Yogyakarta Fenomena Islam “dikalahkan” budaya sering terjadi ketika praktik adat, tradisi lokal, atau budaya populer bertentangan dengan prinsip syariat namun tetap dipertahankan, mengaburkan ajaran murni, atau menyebabkan sinkretisme. Ini memicu benturan antara kelompok pro-adat dan puritan, serta berpotensi menghilangkan nilai toleransi khas setempat. Pernyataan itu disampaikan Ustadz KH Hasan Asyari dalam acara Pengajian Akhirusanah Jamaah Masjid Sultan Agung dan Akhirusanah Ranting NU Desa Condong Catur Depok Sleman Yogyakarta hari Rabu malam (11/2/2026).
“Saya merasa prihatin dengan perlakuan para klitih yang baru baru ini seperti yang terjadi dibantul” kata Ustadz KH Hasan Asyari
Sebagai makhluk sosial, kita butuh berinteraksi dengan orang lain. Nah, agar hubungan kita dengan orang lain berjalan baik, tentu dibutuhkan sopan santun. Sopan santun harus ditanamkan pada anak sejak mereka kecil tandasnya. Orang tua berperan krusial sebagai pendidik pertama dan utama, bertanggung jawab membentuk karakter, moral, dan kepribadian anak sejak dini. Mereka berfungsi sebagai teladan, motivator, serta pelindung yang menciptakan lingkungan aman dan kondusif untuk tumbuh kembang emosional dan intelektual anak.
Zaman sekarang ditandai dengan perkembangan teknologi digital yang pesat. Media sosial, kecerdasan buatan, dan internet telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, dan bekerja. Selain itu, budaya global semakin mudah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai platform digital. Anak muda harus mampu menyaring pengaruh luar agar tidak kehilangan jatidirinya pungkas KH Hasan Basri dari Segoroyoso Bantul itu.(Moget).
*riha/ wi/ nf/ 120226
Views: 34







