
WARTA IDAMAN

Jakarta – Ketika mendengar kata “BETAWI”, di antara kita banyak yang merepresentasikan dengan ondel-ondel, kembang kelapa, lenong, Bokir, Nori, dan lain-lainnya. Tidak salah memang, tapi jika selalu itu yang dimunculkan, maka jangan salahkan juga jika stigma orang pun akan dengan mudah menganggap Betawi ya tidak jauh dari itu-itu saja: lucu, norak, kampungan, dan tidak serius.
Pada gilirannya, maka tidak heran jika banyak yang gagal paham tentang Betawi. Hal tersebut dikatakan Azis Khafia selaku tokoh Betawi, Selasa (27/10).
Momentum 28 Oktober menjadi penting untuk merefleksikan tentang Betawi, karena 28 Oktober 1928 andil Betawi sangat signifikan. Pertama, di masa tersebut telah berdiri organisasi kedaerahan seperti: Pemoeda Kaoem Betawi yang merupakan kecabangan dari Perkumpulan Kaoem Betawi 1923, Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Islamieten Bond, dan lain-lain. Kesemua organisasi kedaerahan, meski berlabel daerah, namun yang diperjuangkan adalah semangat kesejahteraan, pendidikan, kesehatan yang muaranya adalah “Kemerdekaan”.
Adalah Pemuda Kaoem Betawi yang merupakan organisasi kecabangan atau bidang pemuda dari Perkoempulan Kaoem Betawi yang didirikan oleh Thamrin Tabri, Abdul Manaf, dan lain-lain pada tahun 1923, sangat intens melakukan berbagai macam gerakan kebangsaan yang pada tahun 1928 ikut merumuskan dan menandatangani Sumpah Pemuda 1928.
Kedua, Sumpah Pemuda terjadi di Betawi, maka sudah barang tentu yang sibuk adalah tuan rumah yakni Kaoem Betawi. Pra dan pasca-acara, Pemuda Kaoem Betawi lah yang ketumpuan berbagai macam agenda tersebut, baik moril maupun materil. Mohammad Hoesni Thamrin, seorang Anak Betawi Sawah Besar yang dikenal perlente dan kaya raya, sering jadi ujung tombak dan ujung tombok perhelatan kebangsaan.
Ketiga, Sumpah Pemuda 1928 telah menjadi bukti nyata yang dicatat dengan tinta emas bahwa Betawi dan Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kalau bicara NKRI tanpa Betawi itu artinya Bhinneka Tunggal Ika “Sumpung” alias enggak sempurna atau enggak utuh. Dan jika bicara Betawi, artinya juga bicara Negara dan kebangsaan.
Inilah sejatinya Betawi, dia adalah bagian integral dari bangsa ini, ia adalah pewaris negeri ini, ia adalah moral penggerak kebangsaan, Betawi adalah miniaturnya Indonesia.
Momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober menjadi pelajaran dan peringatan untuk kaum Betawi bahwa tahun 1927 berdiri Pemoeda Kaoem Betawi sebagai ujung tombak kaum Betawi untuk maju di garda terdepan berpikir, berbicara, dan aksi nyata tentang kesejahteraan rakyat dan kemerdekaan bangsa. Inilah sejatinya yang kudu disyiarkan kembali pada generasi muda Betawi saat ini.
Jadilah pemuda pada rel dan porsi yang berpikiran kritis, maju, dan merespons dinamika zaman, bukan cuma muda pada usia namun tua dan tumpul dalam karya dan aksi nyata.
*****
Terima kasih telah membaca artikel ini. Dapatkan artikel menarik lainnya di sini.
Dukung terus WARTA IDAMAN – Berita Semesta "Syiar Hijrah".
Silakan berikan komentar yang membangun pada kolom di bawah ini.
Jangan lupa membagikan artikel ini ke media sosial Anda melalui tombol bagikan di bawah!
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN Berita Semesta
- Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia: dari tujuh pemrakarsa hingga kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Napas Perjuangan 15 Tahun PJMI: Dari Tujuh Pemrakarsa hingga Kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Songsong Milad ke-15, PJMI Siapkan Agenda Kemanusiaan dan PJMI Award
- Safrizal dan Keluarga Besar Elang Tiga Hambalang Berduka, Doa Teriring untuk Ibu Eva Novensia Kristantie, S.H.
- Pengajian KB PII Bekasi Raya: Kyai Noer Alie Ulama Pejuang Penuh Inspirasi
- Gagas Demokrasi Pancasila Tanpa Partai, Mukhtadi Tawarkan Sistem Legislatif Berjenjang
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

anwi/ wi/ nf/ 271026: anugrah
Views: 0


















