
WARTAIDAMAN.com
Dr.H.M. Suaidi,M.Ag.
Kaidah al ‘adatu muhakkamah (اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ ). Yang artinya sebuah adat kebiasaan masyarakat, bisa dijadikan sebagai sandaran hukum. Apabila suatu masyarakat menilai sesuatu itu baik, sopan, maka itu bisa dijadikan sebagai sandaran hukum selama tidak bertentangan dengan syariat
Ada dua diksi yaitu al-‘urf dan al-adat, yang sebenarnya artinya sama, menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan tersebut diulang sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Bagaimana definisi adat atau ‘urf tersebut, di sini saya tengahkan definisi dari al-‘urf tersebut menurut Imam al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat.
العرف هو ما استقرت النفوس عليه بشهادة العقول و تلقته الطباءع بالقبول وهو حجة أيضا لكنه أسرع إلى الفهم وكذا العادة
Sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dilakukan oleh pribadi-pribadi dengan didasari akal sehat dan watak-watak yang benar dengan diterima, dan ia termasuk hujjah….’
Dalam tradisi masyarakat Jawa, Lebaran Ketupat adalah simbol kebersamaan dengan memasak ketupat dan mengantarkannya ke sanak saudara terdekat.
Beberapa sumber menyebutkan, tradisi ini diperkenalkan pertama kali ke masyarakat Jawa oleh salah satu wali Allah, yaitu Raden Mas Syahid atau dikenal dengan Sunan Kalijaga. Saat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi kupat menjadi dua istilah. Pertama, ba’da Shaum (setelah puasa), masyarakat melaksanakan salat Idulfitri dan melakukan silaturahmi. Kedua, ba’da Kupat (setelah Lebaran) atau 7 hari setelah Idul Fitri.
Lebaran ke 5 hampir setiap rumah di Jawa terlihat menganyam daun kelapa dalam bentuk ketupat yang akan dimasak kembali untuk dibagikan kepada kerabat terdekat. Sunan Kalijaga saat itu membawa ajaran puasa 6 hari di bulan Syawal yang diajarkan untuk umat Islam. Tradisi Lebaran Ketupat ini sudah turun-temurun sejak abad ke-15.
Di Madura, Jawa Timur, Lebaran Ketupat disebut dengan Tellasan Ketupat. Momen ini merupakan puncak Lebaran saat Idulfitri, di mana warga Madura dapat menuntaskan silaturahmi keluarga yang belum usai saat Idulfitri. Adapun hidangan utamanya yaitu ketupat dengan berbagai bentuk masakan khas Madura.
Menurut filosofi Jawa, ketupat ini memiliki makna khusus. Dr. Fahruddin Faiz, seorang dosen Aqidah Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengatakan, Sunan Kalijaga menciptakan istilah ketupat atau dalam bahasa Jawa kupat.
Ketupat ini memiliki makna khusus, ada kualitas individual, kualitas sosial, dan kualitas spiritual, kata Fahruddin.
Kupat adalah singkatan dari ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Artinya, orang yang berhari raya adalah orang yang sadar memiliki banyak kesalahan, sehingga ada momen saling bermaafan dan bersilaturahmi.
Kupat juga bisa diartikan dengan laku papat, yang berarti empat perbuatan, baik lahir maupun batin. Laku papat berdasarkan lahir ialah takbir, zakat, salat Id, dan silaturahmi. Adapun berdasarkan batin, terdapat empat istilah yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Kemudian, leburan yaitu jangan lupa dosa-dosa sesama harus dilebur atau dituntaskan. Di sinilah saat saling memaafkan,
Adapun puncaknya yaitu laburan, menjernihkan hati dengan simbol kesucian. Idulfitri itu adalah saat kembali fitri atau suci.
Ketupat bungkusnya janur atau daun kelapa yang masih muda. Janur itu singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati. Keempat makna tadi akan bermakna jika dibungkus dengan cahaya sejati. Artinya, orientasinya adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Kemudian, leburan yaitu jangan lupa dosa-dosa sesama harus dilebur atau dituntaskan. Di sinilah saat saling memaafkan,
Adapun puncaknya yaitu laburan, menjernihkan hati dengan simbol kesucian. Idulfitri itu adalah saat kembali fitri atau suci.
Ketupat bungkusnya janur atau daun kelapa yang masih muda. Janur itu singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati. Keempat makna tadi akan bermakna jika dibungkus dengan cahaya sejati. Artinya, orientasinya adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Muga bermanfaat,dan menghargai Kearifan lokal di Nusantara.
*aw/ pjmi/ wi/ nf/ 030425