Beranda / SYIAR HIJRAH / MENOLONG ORANG LAIN ADALAH SALAH SATU MANIFESTASI SHOLAWAT KEPADA NABI SAW (Arti Hakikat Sholawat)

MENOLONG ORANG LAIN ADALAH SALAH SATU MANIFESTASI SHOLAWAT KEPADA NABI SAW (Arti Hakikat Sholawat)

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Oleh: Amir Kumadin

 

Definisi Sholawat Menurut Para Ulama Ahli Tafsir

Untuk menelaah arti hakikat sholawat kepada Nabi Muhammad saw, maka kita mesti merujuk pada firman Alloh berikut ini:

“Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan (kepadanya)”, (QS. Al-Ahzab [33]: 56).

Masih banyak orang keliru bahkan fatal dalam memahami arti hakikat sholawat dalam ayat tersebut.

Seorang ustadz di salah satu forum pengajian bilang, “Alloh saja bersholawat kepada Nabi saw, masa kita tidak mau bersholawat kepadanya?! Seharusnya kita sebagai ummatnya harus lebih greget dan getol lagi sholawatnya kepada beliau”.

Mungkin maksudnya untuk memotivasi jamaahnya agar gemar dan selalu bersholawat, tetapi pernyataan tersebut adalah fatal. Karena seakan-akan Alloh berdoa kepada diri-Nya sendiri, atau seakan-akan Alloh dan para malaikat itu bersholawat kepada Nabi Muhammad sama seperti kita bersholawat kepada beliau.

Mayoritas ulama tafsir dari dulu hingga sekarang, dalam memahami arti sholawat dalam ayat di atas, secara general bergantung pada subyeknya. Beda subyek maka beda pula artinya.

Arti Alloh bersholawat kepada Nabi Muhammad saw tidaklah seperti apa yang dikatakan oleh oknum ustadz di atas, melainkan bermakna bahwa Allooh menambah rahmat, berkah dan cinta-kasih sayang-Nya kepada Nabi saw.

Dan arti para malaikat bersholawat kepada Nabi saw itu bermakna bahwa para malaikat mendoakan ampunan kepada Allooh untuk Nabi saw.

Beda lagi dengan manusia, kita sebagai ummatnya, dalam bersholawat kepada Nabi saw, yakni memiliki makna memberikan salam penuh penghormatan, memuji dan berterimakasih, serta cinta kepadanya.

Ini artinya, kita bukan meminta doa kepada Nabi saw, bukan mengkultuskan, dan bukan pula menyembahnya, melainkan kita berdoa, memohon kepada Alloh swt agar Alloh *”menambahkan”* rahmat, berkah, dan cinta-kasih sayang-Nya kepada Nabi saw.

Yakni, seperti dalam Redaksi sholawat berikut ini,

Alloohumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad.

“Ya Allooh, tambahkanlah rahmat, berkah, dan kasih sayang kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad”.
(Bisa tidak dengan kata “sayyidinaa”).

Maksud dan Tujuan Bersholawat

Maksud dan tujuan kita bersholawat kepada Nabi Muhammad saw adalah agar kita mendapatkan ridho-Nya dan selamat dunia-akhirat, yakni antara lain:

👉Sebagai sebuah cara kita untuk taat kepada perintah Allah seperti dalam ayat 56 suroh Al-Ahzaab [33].

👉Sebagai sebuah cara kita untuk mendapatkan rahmat, berkah, dan keselamatan dari Alloh swt di dunia dan di akhirat kelak.

👉Sebagai sebuah cara kita untuk mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW atas izin-Nya di yaumil qiyamah nanti.

👉Dan sebagai sebuah cara kita untuk mendapatkan kebaikan dan rahmat bagi diri sendiri (bagi orang yang bersholawat). Bahkan siapa yang bersholawat kepada Nabi saw satu kali, maka Alloh akan balas 10 kali lipat kebaikan di dunia dan di akhirat.

Nabi saw bersabda:

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan adalah doa yang akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang diutus. Setiap kali dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus tersebut akan berucap, ‘Amin dan bagimu juga seperti itu”, (HR. Muslim).

Dan Alloh swt berfirman:

“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri”, (QS. Al-Isro’ [17]: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa segala amal perbuatan akan kembali manfaat atau mudaratnya kepada pelakunya.

Arti Hakikat Sholawat

Seperti telah diungkapkan di atas, bahwa perintah Alloh agar kita bersholawat kepada Nabi saw adalah perintah agar kita memberikan salam penuh penghormatan, memuji dan berterimakasih, serta mencintainya atas jasa-jasanya yang sangat besar kepada kita umatnya, terutama jasa yang menjadi sebab kita telah menjadi muslim.

Makna dibalik perintah itu adalah kita harus meneruskan perjuangan (dakwahnya) dan harus mengikuti (mentaati) apa yang diajarkannya kepada kita.

Karena bukti penghormatan, terimakasih, dan cinta kita pada Nabi saw adalah dengan meneruskan, mengikuti, dan mentaati apa yang telah diperjuangkan dan diajarkan olehnya kepada kita.

Artinya, saat dimana kita:
sedang menjalankan ibadah ritual,
sedang berjuang di jalan yang benar,
sedang senyum, salam dan menyapa orang lain,
sedang ridho, syukur, sabar,
sedang jujur, bertanggung jawab, dan adil,
sedang sedekah dan menolong orang lain,
sedang mencintai anak yatim dan fakir miskin, yaitu dengan menyantuni dan memeliharanya,
dan sedang bermoral dan berbuat baik dan benar lainnya,

MAKA pada saat yang sama, berarti hakikatnya kita sedang bersholawat kepada Nabi saw.

Demikian juga, berlaku hukum sebaliknya, saat dimana kita sedang mencuri barang orang lain (menzalimi orang lain), sedang berbohong, sedang berperilaku amoral dan melakukan keburukan dan kebatilan lainnya,

MAKA pada saat yang sama, berarti hakikatnya kita sedang merendahkan, menghina, mengingkari, membenci, memusuhi, mengabaikan, cuek, dan egois kepada Nabi saw.

Dan pada saat yang sama juga, berarti hakikatnya kita sedang tidak bersholawat kepada Nabi saw.

Afirmasi Sholawat Universal

Risalah dan ajaran Islam yang dibawa Nabi saw ditujukan dan berlaku, bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk seluruh manusia hingga akhir zaman.

Dan berpijak pada pembeberan di atas, pada definisi hakikat sholawat di atas, sehingga saat dimana manusia, siapapun dia, apapun latar belakang agama, ras, etnis, dan bangsanya, sedang menolong orang lain, sedang bermoral, atau sedang berbuat baik dan benar seperti telah disebutkan di atas, maka pada saat yang sama, berarti hakikatnya dia sedang menghormati, memuji, dan mencintai Nabi Muhammad saw, dan pada saat yang sama juga, berarti hakikatnya dia sedang bersholawat kepada Nabi saw, meskipun dia sendiri tidak menyadari, tidak mengetahui, tidak menyukai, dan mengakuinya.

Kemudian, apakah sholawat dari orang-orang non-muslim itu diterima atau tidak oleh Alloh, Robb seluruh alam, kita tidak tahu, bukan urusan kita, walloohu a’-lam bish-showaab.

 

 

 

 

 

*phofmu/ wi/ nf/ 220326

Views: 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *