“APA maksud Ayah, mengondisikan Hari di kantor Pak Karyono seperti itu?” tanya Pengelana saat menghadap Pak Ning.
“Kau urus saja proyek! Nggak usah ikut campur urusan Hari!” sergah Pak Ning.
“Begini, Ayah. Nabilla marah besar. Hari harus belajar bekerja dengan Harmendo. Lalu Ayah, pernah pula ngobrol lama dengan Pak Karyono yang sedang minta Hari menghadap. Akibatnya Hari harus lama menunggu, Pak Karyono selesai bicara dengan Ayah,” jelas Pengelana.
“Nabilla minta Hari tidak usah masuk kerja dulu, kalau hanya sebagai tenaga Honorer. Nabilla mau, Hari masuk setelah ijasah S1 dan SK CPNSnya keluar. Tapi itu tidak jadi masalah besar bagi Ayah karena yang dituduh mengkondisikan Hari di kantor Pengelana,” tambah Pengelana.
“Kalau Nabilla tahu, itu semua kemauan Ayah. Ayah rasakan saja. Kalau Nabilla marah sama Ayah,” kata Pengelana.
“Oh, No. Jangan sampai Nabilla marah kepadaku,” tolak Pak Ning.
“Urus Nabilla! Nabilla itu anakmu!” sergah Pak Ning tiba-tiba.
“Nabilla itu cucu Ayah,” seru Pengelana.
“Assalamualaikum.” Pengelana pun pamit, meninggalkan Pak Ning di ruang tamu ayahnya itu.
+++
“Zahra, bagaimana kalau sebelum wisuda, kita pesiar ke Bali?” tanya Sidiq.
“Maksudmu, kita jalan-jalan ke Bali, berdua, begitu?” seru Zahra.
“Ya, kalau Zahra mau ajak kawan cewek untuk nemani, boleh,” jawab Sidiq, buru-buru untuk meyakinkan Zahra, supaya dia mau diajak pesiar ke Bali.
“Bagaimana kalau kita ajak Auria?” usul Zahra. “Bagus itu. Aku setuju saja,” kata Sidiq mengalah.
“Kalau begitu, ayo kita cari Auria. Biar Zahra yang membujuk dia untuk ikut ke Bali,” cepat Zahra mengambil keputusan.
“Assalamu’alaikum,” rupanya Auria sudah berada di depan pintu indekost Zahra yang terbuka. Zahra sengaja tidak menutup pintu saat hanya berdua dengan Sidiq.
“Waalikumsalam. Masuk Auria. Alhamdulillah. Angin apa yang membuatmu kemari?” seru Zahra gembira, melihat sahabatnya yamng sedang dibicarakan datang.
Zahra pun menceritakan rencana Sidiq untuk pesiar ke Bali, dan akan mengajak Auria.
“Aku mau, tapi …,” kata Auria.
“Tapi, apa Auria?” tanya Zahra.
“Ajak juga Reza … hehe,” kata Auria sambil mencubit lengan Zahra. Zahra pun memeluk Auria. Namun, kepalanya memandang Sidiq sambil memberi kode dengan mengacungkan jempolnya.
“Ok Oc, kita ajak Reza.” Sidiq pun tidak dapat mengelak.
“Tapi Auria ngomong sendiri, ya, sama Reza,” tambah Sidiq.
“Bagaimana caranya, ya. Masak sebagai perempuan, aku mengajak Reza. Lagian Reza akhir- akhir ini sering bersama Gie,” kata Auria.
“Zahra percaya, Auria bisa mengatur dua pemuda itu,” seru Zahra sambil mencubit pipi Auria.
“Sidiq, calon istrimu ini, kalau sudah mau jadi kayak Nabilla, deh,” celoteh Auria.
***
“Apa, Kek? Liburan Bulan Madu?” tanya Nabilla riang gembira, mendengarkan telepon dari Pak Ning
sambil masih berselimut.
“Udah tinggal berangkat saja. Ke mana bulan madunya, Kek?” tanya Nabilla.
“Bali, Lombok, seminggu. Alhamdulillah. Kakek ini benar-benar sayang sama Nabilla, nggak seperti Ayah,” seru Nabilla.
“Hari!” teriak Nabilla ke arah kamar mandi dalam. Hari yang sedang mandi di kamar mandi pun gelapan mendengar Nabilla memanggilnya dengan nada begitu keras.
“Hari!” teriak Nabilla lagi.
“Ya. Aku belum pakai handuk,” kata Hari dari dalam kamar mandi. “Hari!” teriak Nabilla lagi.
Hari pun segera keluar dari kamar mandi dalam, bergegas mendekati Nabilla sambil memakai kimono yang belum terlalu kuat mengikatnya karena buru-
buru.
“Ya. Nabilla,” kata Hari berdiri di dekat ranjang pengantin mereka.
“Duduk dekat Nabilla sini,” bisik Nabilla.
Hari pun lalu duduk di dekat Nabilla.
“Kita akan berbulan madu ke Bali dan Lombok, seminggu,” bisik Nabilla sambil memeluk Hari.
***
“Gie, ayo ikut ke Bali dari pada menung-menung, nunggu wisuda!” ajak Reza, di dekat Auria.
“Ke Bali, nggak masalah. Dengan siapa saja, mau pergi ke Bali?” tanya Gie.
“Sidiq, Zahra, Auria, dan kita,” kata Reza.
“Wah rame, ayolah. Naik apa kita ke sana?” seru Gie.
“Ayolah, kita ke rumah Zahra, siapa tahu Sidiq belum pulang jadi kita dapat berunding langsung,” kata Auria.
***
“Mengapa harus sewa mobil?” kata Gie.
“Kalau naik bus, nanti di sana, kita tidak ada kendaraan untuk pergi ke tempat wisatanya,” kata Sidiq.
“Bagaimana kalau kita pinjam mobil ayah Nabilla?” usul Gie.
“Pinjam mobil Ayah Nabilla … bagus juga itu,” kata Sidiq.
“Zahra, yuk, kita berdua ke rumah Pak Pengelana,” ajak Sidiq.
“Rame-ramelah, masak berdua saja!” seru Zahra.
“Ok Oc, besuk pagi kita rame-rame ke rumah Pak Pengelana,” kata Sidiq.
***
“Cogito, bagaimana kalau kita besuk jalan-jalan ke Bali?” tanya Sastro kepada Cogito, di sela-sela dia rapat dengan Pak Karyono dan Kapten Ade di Cogito Shop.
“Kita? Jalan-jalan ke Bali. Lu aja kali!” sergah Cogito.
“Ini serius, Kapten Ade yang mengajak Cogito,” bisik Sastro.
“What’s? Kapten Ade yang ngajak. Serius ini?” tanya Cogito.
“Serius,” bisik Sastro.
“Ok Oc. Alhamdulillah, jadi pula, kamu pergi ke Bali Cogito,” kata Cogito.
Rupanya diputuskan dalam rapat, bahwa Tim Batam Group harus mengawal acara Bulan Madu Nabilla dengan Sidiq. Lalu Kapten Ade minta Sastro mengajak Cogito biar Sastro bersemangat.
***
“Nabilla akan berangkat bulan madu ke Bali dan Lombok, Yah,” kata Bu Lou kepada Pengelana, saat sarapan pagi.
“Bulan Madu? Ke Bali dan Lombok? Bagaimana mereka bisa begitu saja berencana bulan madu tanpa berunding dengan kita, Lou?” tanya Pengelana.
“Ah, kayak Ayah nggak tahu saja. Siapa lagi kalau bukan Pak Ning, Kakek Nabilla yang mengatur semua itu,” jelas Bu Lou.
“Satu langkah lagi, Ayah terlambat menangani Nabilla,” desah Pengelana.
“Sabar, Yah. Bagaimanapun Nabilla masih lebih senang tinggal di sini bersama kita, orang tuanya. Bukan tinggal di rumah kakeknya,” bisik Bu Lou.
“Lou, punggungku sakit. Tolong dikerok sedikit,” desah Pengelana sambil berdiri menuju kamar.
“Ah, Ayah ada-ada saja,” seru Bu Lou sambil melempar tisu, setelah menutup makanan dengan tudung saji. ‘Baru saja selesai sarapan!’ geram Bu Lou dalam hati. “Tapi berarti aku masih cantik, ya?’ pikir Bu Lou.
“Tampak merah kan, Lou?” kata Pengelana.
“Nggak ada yang merah itu, bagaimana?” kata Bu Lou.
“Kalau begitu, kamu saja yang kubikin ‘merah’,” bisik Pengelana, lalu membalikkan badan dan merengkuh Bu Lou ke dalam pelukannya.
“Ibu!” Tiba-tiba Nabilla berteriak di ruang makan.
“Tuan Putri Nabilla manggil, tuh,” bisik Bu Lou, sebagai istri yang taat, tidak berani melawan keinginan suaminya. Namun, Bu Lou hanya mengingatkan kalau Nabilla sedang mencari dirinya. Mendengar perkataan Bu Lou, Pengelana pun menunda hasratnya yang sudah memuncak. Dilepaskan Bu Lou dari rengkuhannya.
***
Pada saat Nabilla dan Hari mau berangkat ke air port, Sidiq berlima dengan Zahra dan kawan-kawannya bertamu ke rumah Pengelana.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 280126
Views: 43








