Bab 1 Pertanyaan yang Menusuk
Makmur, mungkin lebih tepat untuk menggambarkan kondisi fisik istriku saat ini. Tentu saja itu dibandingkan pada saat kami belum menikah dahulu.
Mantan pacarku itu, mendapat beasiswa tugas belajar karena kesulitan ekonomi untuk melanjutkan kuliah. Hal itu membuat dia harus mau menjalani penempatan di seluruh wilayah Indonesia. Mahasiswi yang terlihat langsing 34 tahun lalu itu saat ini hampir semua bagian tubuhnya bukan hanya melebar, melebar maju.
Masyaallah, sulit membayangkan hal itu dapat terjadi.
Sudahlah, kami hidup sederhana. Tidak hanya teliti sebelum membeli, tetapi pikir sebelum membeli. Namun, hasil pikir sebelum membeli itu tidak membuat tubuhnya mengerut. Justru membuat hampir semua bagian tubuhnya berkembang.
Apalagi, pada masa pandemi ini, kegiatannya sangat jauh berkurang. Frekuensi berinteraksi dengan orang lain menjadi minim. Jadi, peluang terjadinya konflik atau friksi dengan pihak lain mengecil.
Masa pandemi ini membuat semua anggota keluarga lebih banyak di rumah. Pagi, siang, malam, hampir berkutat di ruang tamu. Setelah dapur dan ruang keluarga, tempat cuci dan jemur pakaian, kamar mandi dan taman kecil, ruang tamu adalah tempat pertemuan yang paling mengesankan. Di sana, kami dapat menikmati kebersamaan yang jarang kami rasakan karena kesibukan masing-masing. Pekerjaan sangat menyita waktu sehingga frekuensi untuk berdialog menjadi minim.
Selain ruang tamu, di ruang lain dia sangat sibuk. Jangan tanya kalau di dapur, itu sudah menjadi keahliannya. Walaupun berstatus sebagai pegawai, untuk urusan dapur dia tetap nomor satu. Paling tidak, itu bagiku.
Harus diakui kemampuannya dalam memasak makanan sehari-hari sangat lihai walaupun dengan menu yang sederhana. Tentu saja, masakan Jawa sesuai dengan masa kecilnya.
Sepertinya, pengalaman hidup pada masa kecil menempa dia untuk pandai memasak. Masa kuliah yang cukup lama dan harus mengekos, jauh dari orang tua—bisa jadi—juga mendorong dia untuk pandai memasak.
Namun, barangkali dengan begitu, dia saat ini sudah menjelma menjadi Perempuan Satu Miliar. Di samping pandai berhemat—karena tidak sering membeli lauk atau masakan di luar untuk makan, kecuali dia sangat sibuk—masakannya memang cocok di lidah. Dana di rekening tabungan menggelembung, bagai tubuhnya.
Di ruang tamu itu, setelah tugas daring selesai, dia bercerita kepadaku, bagai mengajar para mahasiswa. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa memandang wajahnya.
Pipi yang naik saat bercerita dan mata yang bercahaya membuatku lega dan terus memandangi wajahnya sambil sesekali memberikan respons.
Bagiku, itulah situasi yang tepat untuk memberi perhatian kepadanya. Hal yang bisa jadi sudah sangat lama tidak kulakukan, seperti saat kami awal-awal bertemu dahulu.
Kehidupan pada awal pernikahan juga begitu singkat untuk dapat dinikmati bersama.
Karena di samping dia mendapatkan hasil positif saat periksa kehamilan, ada informasi tentang penempatan tugasnya di luar Jawa. Bahkan, aku berangkat terlebih dahulu, merantau ke Sumatera. Saat melihatnya begitu bersemangat bercerita seperti saat dia mengajar daring, aku memperhatikan dengan penuh pengertian.
Sesekali, dia menengok ke taman di depan ruang tamu, tampak rona cerah di wajah itu.
Dia bercerita tentang bunga ini dan bunga itu. Tangan dinginnya memang berpengaruh secara signifikan kepada taman kecil kami. Boleh dikatakan, taman kecil kami paling rimbun dan banyak tanaman bunga.
Bahkan, bukan hanya tanaman bunga, melainkan ada juga tambulampot. Ada empat buah tambulampot jambu madu yang berhasil ditanamnya dan berbuah.
Semua itu tentu saja tidak lepas dari tangan dingin perempuan ‘satu Miliar’ itu.
Aku terus memandangi wajah itu. Untuk waktu yang lama, rona wajah yang cerah itu membuat ingatan tentang bentuk tubuh makmur yang sudah sulit dibedakan antara perut dengah bagian tubuh lainnya itu hilang.
Akan tetapi, balasannya sungguh di luar dugaan. Terkadang saat aku bangun pada malam hari, tahu-tahu sudah ada selimut di badan.
Pagi-pagi sehabis Subuh, ada minuman hangat tersedia. Pernah teh, kadang jahe, akhir-akhir ini wedang uwuh. Tidak lupa, selalu ada madu. Jangan tanya soal buah atau masakan kesukaanku, dia paling tahu akan hal itu.
Kalau sore hari pertemuan di ruang tamu berlangsung positif, tidak diragukan lagi, esok hari banyak kesukaanku terhidang di rumah. Bukan hanya masakan yang cocok di lidah, melainkan juga buah-buahan. Sungguh. aku merupakan lelaki yang beruntung.
Saat ini, sebagai pensiunan—boleh dikatakan—aku berada di posisi ikut istri yang sebenarnya. Kalau dahulu pada saat awal merantau, setelah aku tahu dia akan ditempatkan di Sumatera, aku memutuskan untuk berangkat lebih dahulu.
Hal itu kulakukan, supaya aku tidak dianggap sebagai suami ikut istri. Sekarang ini, secara ekonomi, aku betul-betul ikut istri.
Aku juga mencoba untuk keras bekerja, berkarier walaupun harus diakui banyak orang-orang penting yang menolong karierku karena kenal dengan istriku. Namun, aku tetap berpikir bahwa di dalam diriku ada sesuatu yang membuat orang itu peduli terhadap karierku. Tentu saja, itu sekadar untuk menunjukkan bahwa dalam berkarier, aku tidak ikut istri. Namun, begitu pensiun, semuanya hilang. Aku saat ini menyadari harus menjadi suami siaga. Apalagi, kalau dia sedang bercerita di ruang tamu.
Saat dia bercerita, ada yang harus kuingat. Pandang wajahnya, beri perhatian, letakkan ponsel, insyaallah bahagia akan datang. Amin.
“Mas, kalau tabunganku nggak sebanyak itu. Apa Mas juga masih sayang padaku?” Suatu malam dia berbisik padaku.
Der!
Hatiku tercekat mendengar pertanyaan itu.
Pertanyaan dari Perempuan Satu MMiliar yang menjadi istriku. Sebagai kepala rumah tangga dengan penghasilan di bawah PTKP sehingga tidak dapat lagi membiayai kehidupan rumah tangga, pertanyaan itu akan sangat sulit kujawab secara logis.
Apakah aku harus jujur jika saat ini—dalam menempuh kehidupan sehari-hari—aku sangat tergantung kepadanya?
Apakah aku harus mengatakan bahwa saat ini, aku tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan rumah tangga dari dana bulanan pensiunku?
Apakah aku harus merendahkan diriku agar tidak dianggap sebagai kepala rumah tangga yang tidak dapat bertanggung jawab?
Subhanallah!
Sungguh malang nasibku sebagai laki-laki kalau itu yang terjadi. Aku—mantan pejabat yang mempunyai jabatan strategis dan memiliki kewenangan besar dalam memutuskan sesuatu kegiatan di kantor—harus menerima kenyataan mendapat pertanyaan kritis dari istri sendiri.
Astagfirullah!
Ampuni hamba-Mu ini, ya Allah, karena banyak dosa yang telah hamba perbuat sepanjang hidup hamba.
Namun, aku tidak boleh mengelak atas semua kejadian yang kualami. Aku tidak boleh marah atau sekadar jengkel karena emosi sesaat dan tidak menjadi lelaki gagah di depan istri. Aku tidak boleh merasa bahwa aku dianggap sebagai Lelaki DKI (Lelaki di bawah Ketiak Istri) yang sering kali ditempelkan oleh bos-bos kepadaku karena aku sering mengikuti permintaan istri.
Aku tidak boleh menghindar dari pertanyaan menusuk dari istriku.
Akan tetapi, apakah dengan kondisi keuangan setelah pensiun yang sangat minim, aku sayang kepada istriku karena tabungannya banyak?
Berdesir jiwaku saat terpikir hal itu.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
Kontak order wa/me: 081266804830
*mjkr/ wi/ nf/ 220326
Views: 75








