Bab 6 Sedekah Seratus Juta
Semangat juangku yang terbentuk dari jauhnya jarak dari rumah ke SMA yang harus ditempuh dengan jalan kaki, ternyata berubah total dengan riuhnya Jakarta. Berebut untuk naik bus kota menjadi suatu perjuangan yang bukan hanya menyita waktu dan tenaga, melainkan membenturkan budaya ‘alon alon waton kelakon’ yang biasa kulakukan dengan ‘siapa cepat dia dapat’.
Suasana Yogyakarta yang adem ayem dengan suasana beringas kehidupan Jakarta, secara kontras telah menghabisi daya juangku, anak Jawa yang sok PD bermimpi ke Amerika. Opportunity Cost, pilihan yang satu dengan mengorbankan yang lain, ngluruk tanpo bolo, ijen tanpo rewang, dan jer basuki mowo bea, hilang tak berbekas. Pilih kuliah ke Jakarta daripada melanjutkan kuliah di Kampus Biru, merupakan pilihan opportunity cost yang kuambil.
Ngluruk tanpo bolo itu bagi orang Jawa bagai demo tanpa kawan. Begitu juga dengan ijen tanpo rewang, berjuang sendiri tanpa kawan sekampung. Sementara, jer basuki mowo bea yang mengajarkan setiap usaha perlu pengorbanan. Ketiga pegangan hidup yang menjadi semangat besar saat merantau dari Yogyakarta ke Jakarta untuk mengejar mimpi ke Amerika itu bagaikan kapas menerjang bola besi berjeruji. Hilang tak berbekas.
~~~
Masih jelas dalam ingatanku, dari lebih dua ribu peserta yang mendaftar pada test umum, terdapat pengumuman tertulis namaku pada urutan kelimapuluhan. Kemudian, diadakanlah tes psikologi sebelum tes terakhir berupa wawancara jika mampu lulus dari test psikologi. Ketika hari-H tes wawancara itulah terjadi satu peristiwa politik yang sulit kulupakan.
Pada saat tes psikologi, kami diminta menggambar enam buah pada enam buah kotak. Ada dua buah gambar yang masih teringat sampai saat ini. Ada gambar garis lengkung kubuat menjadi bibir. Ada gambar titik-titik, kubuat menjadi grafik yang menjadi sketsa tolok peluru.
Kupikir, itu dibaca oleh pewawancara dan membuat beliau marah ketika tes wawancara berlangsung.
“Kamu berasal dari mana? Kamu tahu dari mana ikut mendaftar tes di sini? Kamu jauh-jauh dari Yogyakarta, kalau kuliah di sini, dengan siapa kamu tinggal!” Dengan nada marah beliau membentak dan memukul meja.
Aku keluar ruangan tes wawancara dengan lesu.
Cerita-cerita kakak kelas yang sudah kuliah di situ bahwa peserta tes wawancara hari pertama pasti diterima, sedangkan yang ikut hari kedua belum pasti. Sudah tidak kudengar lagi, Kuputuskan untuk pulang ke Yogyakarta.
Sampai di Yogyakarta pun aku mencari informasi kampus yang memberikan beasiswa yang lain. Ikutlah, aku mendaftar ke tempat-tempat yang memberikan beasiswa itu.
Sampai suatu hari ada telepon dari Jakarta. Om yang bekerja di kopkamtib, Pak Domo, menelepon.
“Segera berangkat ke Jakarta,” kata beliau.
Aku baru teringat kalau alamat yang kupakai mendaftar kopkamtib. Aku juga baru teringat kalau waktu pengumuman tes psikologi aku berada di urutan ke-21.
Tanpa pikir panjang, aku pun tidak lagi menunggu hasil pengumuman sipenmaru dan langsung berangkat ke Jakarta untuk menembus Amerika. ‘Ijen tanpo rewang’, ‘nglurug tanpo bolo’, dan ‘jer basuki mowo bea’, menjadi pegangan perjuanganku.
Namun, Jakarta tidak hanya membutuhkan tekad, tetapi juga kesabaran, keuletan, kegigihan, dan kemampuan untuk beradapatasi yang lama-lama runtuh dari jiwaku karena satu dan lain hal.
Bagaimana mau ke Amerika kalau hanya berada di peringkat belasan?
Persahabatan tetap terjalin dengan berbagai suku bangsa di tanah air sewaktu kuliah di Jakarta karena pergaulan dengan teman-teman kuliah. Pergaulan dengan teman-teman sewaktu di SMA yang berasal dari Bandung, Jakarta, bahkan pernah ikut dengan bapaknya saat bertugas di Papua, serta tentu saja gelora panggilan Bung yang pernah kukeluarkan, masih dapat menempatkan diriku sebagai salah satu anak Indonesia.
Namun, memang ada yang merasa bahwa pengalamanku sehari-hari dari rumah ke kampus itu bukan fenomena Jakarta sesungguhnya. Jakarta yang hijau, bukan seperti Kalimati yang panas.
Suatu hari saat pulang kuliah ada yang mengajakku ke Karet. Ditunjukkannya Jakarta yang hijau bukan seperti situasi dan kondisi Kalimati, tempat saya naik turun bus kota jurusan Priok-Lapangan Banteng. Kadang, aku juga bermain dengan teman-teman di Gang Asem, belakang Kampus Otista.
Ada juga, aku sempat berkunjung ke tempat teman, yang tetangganya orang Jawa yang bekerja di WK, suatu perusahaan konstruksi besar di Jakarta saat itu. Sungguh, kehangatan yang sampai saat ini masih kurasakan.
Semangat teman-teman dari Jawa yang begitu hangat itu membawaku ke dunia lain dari sekadar berebut bus kota dan bergelantungan jika berangkat dan pergi kuliah. Suatu pemandangan yang diceritakan oleh teman kakakku ketika kami bertemu di bus kota, aku sedang tidur bergelantungan di bus. Lalu dia ceritakan hal itu kepada kakakku sewaktu di Yogyakarta.
Seringnya, aku pulang naik KA ekonomi dengan cara berada di antara gerbong-gerbong, yang penuh sesak dari Jakarta ke Yogyakarta kalau hari libur. Walaupun malam minggu berangkat ke Yogyakarta, malam Senin sudah harus naik KA lagi ke Jakarta. Buku-buku tes ujian masuk tidak pernah kutinggalkan setiap hari, bukannya buku-buku kuliah yang seharusnya kudalami.
Amerika pun sudah terhapus dari kamus.
Pilihanku kembali harus berjuang untuk mengikuti tes ujian masuk PTN. Beasiswa kuliah yang kudapat kugunakan untuk memulai hidup baru di Yogyakarta. Kuliah di Yogyakarta yang membuatku akhirnya bertemu Nety.
Perempuan manis, anak desa yang miskin, tetapi kini telah menjelma menjadi Perempuan Satu MMiliar itu sempat merasa menyesal karena niat untuk menghajikan ibunya tidak tersampaikan. Beliau meninggal sebelum sempat berangkat haji. Padahal, dia sudah mempersiapkan dana yang dibutuhkan untuk keperluan itu.
Suatu hari, kutawarkan kepadanya bahwa dia bisa saja berangkat naik haji atas nama ibunya. Aku pun bersedia menemani untuk berangkat haji lagi.
“Tapi, bagiamana dengan anak-anak?” tanya istriku.
Ya, si Sulung Ganteng dan si Cantik Bungsu, kedua anak kami, memang sudah beranjak dewasa.
“Kalau memang punya dana untuk mengajak mereka berdua naik haji, bagus juga. Anggap itu sebagai sedekahmu kepada anak-anak,” usulku.
“Betul juga, itu. Boleh juga usulmu, Mas,” katanya.
Itu berarti Nety membiayai tiga orang sekaligus untuk berangkat naik haji. Niatnya bersedekah patut diacungi jempol.
Itu sedekah seratus juta, tetapi bagaimana justru setelah dia bersedekah sampai seratus juta, kini sia dapat menjelma menjadi Perempuan Satu MMiliar? Masyaalah! Sungguh, aku tak habis pikir dengan hal itu.
Sedekah itu bagai kehilangan sesuatu yang berharga dari milik kita. Pada umumnya, orang yang kehilangan pasti merasa susah, bahkan bisa jadi menganggap hal itu sebagai musibah, seperti saat aku kehilangan ijazah SMA.
Kehilangan ijazah SMA membuat niatku untuk mendaftar kuliah di IKIP—walaupun sudah dua semester kuliah di Kampus Biru dengan harapan dapat menjadi guru matematika, sesuai dengan keahlianku— sirna. Lamunanku pun kembali melayang.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
Kontak order wa/me: 081266804830
*mjkr/ wi/ nf/ 030526
Views: 24








