Wahyudi yang masih terluka akibat serangan Adi Seruling Sakti membisu mendengar pertanyaan Danang, Sayidin Panotogomo. Namun, karena dia merasa ada yang masih harus diceritakan kepada orang lain, tentang kejadian munculnya petir di awan bergulung-gulung yang dicobanya untuk menurunkan hujan, maka Wahyudi merasa perlu ikut rombongan Ki Ageng Batman ke Kediri.
“Paduka, mohon izin, Wahyudi ingin mengikuti ayahanda Ki Ageng Batman ke Kediri. Hamba juga masih mengkhawatirkan keselamatan Ibu yang sampai saat ini belum ketahuan rimbanya. Mudah-mudahan, Ibu hamba bersama Putri Raisa, Ustaz Bondan Kaja, Putri Anya serta Pangeran Mustofa selamat. Kami akan berunding bersama, mencari cara supaya Salahuddin dapat menjalankan tugas Paduka dengan selamat, aman dan lancar. Insya Allah, Aamiin,” pinta Wahyudi.
“Aamiin. Baiklah, Wahyudi kalau itu memang keinginanmu. Apalagi, jasamu terhadap kami bertiga Pendekar Langit, Danang, Sayidin Panotogomo, Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur dan Abu Arang, sanagtlah besar. Tanpa pertolonganmu, kami bertiga mungkin saat ini sudah tidak lagi dapat menghirup udara bumi. Pertarungan kami bertiga yang saling mengunci, akibat rekayasa jahat Adi Seruling Sakti, dapat terbuka karena kadatanganmu pada saat yang tepat. Alhamdulillah. Sungguh tidak elok, kalau Rajamu tidak mau memenuhi permintaanmu. Untuk itu, kuizinkan, kamu ikut Eyang Ki Ageng Batman ke Kediri, untuk membantu kelancaran tugas Salahuddin,” sabda Raja Danang, Sayidin Panotogomo.
“Biarlah, kami bertiga istirahat di Kerajaan Madiun. Tampaknya dengan adanya Ratu Ana di istana, Kerajaan Madiun selalu aman. Insya Allah,” jelas Danang, Sayidin Panotogomo.
***
Sesampai di Kediri, rombongan Ki Ageng Batman, disambut oleh Bupati Kediri Bejo Cinekel. Tentu saja dengan rasa sukacita, Bupati Kediri Bejo Cinekel, beserta istrinya Putri Selendang Biru, serta Raja Slamet, beserta istri-istrinya, Mbak Ay Ming dan Miss Tami Zen, dan kedua putri mereka Putri Juwita dan Putri Ade yang dalam gendongan ibunya masing-masing menerima kedatangan Ki Ageng Batman, Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe, Wahyudi, Salahuddin, Jalal dan Tanjung. Namun, pada saat mereka semua sedang bersukacita untuk sesaat Ki Ageng Batman melihat ke seluruh ruangan.
Tiba-tiba Ki Ageng Batman bertanya kepada Raja Slamet.
“Met, di mana orang tua angkatmu, Dusmin dan Ijah? Kok, mereka tidak tampak di ruangan ini?”
“Mohon maaf, Bapak. Hari-hari ini Bapak Dusmin agak kurang sehat. Katanya sih memikirkan, Salahuddin yang ikut rombangan Bapak ke Madiun bersama Jalal dan Tanjung,” balas Raja Slamet, yang sebetulnya juga masih terluka, akibat serangan ajian Bandung Bondowoso dari Raja Danang, Sayidin Panotogomo serentak dengan Wahyudi saat terjadi kesalahpahaman di antara mereka dulu.
“Namun, sebentar biar saya, beritahukan kepada Bapak Dusmin dan Ibu Ijah, supaya mereka berdua dapat pula menuju ke pendopo ini,” tambah Raja Slamet.
Mendengar keterangan dari Raja Slamet, kalau Dusmin, bapaknya sakit, karena memikirkan dirinya, maka Salahuddin pun tanpa pamit segera mencari Dusmin dan Ijah, ibunya. Dia tahu kalau kedua orang tuanya, tinggal di ke rumah kecil di belakang rumah besar, kediaman Bupati Kediri, Bejo Cinekel. Begitu sudah keluar dari pendopo Bupati Kediri, Salahuddin pun terbang menuju rumah kecil itu.
“Ayah, Ibu, ini Salahuddin, datang menjengukmu,” kata Salahuddin langsung memeluk kedua orang tuanya, Dusmin dan Ijah.
“Alhamdulillah, kalau kamu masih selamat dan sehat, Salahuddin,” kata Ijah.
“Bapakmu, Dusmin, sakit karena terlalu memikirkanmu. Dia tidak mau makan, sejak kamu ikut pergi bersama Ki Ageng Batman ke Madiun. Dia selalu memikirkan keselamatanmu, Salahuddin,” lanjut Ijah.
“Ayah Dusmin. Ini Salahuddin, Ayah. Ayah tidak boleh begitu. Ayo kita bersenang-senang. Ayah Dusmin dan Ibu Ijah, harus bersenang-senang dengan Salahuddin,” kata Salahuddin sambil mengendong Dusmin dan Ijah keluar dari rumah kecil itu. Dusmin dan Ijah pun lalu dibawa terbang oleh Salahuddin. Kontan saja Dusmin dan Ijah terkejut, mereka bisa terbang seperti Ki Ageng Batman yang terbang dengan Perahu Surya bersama Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe. Sontak Dusmin teringat pada saat Ijah hamil, Dusmin memandang ke langit, seakan ingin seperti Ki Ageng Batman yang dapat terbang bersama istri-istrinya.
“Ijah, kita dapat terbang, Ijah!” seru Dusmin.
“Ya. Kita dapat terbang Dusmin. Kita terbang dengan Salahuddin, anak kita ….”
Tiba-tiba Ijah menangis. Ijah menangis karena bahagia, mereka tidak menyangka, pada saat usia mereka sudah tua, tetapi masih diberi kepercayaan Allah Rabbul Alamin, untuk memelihara bayi mereka, Salahuddin. Kini Salahuddin bahkan dapat membawa mereka terbang ke langit.
Melihat ibunya menangis, Salahuddin berpikir, kalau ibunya bersedih, lalu dia pun turun dari udara dan langsung membawa Dusmi dan Ijah ke pendopo Bupati Kediri.
“Pak Bupati Kediri, Bapak Ki Ageng Batman, mohon maaf, Salahuddin lancang membawa, Bapak Dusmin dan Ibu Ijah ikut dalam pertemuan di pendopo ini,” kata Salahuddin.
Melihat aksi hebat Salahuddin yang mampu membawa terbang ayah ibunya ke udara dan kemudian masuk ke pendopo Bupati Kediri hanya dalam sekejap, semua yang hadir di pendopo itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Salahuddin saat ini sudah mempunyai kesaktian yang hebat sekali. Salahuddin yang dianggap oleh Raja Slamet sebagai adik angkat karena dulu Raja Slamet sebelum menjadi raja, pernah diangkat anak oleh Dusmin dan Ijah, tentu saja menjadi paman Bupati Kediri, Bejo Cinekel karena Bupati Kediri itu adalah anak Raja Slamet dengan Mbak Ay Ming.
“Paman Salahuddin, tidak perlu sungkan begitu. Kita semua ini keluarga besar dari Eyang Ki Ageng Batman. Alhamdulillah, semua mau berkumpul di sini. Sebagai Bupati Kediri, saya sangat menghargai kepercayaan Eyang Ki Ageng Batman,” balas Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
“Tapi, anakku, Abu Arang kok tidak ikut dengan kalian?” tiba-tiba Miss Tami Zen menyela.
Mendengar pertanyaan Miss Tami Zen, tentang Abu Arang itu, Ki Ageng Batman menghela napas panjang.
“Abu Arang sekarang berada di istana Kerajaan Madiun. Insya Allah, dia aman dalam perlindungan Ratu Ana. Memang Abu Arang saat ini dalam keadaan terluka bersama Danang, Sayidin Panotogomo dan Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur, putra Bupati Kediri dengan Putri Selendang Biru,” jelas Ki Ageng Batman.
“Anak kita terluka, Raja Slamet!” seru Miss Tami Zen.
“Cucuku terluka, Kanda Slamet!” seru Mbak Ay Ming.
“Bagaimana kejadiannya, Ki Ageng?” tanya Putri Selendang Biru yang ingin tahu tentang anaknya, Bagus Tinukur, bagaimana bisa terluka bersama Raja Danang, Sayidin Panotogomo, serta Abu Arang.
“Kalau itu biar Wahyudi yang menjelaskannya. Dia yang tahu betul, bagaimana ketiga Pendekar Langit itu dapat bertarung dan terluka. Bahkan konon, menurut Raja Danang, Sayidin Panotogomo kalau Wahyudi tidak datang pada saat yang tepat, mereka bertiga bisa mati terbunuh. Alhamdulillah, mereka hanya terluka, tetapi itu semua gara-gara rekayasa jahat Adi Seruling Sakti.”
“Dialah sumber kekacauan itu. Sampai saat ini bahkan Eyang Putri kalian, Putri Biyan, Putri Raisa, Ustaz Bondan Kaja, Putri Anya dan Pangeran Mustofa yang tadinya berada di istana Kerajaan Matraman Raya pun, bagai lenyap ditelan bumi. Mereka semua tidak diketahui rimbanya,” jelas Ki Ageng Batman.
“Paman Wahyudi, mohon Paman dapat memberikan keterangan kepada kami tentang semua ini,” kata Bupati Kediri, Bejo Cinekel.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ wi/ nf/ 051225
Views: 80











