bendungan Wonogiri.
Kami kemudian diberitahu bahwa simpang tiga ke arah Pacitan yang jalannya aspal hanya satu, nanti ambil saja yang ke arah kanan. Begitu kami menjumpai simpang tiga itu, kami dengan yakin langsung mengambil arah kanan.
Tanpa sadar bahwa kalau saja kami tadi tidak menggunakan mantel yang berbentuk sepasang pakaian itu, orang-orang di warung tadi pasti akan mengetahui bahwa aku pergi dengan seorang perempuan, Perempuan Satu Miliar pada saatnya nanti. Waktu yang sudah lewat tengah malam, tentu sangat berbahaya kalau hal itu diketahui. Hatiku mulai bergidik mengingat hal itu. Bisanya, hanya istighfar dan berdoa mohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seraya bergumam ‘subbhanallah, walhamdulillahu wa la ilaha illa Allah, Allahu akbar’ sepanjang jalan.
Apalagi, petualangan maut ini sudah masuk jalan pintas yang lebih kecil dan tentu lebih sepi. Kiri-kanan, bukan sawah dan jarang terlihat ladang. Di sepanjang jalan yang kelihatan, semua gelap. Cahaya hanya berasal dari langit dan yang sering terlihat adalah bukit di kiri-kanan yang sungguh mengerikan. Bukit-bukit di kanan-kiri jalan itu rasanya seperti ingin menelan dan melumat kami.
Sampai suatu saat, di suatu tanjakan dan tikungan, aku khilaf memainkan gas sehingga mesin motor pun mati. Begitu bisa dihidupkan lagi, posisi motor sudah tidak lurus ke arah jalan. Dari sorot lampu motor, di kejauhan, tampak ada lampu yang menyala dan bayangan sebuah gubuk.
Aku bermaksud menuju ke sana untuk istirahat ataupun bertanya lagi kalau jumpa seseorang. Akan tetapi, istriku menolak keras.
“Tidak usah, kita terus saja,” bisik istriku.
“Di tengah hutan seperti ini, ada lampu itu mencurigakan. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan,” kata istriku.
Aku pun mau tidak mau setuju dengan permintaan istriku. Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan.
Namun, hal aneh terjadi dalam perjalanan kami selanjutnya.
Dari jauh, kadang-kadang seperti ada orang yang sedang berjalan. Tadinya, kupikir itu adalah perubahan kecepatan relatif pohon yang diam, tetapi kemudian perlahan bergerak ke arah kami. Dampak asas relativitas sering tampak dari pohon yang bergerak mendekati kita yang sedang berjalan, naik kendaraan.
Namun, yang terjadi bukan asas relativitas. Tampak seperti ada yang ganjil pada makhluk-makhluk itu. Kadang-kadang, setelah dekat seperti ada yang tidak punya kaki. Berkali-kali, istriku bertanya tentang sesuatu yang dilihatnya.
Namun, tidak kujawab. Aku hanya diam dan memutar gas supaya lebih cepat motor berjalan dan terus dremimil berdoa. Pandangan mataku hanya lurus ke depan, seolah ingin cepat meninggalkan daerah yang mengerikan itu. Rasa ngeri itu baru berhenti, setelah kami sampai di sebuah musala di pinggir jalan. Waktu kulihat jam, subuh sudah masuk. Akhirnya, kami putuskan untuk salat Subuh di sana.
Setelah salat, langit mulai tampak cerah. Dari sisa-sisa kabut pagi, kami jumpai suatu kota kecil yang kemudian terbaca nama Pracimantoro. Istriku tampak lega karena ketika kuliah dia pernah praktik kerja di Pracimantoro. Kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Pacitan.
Begitu masuk ke wilayah Jawa Timur, pagi hari itu, aku merasa perlu ada tambahan amunisi serta ingin minum-minum hangat. Maklum, sejak berangkat dari Yogyakarta—terutama sebelum masuk
Pracimantoro— sebetulnya aku hanya berusaha menenangkan diri supaya istriku tidak bertambah panik. Makhluk-makhluk yang mengerikan itu seperti tampak nyata selalu menuju ke arah kami. Jujur, aku sebetulnya mengalami stress berat melakukan perjalanan itu, perjalanan yang boleh dikatakan ‘petualangan maut’.
Pagi hari itu, kami memang harus menerima kenyataan kalau menu yang dapat disajikan tentu seadanya, mie rebus dan kopi. Istriku, walaupun sudah merasa lega, terus bercerita mengenai kejadian perjalanan tadi malam. Rupanya, dia masih merasa tidak puas dengan penjelasanku kalau tadi malam di perjalanan itu tidak terjadi apa-apa.
Belakangan, jauh-jauh hari sambil santai, kukatakan bahwa yang kami jumpai itu sejenis kuntilanak.
Setelah kami rasa istirahat sudah cukup, kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Memang setelah makan, aku sudah mencoba untuk memejamkan mata sebentar supaya dapat menghilangkan rasa kantuk yang menyerang. Namun, ternyata itu tidak cukup.
Suasana perjalanan pagi yang cerah sangat nyaman di badan. Pemandangan yang indah di kanan dan kiri jalan, ada perbukitan, kadang jurang di sisi kanan-kiri jalan, bergantian dengan pemukiman, dan persawahan membuat suasana perjalanan menjadi sangat nyaman.
Bukan saja jauh berbeda dengan suasana Kota Yogyakarta yang sudah menjadi kota besar, berjalan di kota-kota kecil di antara perbukitan dan jurang, pemukiman yang diselingi area persawahan, ada tempat rekreasi gua stalagtit dan stalagmit yang konon ceritanya ada yang dapat ditabuh seperti suara gamelan—musik tradisonal Jawa—sungguh mengasyikan. Sampai suatu saat, tiba-tiba aku kehilangan kesadaran dalam sekejap. Tiba-tiba, mataku tertutup begitu saja. Semilirnya angin pagi yang begitu segar ditambah perut yang baru saja kekenyangan membuatku mengantuk.
Tidak tahu lagi, sedang dalam situasi dan kondisi di jalan yang kiri datar berbukit, sedangkan yang sebelah kanan terkadang jurang.
Hanya terasa ada cubitan yang begitu keras dan terasa sangat sakit, yang kemudian membuat aku sadar kembali. Itu pun sudah hampir terlambat. Alhamdulillah, masih diberi selamat karena aku masih sempat menginjak rem motor itu. Tepat beberapa senti dari pinggir jurang, istriku berteriak keras, minta berhenti.
Kemudian, kami berhenti sejenak menghela napas sambil mengucap syukur ke hadirat Illahi Robbi.
Alhamdulillah, untung saja aku menjalankan motor sangat pelan. Rupanya, melihat jalannya motor tidak searah dengan jalan, istriku masih sempat mencubitiku terus menerus, makin lama makin keras. Mungkin istriku melihat motor berjalan menuju ke bibir jurang.
Aku tidak sadar kalau maut akan datang. Begitu bisa berhenti di tepi jurang, baru aku sadar. Ternyata, aku baru saja selamat dari maut yang menghadang. Namun, rupanya maut hilang karena cubitan istri tersayang.
Subhanallah.
Mengingat peristiwa maut yang dahulu hampir kualami—tetapi justru hilang, karena cubitan istriku tersayang—membuatku kembali berpikir, Jacky bisa jadi pertanyaan istrimu itu akan menyelamatkanmu dari maut, seperti dahulu.
Betul juga, namaku Jacky dan pernah diselamatkan istri saat maut menghadang. Mengapa aku harus bingung kalau pertanyaan tentang jumlah uang di rekening Perempuan Satu Miliar itu membuatku bagai terasa bagai cubitan?
Akan tetapi, dia bertanya berapa jumlah nominal pasti uangnya dalam tabungan yang kartu ATM-nya diserahkan kepadaku untuk memegangnya. Apakah dia curiga kalau aku mengambil tabungannya dengan ATM yang kubawa?
Padahal, saat aku baru kenal dia dan mencari rumahnya, aku diantar oleh seorang paman yang tidak kukenal, tetapi mengenal Nety, mantan pacar yang kemudian menjadi istriku. Rumahnya hanyalah berupa rumah gubuk. Namun, Nety bisa jadi salah satu perempuan calon insinyur di desanya. Jadi, banyak orang kenal dengannya.
Duh, siapa sangka Nety kini menjelma menjadi Perempuan Satu Miliar? Mendesak pula kepadaku supaya aku jujur mengatakan berapa besar nilai tabungannya di bank.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
Kontak order wa/me: 081266804830
*mjkr/ wi/ nf/ 290326
Views: 34








