Beranda / LifeStyle / PEREMPUAN SATU MILYAR: _Pilih Dia Karena Miskin_

PEREMPUAN SATU MILYAR: _Pilih Dia Karena Miskin_

 
WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Bab 4 Pilih Dia Karena Miskin

 

“Ini tempat dudukku, cari yang lain!” teriak Dedeh kepadaku.

Dedeh adalah murid perempuan yang baru sekelas denganku saat kami duduk di bangku SMA. Kami mengenal Dedeh karena selain cantik, dia kaya. Kulitnya kuning dan kalau ke sekolah naik vespa.
Tahun 70-an akhir sudah naik vespa, itu jelas orang kaya.

Tentu saja, itu bukan pandanganku semata. Banyak teman masih naik sepeda, sementara aku harus jalan kaki 5 km, tiap hari. Pada saat terengah-engah menjelang sampai pintu gerbang sekolah, Dedeh lewat dengan santainya dibonceng Toni, pacarnya. Toni juga baru sekelas denganku saat aku duduk di kelas terakhir SMA.

Diteriaki oleh murid paling cantik dan kaya di kelas itu sungguh membuatku malu. Aku memang ingin duduk di depan dan aku sengaja memilih tempat duduk itu karena aku ingin mendengar lebih jelas saat guru-guru menerangkan pelajaran. Namun, karena Dedeh berteriak, sementara aku dan dia jarang berkomunikasi karena tidak saling kenal, aku mengalah dan mundur mencari tempat duduk yang paling belakang.

Memang Dedeh duduk sebangku dengan Masu, teman sekelasku yang pendiam. Aku akhirnya duduk sebangku dengan Imam. Untuk menghilangkan rasa malu, aku sering mengajak mereka bergurau, ketawa-ketawa.

Teringat jelas dalam lamunanku. Baru sekelas saat di kelas tiga SMA saat itu, membuatku tahu diri kalau harus mengalah dengan orang kaya, seperti Dedeh. Aku ingin menghindari bergaul dengan lawan jenis yang kaya.

Itulah sebabnya saat, seorang laki-laki mengantarku ke rumah Nety, mahasiswi yang kukenal saat kami bertemu di kantor ditsospol Jateng karena mengurus surat izin penelitian—penelitian yang harus kami lakukan, untuk menyusun skripsi S-1—perkenalan yang sungguh tidak kuduga, tetapi berujung pada tekadku untuk mendapatkan Nety sebagai pilihanku dalam mengarungi hidup. Hal itu langsung sudah kuputuskan saat aku dibawa paman yang baru saja kukenal itu karena aku dibawa ke sebuah rumah yang lebih mirip disebut gubuk.

Paman itu begitu tahu aku mencari rumah Nety, saat baru turun bersamaan dari bus Semarang-Solo di Pos Tingkir, langung mengajakku ke rumah Nety.

Beliau kenal dengan Nety, karena saat itu—mungkin—Nety merupakan satu-satunya perempuan di kampung itu yang akan meraih gelar insinyur. Apalagi ibu Nety adalah seorang janda. Aku dikenalkan olehnya saat kami sampai di rumah Nety yang sangat sederhana itu.

Alhamdulillah, saat itu aku bersyukur dan berharap, aku harus berhasil membina hubungan dengan perempuan manis yang rupanya berasal dari keluarga miskin ini. Aku sudah mempunyai penghasilan dari sebuah bimbel terkenal di Yogyakarta. Anggaran yang kuperlukan untuk berkunjung ke rumah Nety bukanlah suatu hal yang sulit lagi bagiku.

Sesaat kutatap Perempuan Satu Miliar itu, masih jelas tampak dalam pandanganku, Nety adalah perempuan yang kupilih menjadi pendamping hidupku karena dia miskin. Aku bukan hanya ingin menghindari menjalin hubungan dengan perempuan kaya, tetapi aku juga berpikir kalau dia miskin, akan dapat bersama-sama menjalani kehidupan yang susah. Pilihan jodoh yang sangat realistik saat itu.

Namun, tidak kusangka saat ini Nety, istriku, itu telah menjelma menjadi Perempuan Satu Miliar.

Bahkan, dia pun baru saja menegaskan bahwa tidak ingin mendapatkan jawaban yang tidak jelas dariku tentang besar tabungan miliknya.

“Jangan sekitar-sekitar!” seru Perempuan Satu Miliar itu saat dia menanyakan besar tabungannya karena kartu ATM miliknya, aku yang memegang.

Duh, berasa kembali tubuhku dicubit, bagai saat badanku dicubit saat sedang oleng hendak masuk jurang dahulu.

Dahulu, aku ingin menghindar dari perempuan kaya sejak diteriaki Dedeh saat di SMA. Namun, kini aku berasa dicubit perempuan kaya. Lamunanku pun kembali melayang.

“Jack, kami ingin belajar bersama denganmu. Ada beberapa kawan yang akan bergabung kalau kamu mau. Kita belajar di rumah Dedeh karena itu tempat yang paling dekat dengan rumahmu,” kata Toni.

Sungguh aku terkejut. Dedeh ingin aku belajar bersama di rumahnya? Perempuan kaya yang mengusirku dari bangku paling depan itu ingin belajar denganku.

Masya Allah!

Namun, aku hanya dapat mengangguk.
Aku hanya ingin menolong teman.

Beda dengan Masu yang memang cerdas di kelas. Aku boleh dikatakan pandai. Cerdas adalah bawaan lahir, sedangkan pandai karena aku sering membaca buku saat pulang sekolah. Aku masuk ke toko buku, karena tidak mampu membelinya, kubaca jawaban soal tes masuk PTN. Jawaban itu kuingat-ingat lalu di rumah kutuliskan kembali.

Aku suka menolong saat teman sebangku atau yang duduk agak dekat denganku minta kertas ulangan.

Tentu itu kulakukan dengan sembunyi-sembunyi. Kebetulan aku duduk di belakang setelah diteriaki Dedeh sehingga pada saat guru mengawasi kami ulangan berada di depan, aku pun beraksi.

Mungkin karena itu, Toni memintaku untuk belajar bersama dengan kawan-kawan di rumah Dedeh. Di samping dengan senang hati menolong teman, aku juga mendapatkan rezeki, perbaikan gizi. Banyak makanan enak yang jarang dapat kubeli tinggal kunikmati saat teman-teman mengerjakan soal.

Aku baru beraksi setelah mereka selesai mengerjakan soal. Begitu setiap hari pada malam hari, karena masa studi kami ditambah satu semester, sementara bahan ajar sudah selesai.

Beda dengan Masu, dia justru bersedekah menolongku membawa ke sebuah bimbel.

Karena posisinya, aku dapat mengajar di bimbel itu saat aku masih kuliah. Luntang-luntung mencari perbaikan gizi sering kulakukan saat kuliah dengan memburu seminar-seminar yang sering dilakukan di Kampus Biru.

Suatu hari, aku bertemu Masu saat aku ingin mencari seminar di fakultasnya.
Sejak itu, aku mulai berduit.

Kalau aku sering ingin menolong teman, Masu lebih suka bersedekah membantu perekonomian orang. Sungguh, tidak kusangka ternyata penegasan Perempuan Satu MMiliar tentang jumlah uang tabungannya juga hanya untuk membantu perekonomian orang.

Hal itu baru kuketahui setelah terjadi diskusi. Aku mencoba menjelaskan perkiraan besar tabungannya karena ada modal bisnisku yang memang dikirim ke rekeningnya. Kami kebetulan mengadakan kerjasama bisnis dengan orang lain kenalan Perempuan Satu MMiliar itu. Saat modal itu kembali, dana dari rekanan bisnis itu dikirim ke rekeningnya.

“Berarti, insyaallah ditambah dengan dana di rekening dari kantor, maka jumlahnya sekitar itu, ya?” kata perempuan satu Miliar itu memastikan.

“Tolong kirim ke rekening si A di Jawa segini, si B di kampung segini. Kemudian, yang lain biar untuk orang-orang yang sering lewat depan rumah kita,” putusnya.

Masyaalah, berasa ada Masu di depanku. Ya, Perempuan Satu Miliar itu ternyata ingin mendapatkan kepastian dana yang wajib dikeluarkan setiap tahun. Menjelang Idulfitri, saat hitungan satu tahun sudah tercapai, ada yang dua digit, ada yang satu digit, dana yang harus kutransfer ke rekening nama yang disebutnya.

Lega rasanya mengetahui hal itu. Padahal, sebelumnya, pikiranku sudah melayang jauh. Pikiranku memang suka melayang jauh, seperti saat aku mimpi mau ke Amerika. Walau aku lulus tes ujian masuk di Kampus Biru, saat lulus SMA, aku memilih kuliah di Jakarta. Aku memilih menjadi mahasiswa ikatan dinas di sana, aku punya mimpi mau ke Amerika.

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak order wa/me: 081266804830

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 010426

Views: 34

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *