“WHAT’S? Maksud Kapten?” seru Sastro, dia terkejut mendengar Kapten Ade mau langsung ke bandara setelah sarapan.
“Tolong jaga baik-baik Cogito, di sini,” seru Kapten Ade, tanpa menjelaskan maksudnya, pulang lebih dulu.
“Waduh, bahaya, nih,” seru Sastro bingung.
“Enak saja, kau, Mas. Kemarin siapa yang ngajak aku ke Bali?” sergah Cogito, seolah minta pertanggungjawaban Sastro karena mendengar jawaban Sastro yang kurang meyakinkannya.
“Itu … itu.” Sulit bagi Sastro menjelaskan, kalau ide mengajak Cogito ke Bali itu dari Kapten Ade.
“Cash Bon dulu. Nanti setelah pulang, selesaikan semua urusan di kantor,” kata Kapten Ade, seolah tahu kegalauan Sastro, stafnya.
“Siap, Kapten,” seru Sastro penuh semangat.
***
“What’s? Mengapa Kapten Ade pulang duluan?” seru Pak Ning.
“Tidak tahu, Pak,” kata Pak Karyono.
“Saya juga hanya dapat japri dari Sastro,” tambah Pak Karyono.
“OK Oc. Saya akan jemput Kapten Ade di bandara,” tegas Pak Ning.
***
“Adabi!” seru Pak Ning.
“Ya, Pak,” jawab Adabi sambil berlari, takut kalau sampai terlambat, nanti Pak Ning marah-marah.
“Antar, Bapak ke bandara!” seru Pak Ning.
“Baik, Pak,” jawab Adabi sambil berlari lagi untuk mengambil mobil.
***
Pak Ning dengan semangat 45 akan menjemput Kapten Ade di bandara.
‘Kalau tidak sekarang, kapan lagi,’ pikir Pak Ning.
Kesempatan yang muncul saat Pak Ning dapat bertemu dengan Kapten Ade selalu terbuang. Waktu Kapten Ade datang ke rumah Pak Ning, Pak Ning kehilangan kesempatan mau mengenal Kapten Ade lebih dekat karena keburu Pak Karyono ciut mentalnya karena nada suara Pak Ning yang mengeras. Padahal saat itu Pak Ning hanya ingin menunjukkan gayanya di depan Kapten Ade, kalau Pak Ning ini orang yang dihormati orang. Pejabat setingkat Pak Karyono saja hormat kepada Pak Ning.
Kesempatan lain, saat Pak Ning ing pedekate dengan Kapten Ade adalah saat pesta pernikahan Nabilla dan Hari. Pak Ning sibuk mencari Kapten Ade untuk mengajaknya ngobrol. Ternyata Kapten Ade sudah keburu pulang. Pak Ning pun tidak menemukan Kapten Ade di pesta itu.
Dengan menjemput Kapten Ade di bandara, Pak Ning berpikir, itu merupakan kesempatan terbaik, baginya untuk dapat bertemu dengan Kapten Ade.
Apalagi Pak Ning mendapat informasi memang saat ini Kapten Ade masih lajang, setelah suaminya meninggal karena kecelakaan. Pak Ning pun menuju bandara
dengan hati yang membubung tinggi.
Saat Pak Ning menunggu di pintu keluar, rupanya dia terlambat. Pak Ning sempat melihat Kapten Ade sudah menuju ke arah taksi bandara. Pak Ning bahkan sempat mengingat plat nomor taksi tersebut. Tentu saja Pak Ning lalu menelepon Adabi untuk segera datang. Begitu Adabi datang dengan mobilnya, Pak Ning langsung masuk, lalu minta Adabi mengejar plat nomor taksi yang diingatnya, menuju Ring Road Utara.
Lama baru Adabi dapat melihat mobil dengan plat nomor itu, saat di lampu merah, sebelum masuk ke Ring Road Utara. Pak Ning pun meminta Adabi memacu mobilnya untuk mengejar mobil taksi yang dinaiki
Kapten Ade. Namun, begitu sudah keluar tol, di jalan Kaliurang, Pak Ning minta Adabi jalan agak pelan. Pak Ning ingin memastikan bahwa kalau nanti mobil taksi itu berhenti yang keluar adalah Kapten Ade, baru Pak Ning akan berkunjung ke rumahnya.
Begitu mobil taksi itu berhenti di perumahan, dan yang keluar dari mobil taksi adalah Kapten Ade, Pak Ning pun minta Adabi berhenti.
Pak Ning akan menunggu sampai Kapten Ade masuk rumah. Betul juga, Kapten Ade masuk ke rumah tepat di rumah mobil taksi itu berhenti. Pak Ning menyuruh Adabi
parkir di depan rumah Kapten Ade. Lalu Pak Ning pun turun, kemudian Pak Ning bersiap untuk mengetuk pintu rumah Kapten Ade.
Saat Pak Ning mengetuk pintu rumah Kapten Ade, ternyata pintu itu agak lama tidak ada reaksi.
“Assalamualaikum.” Kembali Pak Ning mengucap salam sambil mengetuk pintu. Tetap tidak ada jawaban.
Pak Ning tidak putus asa, diketuknya kembali pintu rumah Kapten Ade untuk ketiga kalinya sambil mengucap salam. Untuk beberapa saat Pak Ning menunggu pintu itu dibuka, tetapi ternyata tidak juga.
Akhirnya Pak Ning berserah diri, Pak Ning beranggapan Kapten Ade bisa jadi memang tidak mau menerima kedatangannya. Kapten Ade memang bukan jodohnya.
Sangat tidak sopan dan terasa arogan, kalau dia lalu memaksakan kehendak harus dapat menemui Kapten Ade. Lama Pak Ning melamun di depan pintu Kapten Ade.
Pada saat Pak Ning sadar kalau sudah melamun dan akan membalikkan badan, meninggalkan rumah Kapten Ade, tiba-tiba pintu rumah Kapten Ade terbuka: Waalaikumsalam,” sapa dari seorang wanita sambil membuka pintu rumah Kapten Ade.
“Alhamdulillah, Kapten Ade, kenalkan saya—” seru Pak Ning tidak jadi melanjutkan kat-katanya karena ternyata yang dilihatnya bukanlah Kapten Ade, tetapi seorang wanita setengah tua cantik berkerudung hitam, berpakaian serba hitam.
***
“Wow, besar sekali patung ini, ya, Hari?” seru Nabilla sambil berdiri di depan patung GWH. Hari hanya dapat tersenyum simpul melihat ulah Nabilla yang sangat bersemangat berada di depan patung GWH yang tinggi besar menjulang ke udara.
“Habis ini kita akan menuju ke mana, Bli Wayan?” tanya Nabilla kepada pegawai travel “G*H Tour” yang menemani mereka.
“Ke pantai Dream Land, Mbak Nabilla,” kata Wayan.
“Tapi nanti kita lewat komplek real estate dulu,” tambah Wayan.
“Apa yang menarik di pantai Dream Land, Bli Wayan?” tanya Nabilla.
“Di sana bisa main surfing, atau naik perahu pisang,” jelas Wayan.
“Surfing, ih takut, ah. Tapi perahu pisang apa pula itu?’ tanya Nabilla.
“Perahu bentuknya seperti pisang, dapat dinaiki ramai-ramai,” kata Wayan.
“Ramai-ramai, kami mau bulan madu. Ya, Hari, kita di sini kan mau bulan madu, bukan mau ramai-ramai,” seru Nabilla sambil menggandeng Hari menuju mobil
travel.
Hari ikut saja, dibawa Nabilla. Wayan pun sigap dengan setengah berlari, didahuluinya langkah Nabilla, begitu sampai di mobil, dibukakannya pintu untuk Nabilla.
Pada saat Nabilla dan Hari masuk ke mobil, Harmendo dan Fifin sampai di GWH.
***
“Siapa dia, Ade?” tanya Geulis sambil melihat seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu dari layar monitor. Rupanya posisi Pak Ning tertangkap CCTV di rumah Kapten Ade.
“Pak Ning, orang penting itu, Kak,” kata Kapten Ade.
“Kamu kenal, kan?” tambah Geulis.
“Pernah ketemu di rumahnya, Kak,” jelas Kapten Ade.
“Lalu mengapa, kau tidak bergegas menemuinya?” tandas Geulis.
“Aku masih kangen sama Kak Geulis,” kata Kapten Ade.
“Kamu bohong. Kamu tidak ingin menemuinya. Kalau begitu biar aku yang menghadapi lelaki itu. Mau apa dia kalau melihat perempuan tua yang sudah kayak uwuh seperti aku ini,” seru Geulis, sambil mengusap rambutnya yang sudah memutih. Sebagian rambut keritingnya itu pun berguguran dan menempel di bunga-bunga hiasan gaun hitam yang dipakainya.
“Pakai mukena dulu, Kak Geulis,” seru Kapten Ade.
***
“Ade, sedang istirahat. Mari silakan masuk,” sapa Geulis lembut.
“Terima kasih, boleh saya tahu, Mbak siapanya Kapten Ade?” tanya Pak Ning.
“Silakan duduk dulu. Mau dibuatkan minum apa? Kopi atau wedang uwuh?” tanya Geulis.
“Kopi … eh nggak m.. wedang apa tadi?” tanya Pak Ning.
“Wedang Uwuh,” jelas Geulis.
“Ya. Wedang Uwuh saja,” seru Pak Ning.
Lama Pak Ning menunggu Kapten Ade belum juga muncul. Namun, Pak Ning tetap bersabar. ‘Saat ini aku sudah di rumahnya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kalau perlu akan kulamar dia, nanti!’ pikir Pak Ning.
Saat Pak Ning melamun itulah, Geulis datang dengan membawa wedang uwuh.
“Ini masih panas. Nanti kalau sudah agak hangat, baru enak diminum. Mau Geulis temani minum? Oh ya siapa namanya? Dari tadi Geulis belum tahu namanya,” cerocos Geulis.
“Pak Ning. Panggil saja Pak Ning,” seru Pak Ning bangga.
“Masya Allah, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Dapat berkenalan dengan orang penting seperti Pak Ning,” seru Geulis.
“Geulis, janganlah sampai seperti itu kepada Pak Ning. Pak Ning ini lelaki tua yang biasa-biasa saja,” kata Pak Ning.
“Biasa-biasa saja. Tidak! Setiap lelaki yang sudah ketemu Geulis, harus menjadi lelaki myang luar biasa!” tegas Geulis.
“Maksud Geulis?” tanya Pak Ning.
Geulis pun memberikan cerita tentang “Jalan Yang Mendaki Lagi Sulit” kepada Pak Ning. Jalan untuk mendapat janji suci. Janji dari Illahi Robbi.
Pak Ning termenung mendengar cerita Geulis.
Namun, belum sempat Pak Ning memahami esensi yang dijelaskan Geulis,tiba-tiba Pak Ning dikejutkan oleh kata-kata Geulis.
“Kalau Pak Ning ingin mendapatkan Ade, itu hanyalah karena nafsu. Namun, kalau Pak Ning ingin menjalani “Jalan Yang Mendaki Lagi Sulit”, maka mengawini janda tua seperti Geulis, justru akan membuka pintu menuju janji suci itu,” bisik Geulis.
Pak Ning terpana melihat keterusterangan Geulis. Rontokan rambut putih Geulis yang masih menempel di hiasan bunga-bunga di gaun hitam Geulis, tampak oleh Pak Ning bagai rambut emas.
Pak Ning merasa hidupnya menjadi berbeda saat melihat Geulis.
“Menikah denganmu, kapan?” tanya Pak Ning, sambi menatap wajah Geulis yang memang tampak masih cantik dan putih itu, walaupun rambut keriting di dalam mukenanya sudah putih semua.
“Pak Ning serius?” tanya Geulis.
“Serius!” seru Pak Ning.
“Kita menikah besok!” tegas Geulis.
“Alhamdulillah, terima kasih, ya, Allah. Hamba-Mu yang hina ini, mendapatkan jodoh untuk meniti “Jalan Yang Mendaki Lagi Sulit”. Sungguh itu sangat berarti,” seru Pak Ning sambil tangan kanannya mau memegang tangan kanan Geulis.
“Eit. Tunggu dulu. Kita belum mahrom!” tegas Geulis.
***
“What’s? Kakek mau menikah! Besuk! Pasti dengan wanita keparat yang dulu ketemu Nabilla di rumah Kakek, Bu!” teriak Nabilla, saat diberi tahu Bu Lou, kalau Pak Ning mau menikah. Mendadak lagi.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 240226
Views: 40











