TAUBAT NABILLA – Part 12 ; _Gara Gara Harmendo_

Posted by : wartaidaman 01/12/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

 

Hari mulai kerja di kantor Pak Karyono. Hari bingung melihat orang-orang di kantor Pak Karyono sudah mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. Menjelang Zuhur, Hari dipanggil Pak Karyono ke ruangannya. Hari pun menghadap Pak Karyono.

“Kalau ingin bertanya sesuatu tentang di kantor ini, kamu bisa minta petunjuk pada Harmendo. Dia banyak menguasai bidang tugas di kantor ini. Nati kalau ada tugas-tugas khusus, baru kamu saya panggil,” kata Pak Karyono.

“Baik, Pak,” jawab Hari patuh.

Tiba-tiba hp Pak Karyono berbunyi. Ada telepon untuk Pak karyono dari seseorang. Pak Karyono pun, dengan cepat mengambil hpnya untuk menerima panggilan telepon.

“Sudah, Pak,” jawab Pak Karyono.

Pak Karyono tampak sangat hormat saat menerima telepon dari orang itu. Hari memperhatikan jawaban Pak Karyono, selain sudah, Pak, ya baik, Pak.

‘Begitu rupanya menjadi pejabat,’ pikir Hari.
Hari lalu melihat jam dinding di ruangan Pak Karyono, tampak oleh Hari, waktu sudah mendekati Zuhur, tetapi, Hari belum berani minta izin kepada Pak Karyono untuk salat Zuhur. Memang setelah itu terdengar suara orang mengaji. Bisa jadi suara itu muncul dari pengeras suara masjid. Begitu terdengar suara azan, Hari pun memberanikan diri minta izin kepada Pak Karyono untuk keluar ruangan.

Hari kemudian mencari masjid di kantor itu. Waktu Hari masuk ke masjid, azan belum selesai, sehingga Hari dapat mengetahui orang yang azan tadi. Lelaki berewok, tetapi rambutnya botak. Setelah azan selesai, Hari pun mendirikan salat Sunnah Tahiyyatul Masjid. Pada saat sujud Hari pun berdoa agak lama. Di saat sujud itulah Hari menyadari jika dirinya bagai debu di hamparan jagad raya dan berharap dapat bersandar kepada Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Duh, Hari bagai ingin bertemu dengan Allah Subhana Wa Ta’ala, pada saat sujud.

Selesai salat sunah, pada saat menunggu iqamah, Hari kembali berdoa. Selain pada saat sujud, saat azan dan iqamah adalah saat-saat yang mustajab untuk berdoa. Hari mencoba mengadu kepada Allah sambil menengadahkan tangan dia mendoakan kedua orangtuanya yang sudah meninggal, kemudian dia berharap mendapat petunjuk dalam menjalani kehidupannya ke depan dengan lebih baik.
Habis salat Zuhur Hari berzikir. Setelah berzikir, Hari pun melanjutkannya dengan salat Sunnah Rawatib. Selesai salat Hari merasa lega, dadanya pun lapang.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena ada yang protes di ‘kampung tengah’ bagian tubuh Hari.

Untuk sesaat Hari masih melihat lelaki brewok yang rambutnya botak yang azan tadi masih duduk di masjid.

Namun, Hari tidak menghiraukannya, dan langsung bergegas pulang ke rumah Nabilla untuk makan siang. Naik motor Nabilla membuat Hari dapat lebih cepat sampai ke rumah Nabilla.
+++

“What’s? Harmendo!” seru Nabilla.

Hari begitu polos saat ditanya Nabilla, kegiatan Hari di kantor Pak Karyono.

“Ya. Hari diberi tahu, Pak Karyono, kalau Hari perlu belajar kepada Harmendo, staf yang banyak menguasai bidang pekerjaan di kantor,” jelas Hari sambil makan.

“Pak Karyono itu juga orang penting, saat Hari diminta menghadap Pak Karyono di bel orang penting lainnya lama sekali, sampai Hari harus minta izin untuk salat karena azan di masjid sudah terdengar,” tambah Hari.

“Harus belajar sama Harmendo!” seru Nabilla.

“Ini tidak boleh dibiarkan. Apa Hari nggak tahu, siapa Harmendo itu?” sergah Nabilla.

“Astagfirullah. Nabilla, sabar dulu. Memang ada apa dengan Harmendo? Apakah Nabilla kenal dengan Harmendo?” seru Hari.

“Ini bukan urusanmu Hari. Biar Nabilla yang bereskan Harmendo!” seru Nabilla sambil menelpon seseorang menggunakan Hpnya.

“Ayah!” seru Nabilla. Rupanya Nabilla menelpon ayahnya, Pengelana.

“Mengapa Hari harus belajar bekerja dengan Harmendo? Siapa yang menyuruh Hari belajar dengan Harmendo?” teriak Nabilla.

Hari hanya melongo, melihat reaksi Nabilla yang begitu emosional setelah mendengar ceritanya tentang Harmendo. Terlihat Nabilla tidak tahan mendengarkan suara telepon di seberang sana.

“Pokoknya Nabilla nggak mau tahu, jangan sampai Hari harus belajar bekerja dengan Harmendo. Ayah tahu kan. Harmendo dengan istrinya Fifin yang nggak bisa masak itu, kan sering nunggak sewa rumah kita. Entah apa kerja Harmendo di kantor itu, sampai harus bikin bubur ayam pula untuk senam pagi di kantor. Sudah itu sering pula Harmendo itu pinjam uang untuk modal masak lontong pecel. Di kantor saja Harmendo itu bawa istrinya untuk bantu edarkan sarapan lontong pecel,” cerocos Nabilla.

Hari terkejut, ceritanya tentang Harmendo di kantor, dapat menjadi masalah besar bagi Nabilla.

“Lagian Pak Karyono itu, kok, nggak ada hormatnya sama Hari. Sudah azan pun, Hari masih menunggu dia menerima telepon orang penting. Jangan-jangan Ayah yang telepon Pak Karyono waktu itu!” seru Nabilla.

“Nabilla nggak terima, Hari diperlakukan seperti itu!” sergah Nabilla.

‘Astagfirullah. Ada apa pula, Nabilla ini, kok sampai nama Pak Karyono dibawa-bawa pula dalam masalah ini?’ pikir Hari.

“Kalau bukan Ayah, lalu siapa? Siapa yang berani nelpon Pak Karyono lama-lama!” sergah Nabilla.

“Nggak tahu? Ayah jangan bohong!” lantang Nabilla.

“Kalau Ayah nggak bisa bantu Hari, Nabilla akan minta bantu Kakek selesaikan urusan Hari di kantor,” tambah Nabilla.

Hari sungguh sangat menyesal telah menceritakan secara jujur dan terus terang tentang pengalamannya di kantor kepada Nabilla. Hari justru khawatir, urusan Hari di kantor menjadi semakin runyam karena reaksi Nabilla yang sangat berlebihan kepada Harmendo, apalagi kepada Pak Karyono.

“Baik, kalau Ayah janji. Nabilla mau pegang janji Ayah, tapi kalau begitu, Hari tidak perlu masuk kantor dulu, sampai kami terima ijasah S1 dan SK CPNS Hari. Untuk apa mendapat SK sebagai tenaga Honorer, kalau hanya disuruh-suruh menjadi kacung orang ‘catering’,” seru Nabilla.

“Hari besuk kamu nggak usah masuk kantor dulu!” seru Nabilla.

“Nabilla … ini,” tergagap Hari menjawab perintah Nabilla.

“Urutkan punggungku, Hari. Keras sekali, habis Nabilla nelepon Ayah tadi,” seru Nabilla.

Hari termangu, seolah tidak percaya dengan yang baru saja terjadi.

“Mas Hari, tidak pedulikah, lihat Nabilla capek, Honey?” desah Nabilla.

Hari tidak dapat berpaling.
+++

“Ayah Pengelana yang menelpon saya, waktu Hari sedang ada di depan saya,” seru Pak Karyono.

“Astagfirullah. Lalu mengapa Hari harus belajar bekerja dengan Harmendo, Pak Karyono?” tanya Pengelana.

“Itu juga perintah Pak Ning, Ayah Pengelana,” jelas Pak Karyono.

“Subhanalah, tapi Nabilla mengira saya yang mengatur semua itu, Pak Karyono. Kan, Nabilla tahunya yang aktif berurusan dengan kantor Pak Karyono, saya. Kalau Ayah, kan sudah lebih sering main burung dan berkebun jagung. Jadi Nabilla marah-marah dengan saya,” jelas Pengelana.

“Sekarang ini, Nabilla tidak ingin Hari masuk ke kantor Bapak, kalau ijasah dan SK CPNSnya belum diterima. Bagaimana ini, Pak Karyono?” tambah Pengelana.

“Insya Allah, kalau itu bisa diatur. Nggak apa-apa. Tapi kalau yang lain-lain, coba Pengelana konsultasi dulu ke Ayah Anda,” jelas Pak Karyono.
+++

“Ada apa lagi, Karyono?” seru Pak Ning.

“Nabilla marah-marah, Pak. Soal Hari. Pengelana pun pusing dibuatnya. Tadi banyak bertanya dengan saya,” lapor Pak Karyono.

“Pengelana itu kan belum tahu, Pak Ning ini ring dalam Madam. Apalagi Nabilla … haha,” tawa Pak Ning.

“Siap, Komandan,” jawab Pak Karyono.

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 011225

Views: 19

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *