Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.
Mursyid sangat penting dalam thareqat karena ia adalah pemimpin spiritual yang membimbing murid dalam perjalanan menuju Allah (Tuhan), bertindak sebagai perantara (wasilah), menentukan latihan spiritual (seperti dzikir, suluk, khalwat), memastikan pengamalan tarekat benar, dan mencegah penyimpangan dari syariat, sehingga tanpa mursyid, tarekat tidak akan berjalan efektif atau bahkan mustahil untuk mencapai tujuan spiritualnya.
Peran dan Fungsi Utama Mursyid:
Pembimbing Spiritual (Murabbi): Memimpin murid secara langsung dalam perjalanan rohani menuju Allah, berbeda dengan ustadz biasa yang fokus pada ilmu fikih.
Penentu Praktik Tarekat: Menentukan jenis dan cara pelaksanaan dzikir, suluk, khalwat, dan latihan spiritual lainnya yang sesuai bagi muridnya.
Wasilah (Perantara): Menjadi jembatan spiritual antara murid dan Tuhannya, memastikan koneksi spiritual berjalan benar.
Penjaga Syariat: Mengawasi kehidupan lahiriah murid agar tidak menyimpang dari syariat Islam dan terjerumus maksiat.
Penilai Pengamalan: Menilai apakah amalan spiritual murid sudah benar atau tidak, memberikan bimbingan korektif.
Penerus Warisan: Meneruskan ilmu dan bimbingan dari mursyid sebelumnya, memastikan kelangsungan ajaran thareqat.
Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata thariqah dalam konteks yang berbeda, namun semuanya mengarah pada satu tujuan yang sama, yakni memandu manusia menuju kebenaran dan kedekatan dengan Allah.
Dalam Surat Al-Jinn ayat 16
وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ
Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup
Imam Baghawi menjelaskan makna ( وان لو استقامواعلى الطاريقة) , yaitu jika mereka tetap berada di jalan kebenaran, iman, dan petunjuk, maka mereka akan menjadi orang yang beriman dan taat. Menurut Muqatil, ayat ini diturunkan untuk orang-orang kafir Quraisy di Makkah setelah tujuh tahun mengalami kekeringan. Muqatil menyebutkan bahwa jika mereka beriman, Allah akan melimpahkan rezeki kepada mereka di dunia, memberikan kekayaan yang berlimpah, serta kehidupan yang nyaman.
Istilah ‘air yang melimpah’ adalah metafora untuk berbagai kebaikan dan rezeki, bukan hanya hujan, tetapi juga segala bentuk karunia dan keberuntungan.
Tharīqah adalah jalan yang dilalui oleh orang sufi dalam perjalanannya menuju Tuhan. Tharīqah digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pada syarī‘ah, sebab jalan utama disebut syari‘ sedangkan anak jalan disebut tharīq. Kata ini terambil dari kata tharq yang di antara maknanya adalah mengetuk seperti dalam ungkapan tharq-ul-bāb yang berarti mengetuk pintu.
Cara beribadah seorang sufi disebut tharīqah karena ia selalu mengetuk pintu hatinya dengan dzikrullāh atau mengingat Allah. Cara beribadah semacam ini oleh Nabi s.a.w. disebut dengan tharīqah ḥasanah (cara yang baik). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imām Aḥmad ibn Ḥanbal dalam musnadnya dengan perawi-perawi tsiqat (dipercaya), Nabi s.a.w. bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيْقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيْلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اُكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيْقًا حَتَّى أَطْلَقَهُ أَوْ أَكْفَتَهُ إِلَى تَعْلِيْقِ شُعَيْبِ الْأَرْنَؤُوْطِ (صحيح و هذا إسناد
Sesungguhnya seorang hamba jika berpijak pada tharīqah yang baik dalam beribadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan (oleh Allāh s.w.t.) kepada malaikat yang mengurusnya: “Tulislah untuk orang itu pahala yang sepadan dengan amalnya apabila ia sembuh sampai Aku menyembuhkannya atau mengembalikannya kepada-Ku”.” (Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, juz 2, halaman: 203).
Ungkapan Tharīqah ḥasanah dalam hadits tersebut menunjukkan kepada perilaku hati yang diliputi kondisi iḥsān (beribadah seolah-olah melihat Allāh s.w.t. atau kondisi khusyū‘) yakin berjumpa dengan Allāh s.w.t. dan kembali kepada-Nya.
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُم مُّلَاقُوْا رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
… (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(al-Baqarah,Ayat 46).
والله اعلم
*anwi/ wi/ nf/ 020126
Views: 79










