Raja Adi Seruling Sakti wong Solo 2 periode itu memasuki istana Kerajaan Matraman Raya bersama ibunya, Niki.
Niki dulu pernah menjadi kepala asisten rumah tangga istana Kerajaan Matraman Raya, saat Raja Adi Setrum 35.000 Megawatt menjadi raja Kerajaan Matraman Raya bersama permaisurinya Putri Raisa. Pasangan sejoli yang jatuh cinta sebelum mereka duduk di singgasana kerajaan Matraman Raya itu saling mencintai satu sama lain, justru saat Adi Setrum 35.000 Megawatt yang sebetulnya anak Ki Difangir dengan Putri Biyan, putri satu-satunya Baginda Raja Armando raja Kerajaan Matraman Raya, masih belum tahu kalau dialah, yang berhak naik tahta menjadi raja di Kerajaan Matraman Raya.
Ki Difangir yang sebelumnya dianggap musuh oleh Baginda Raja Armanda, karena nasihat Bunda Putri, ibunda Putri Biyan, akhirnya mengambil langkah seperti Erlangga.
Raja Armanda menyerahkan tahta kerajaan Matraman Raya kepada menantunya Ki Difangir setelah terjadi geger di istana Kerajaan Matraman Raya, dengan janji bahwa pada saatnya nanti, tahta kerajaan Matraman Raya akan diserahkan Ki Difangir kepada Adi Setrum 35.000 Megawatt, bayi hasil perkawinannya dengan Putri Biyan.
Qadarullah, Putri Biyan lari dari istana karena beda pendapat dengan Raja Difangir. Ki Difangir pun terlena dengan perempuan lain. Ada Miss Tami Zen, konsultan dari Jepang. Ada Permaisuri Mingset, mantan Permaisuri Baginda Raja Armanda.
Di saat Permaisuri Mingset hamil tua akibat hubungannya dengan Ki Difangir, di Istana Kwrajaan Matraman Raya muncul demo 212, pimpinan Raja Slamet. Ki Difangir terkena luka dalam, karena di belakang Raja Slamet ada orang besar, Baginda Raja Armanda.
Ki Difangir pun melarikan diri bersama Permaisuri Mingset, sampai dia meninggal dunia karena masuk ke dalam kolam. Ki Difangir kemudian dikenal sebagai Pangeran Sedo Blumbang.
Permaisuri Mingset bersumpah akan membalaskan dendam Ki Difangir dan orang yang terkena jebakan pesona Permaisuri Mingset akan diarahkan untuk membunuh Raja Slamet.
Tetapi saat Permaisuri Mingset berhasil membina Adi wong Solo 2 periode menjadi Adi Seruling Sakti, Putri Ming menugaskan Adi Seruling Sakti untuk merebut tahta kerajaan Matraman Raya, karena Adi Seruling Sakti adalah anak hasil hubungan gelap antara Raja Adi Setrum 35.000 Megawatt dengan Niki kepala asisten rumah tangga istana Kerajaan Matraman Raya.
Niki tahu bahwa Pujangga Halim adalah ayahanda Putri Raisa, permaisuri Raja Adi Setrum 35.000 Megawatt, yang tidak mampu memberikan keturunan, sehingga Niki pun berani mengganggu Raja Adi Setrum 35.000 Megawatt.
Raja Adi bahkan membuat surat perjanjian cerai dengan Putri Raisa dengan catatan bahwa jika Putri Raisa berhasil mempunyai anak dengan bersuami orang lain, maka anaknya akan menjadi raja di Kerajaan Matraman Raya. Ternyata setelah Putri Raisa menikah dengan Ustaz Bondan Kaja, mereka berdua mempunyai seorang putra laki-laki, yaitu Danang, Sayidin Panotogomo. Dengan begitu Danang Sayidin Panotogomo kemudian menjadi raja di Kerajasn Matraman Raya dan Pujanga Halim kakeknya menjadi pinisepuh yang berpengaruh besar di Istana.
Niki mengetahui hal itu, karena Niki pernah kecewa dengan Pujangga Halim pada saat belajar ajian Sastra Jendra Hayuningat Pangruwating Diyu secara diam-diam, Niki ketahuan oleh Pujangga Halim, bahkan dia sempat merapal ajian itu kepada Pujangga Halim, tetapi Pujangga Halim menghindar.
Oleh karena itu, begitu Raja Adi Seruling Sakti menerima permohonan Pujangga Halim untuk mengembangkan kegiatan Matraman Raya membaca menulis dan mengaji untuk mendukung kekuasaan Raja Adi Seruling Sakti, Niki langsung mempunyai prasangka buruk.
Bahkan Niki meminta Raja Adi Seruling Sakti untuk membuat TWK.
“TWK, apa itu itu TWK bunda?” Tanya Raja Adi Seruling Sakti.
“Tes Wawasan Kerajaan!” Tegas Niki.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 230126
Views: 85








