Foto atas kiri: Masjid Quwwatul Islam Yogyakarta. (Dok. Pemda DIY/ )
Foto atas kanan: Sultan HB X saat meresmikan Masjid Quwwatul Islam Yogya. (Dok. Pemda DIY)
Foto bawah kanan: Eskalator di Masjid Quwwatul Islam. (Foto: Iqbltwq/Pandangan Jogja)
Foto bawah kiri: Lift di Masjid Quwwatul Islam Yogya. (Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja)
(sumber: kumparan/ 120325)
Hal itu disampaikan Ketua Takmir Masjid Quwwatul Islam yang juga keturunan asli Banjar yang tinggal di Jogja, Nanang. Salah satunya ditunjukkan dari arsitektur masjid yang dibangun dengan perpaduan budaya Banjar dan Jogja.
Selain itu, masjid ini juga memiliki menara yang melambangkan Tugu Golong-gilig yang difungsikan juga sebagai lift.
“Jadi perpaduan budaya Banjarmasin dengan budaya Jogja,” ujar Nanang kepada Pandangan Jogja pekan kemarin.
“Bukan mengikuti mall ya, karena kita melihat jemaahkan sebagian banyak yang sepuh-sepuh. Yang paling utama untuk memudahkan akses saat salat jumat,” ujarnya.
Masjid ini terdiri dari lima lantai, yakni basement, area usaha yayasan, dua lantai untuk salat, dan aula di lantai lima yang terbuka untuk kegiatan masyarakat.
Sultan HB IX kemudian memberikan izin kepada masyarakat Banjar untuk mendirikan masjid di tanah kasultanan.
“Kemudian tahun 1953, supaya kita tidak merasa eksklusif, merasa elite, orang Banjar merasa lebih dari yang lain, akhirnya diajukan, diusulkan, berganti nama menjadi nama Quwwatul Islam,” ujar Nanang.
Masjid ini kemudian direnovasi total pada 2015, menjadi lima lantai dengan biaya sekitar Rp 15 miliar yang berasal dari donasi. Proses renovasi Masjid Quwwatul Islam beres pada 2023 dan diresmikan langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X.
“Ngarsa Dalem, Beliau dengan bijaknya waktu meresmikan jalan kaki beliau dari Kepatihan, luar biasa Sultan,” ujarnya.
Proses peresmian langsung oleh Sultan ini kata dia memiliki arti penting bagi masyarakat Banjar, sebab hal itu berarti Sultan sebagai pemilik tanah telah mempersilakan dan mengizinkan tanah itu digunakan untuk masjid.
*sumber: kumparan/ 120325
Views: 74