
WARTA IDAMAN

ENDE-NTT– Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dr. Andreas Hugo Pareira, menggelar kegiatan strategis “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila” pada Rabu (16/9/2026) di Hotel Flores Mandiri, Ende, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini menegaskan komitmen negara untuk mengembalikan Pancasila ke akar kerakyatannya, dengan menjadikan Ende—tempat pengasingan Bung Karno—sebagai simbol refleksi kebangsaan dan ruang lahirnya ideologi hidup (living ideology).
Ende: Titik Sunyi Lahirnya Pemikiran Kebangsaan
Dalam keynote speech-nya, Dr. Andreas Hugo Pareira menguraikan hubungan historis antara pengalaman pengasingan Bung Karno di Ende (1934-1938) dengan kelahiran Pancasila. Ia menekankan bahwa Ende bukan sekadar tempat pembuangan politik, melainkan “titik sunyi” yang justru menjadi kawah candradimuka pemikiran kebangsaan. Di sana, Bung Karno tidak terisolasi; ia berinteraksi intensif dengan masyarakat beragam suku dan agama, memperdalam spiritualitas, serta menggerakkan rakyat melalui seni sandiwara (Tonil).
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- 5 Tips Konsisten Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari agar Tetap Istiqomah
- Kajian Kitab Al-Hikam #2
- Ketum Al Washliyah: Teladani Kepemimpinan Amanah dan Keadilan Ekonomi Rasulullah
- Amal sedikit penuh kesadaran Ilahi lebih baik dari pada banyak amal dengan kesombongan diri
- Maulid Barokah Munajat kami pada MU, Yaa Allah
- Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan Fajar
“Pengalaman hidup bersama masyarakat yang beragam serta praktik gotong royong di Ende menjadi bagian penting dari rekam jejak yang menginspirasi pidato 1 Juni 1945,” ujar Pareira. Pesan reflektifnya jelas: Pancasila berakar pada kehidupan rakyat, keberagaman, dan kebijaksanaan lokal. Jejak Bung Karno di Ende harus menjadi pengingat bagi relawan masa kini untuk kembali kepada nilai-nilai kerakyatan dalam menghadapi tantangan zaman.
Pancasila sebagai Living Ideology di Era Digital
Dr. Toto Purbiyanto, Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan BPIP RI, menambahkan bahwa Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan atau doktrin kaku. Di tengah revolusi digital, AI, dan ketidakpastian global, Pancasila harus “dihidupkan” dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak sehari-hari. Implementasinya tercermin dalam empat semangat: menghargai keberagaman (berbeda), menjaga persatuan (bersatu), membangun kepedulian (bergotong royong), demi mewujudkan Indonesia yang kuat dan harmonis.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- Al Washliyah Gelar Seminar Internasional Haji dan Umroh Didahului Pelantikan Pimpinan UNIVA Medan
- Pameran Kaligrafi Internasional 2026 di Semarang Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara
- 15 Negara Hadir di IICF 5th, 3.500 Penari Siap Guncang Ancol dengan Semarak Jali-Jali
- FFP Universitas Paramadina Bawa Perspektif Lintas Disiplin ke Malaysia, Bekali Calon Mutawwif Hadapi Tantangan Global
- Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI
- Mentan Amran di Muktamar V Wahdah Islamiyah: Indonesia Swasembada Pangan, Ekspor Beras Hingga ASEAN dan 10 Ribu Ton ke Palestina
- Kemenhaj Buka Seleksi PPIH Arab Saudi 2027, Tekankan Integritas dan Profesionalisme
Views: 0




















