Beranda / LifeStyle / SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Salahuddin segera mengerahkan ajian Seribu Bulan untuk menyusul Jalal dan Tanjung yang telah terlebih dulu masuk ke kebub singkong.

Jalal dan Tanjung yang juga mengerahkan ajian Bandung Bondowoso saat memanggul Perahu Surya yang dinaiki Ki Ageng Batman, Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel bagai terbang melesat di udara untuk menghindari serangan BuJin Ki Ning. Namun, karena BuJin itu justru dalam kondisi bingung karena kehujanan dan takut dengan petir, maka usaha Jalal dan Tanjung memanggul Perahu Surya berlangsung mulus tanpa hambatan. Mereka dengan cepat dapat memasuki area kebun singkong dan berusaha menemukan Ustaz Bondan Kaja, yang diduga telah mengeluarkan ajian Penangkap Petir.

Sementara itu di pondok yang berada di kebun singkong, tampak Putri Raisa masih merasa khawatir akan keselamatan Ustaz Bondan Kaja, yang belum tentu mampu menandingi serangan Adi Seruling Sakti. Putri Raisa masih berpikir bahwa yang menyerang kebun singkong mereka adalah Adi Seruling Sakti yang akan merebut takhta Kerajaan Matraman Raya. Putri Raisa pernah melihat suaminya itu pernah kewalahan menghadapi Adi Seruling Sakti, saat pertama kali Adi mau merebut takhta Kerajaan Matraman Raya pertama kali dulu. Beruntung Danang, Sayidin Panotogomo datang tepat pada waktunya. Bersama Wahyudi dan Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur, Danang, mampu menundukkan Adi Serulung Sakti.

“Kanda, apakah Kanda tidak khawatir dengan kekuatan musuh yang berada di luar?” tanya Putri Raisa.

“Hari itu, pernah juga terjadi peristiwa seperti ini, tapi, Dinda kan tahu juga. Alhamdulillah, setelah itu, tidak terjadi apa-apa, dengan Kanda,” balas Ustaz Bondan Kaja.

“Dinda, jangan terlalu mengkawatirkan Kanda. Sebaiknya Dinda menemani Putri Biyan, Putri Anya dan Pangeran Mustofa. Mereka lebih membutuhkan kehadiranmu daripada Dinda menemani Kanda di sini,” jelas Ustaz Bondan Kaja.

“Uztaz Bondan Kaja sampai kapan kita akan berada di sini?” Tiba-tiba Putri Biyan ikut nimbrung.

“Betul, Ustaz. Apakah kami masih lama lagi, harus bermukim di sini?” Putri Anya pun seakan kompak bangun dari tidurnya, sambil menggendong Pangeran Mustofa.

“Astagfirullah, ampuni hamba-Mu, yang lemah ini. Keluarga istana Kerajaan Matraman Raya ini sangat menderita, karena harus mengalami kehidupan berat di luar istana. Ampuni hamba-Mu, ya, Allah. Berikanlah kami petunjuk dan perlindungan. Agar kami dapat segera keluar dari tempat persembunyian di kebun singkong ini. Aaamin.” Ustaz Bondan Kaja hanya mampu berdoa untuk menjawab pertanyaan Putri Biyan dan Putri Anya.

“Ustaz Bonda Kaja … Ustaz Bondan Kaja ….” Tiba-tiba terdengar suara Bupati Kediri Bejo Cinekel dari luar rumah.

“Dinda, Putri Raisa. Suara yang memanggil nama Kanda itu, seperti suara Bupati Kediri Bejo Cinekel. Kanda akan keluar rumah, untuk memastikannya,” kata Ustaz Bondan Kaja.

“Hati-hati, Kanda! Jangan sampai Kanda terlihat lebih dulu, sebelum Kanda dapat memastikan bahwa yang datang mencari Kanda itu, memang Bupati Kediri, Bejo Cinekel. Siapa tahu, itu sebetulnya suruhan Adi Seruling Sakti? Kalau perlu, Kanda tidak usah keluar dari rumah. Tunggu saja, sampai dia menuju ke sini. Kanda perlu ingat, banyak orang yang perlu kita lindungi!” seru Putri Raisa.
Ustaz Bondan Kaja yang sebetulnya akan segera melangkahkan kakinya untuk keluar rumah, untuk memastikan orang yang memanggul namanya itu Bupati Kediri Bejo Cinekel, atau bukan, terpaksa menghentikan langkahnya, saat mendapat peringatan dari Putri Raisa. Ustaz Bondan Kaja berpikir, bahwa pendapat Putri Raisa ada benarnya. Dia tidak boleh bertindak sembarangan, karena tindakannya keluar rumah, jika ternyata yang datang itu adalah musuh, maka dampak buruk dari bahaya serangan musuh itu tidak hanya akan terjadi pada dirinya, tetapi akan berakibat kepada seluruh anggota istana Kerajaan Matraman Raya yang berada di rumah itu.

Namun, pada saat Ustaz Bondan Kaja menghentikan langkahnya, tiba-tiba Putri Biyan menyela pembincaraannya dengan Putri Raisa.

“Ustad Bondan Kaja. Kalau itu suara Bupati Bejo Cinekel, mungkin dia ingin menolong kita. Apakah tidak sebaiknya, Ustaz segera menemui mereka. Supaya kita dapat segera meninggalkan tempat ini.”

“Ustaz, apakah Ustaz tidak ingin segera melihat Pangeran Mustofa segera selamat dan pergi meninggalkan tempat ini? Sungguh kasihan Pangeran Mustofa, kalau masih harus lebih lama lagi berada di tenpat ini,” tambah Putri Anya.

Pada saat Ustaz Bondan Kaja ragu, apakah harus mengikuti saran Putri Raisa, atau harus mendengarkan pendapat Putri Biyan serta keluhan Putri Anya, terlihat begitu sedih sambil menggendong Pangeran Mustofa, tiba-tiba hujan deras turun lagi. Ustaz Bondan Kaja pun segera mengerahkan ajin Penangkap Petir. Kontan langit di atas kebun singkong itu pun dipenuhi petir yang menggelegar. Tampaknya kegamangan Ustaz Bondan Kaja untuk mengatasi perbedaan pandangan dari Putri Raisa dan Putri Biyan membuat Ustaz Bondan Kaja melepaskan ajian Penangkap Petir dengan sepenuh tenaga.

“Ustaz Bondan Kaja, kami datang!” teriak Bupati Bejo Cinekel dengan pakaian basah kuyup terkena hujan, karena dia juga habis mengerahkan tenaga sekuatnya untuk melepaskan ajian Mendung Pembawa Hujan agar dapat kembali meyakinkan kalau memang Ustaz Bondan Kaja berada di sekitar tempat itu. Petir yang menggelegar di langit, membuat Bupati Bejo Cinekel yakin bahwa Ustaz Bondan Kaja memang berada di daerah itu. Begitu dia melihat ada sebuah rumah di kebun singkong itu, maka dia minta Jalal dan Tanjung yang sedang memanggul Perahu Surya mendekati rumah itu, sambil memanggil nama Ustaz Bondan Kaja.

“Masya Allah, itu betul suara Bupati Kediri. Tidak salah lagi. Hanya Bupati Kediri Bejo Cinekel yang mampu membuat hujan deras mendadak seperti ini. Putri Raisa, Kanda akan segera keluar, menyambutnya,” kata Ustaz Bondan Kaja, lalu dengan tergopoh-gopoh segera menuju ke pintu rumah dan membukanya. Betul saja, tampak oleh Ustaz Bondan Kaja, Bupati Kediri Bejo Cinekel, bersama Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe sedang naik Perahu Surya yang dipanggul oleh Jalal dan Tanjung.

“Masya Allah, Ki Ageng Batman, Bupati Kediri, silakan turun. Hamba Bondan Kaja!” seru Ustaz Bondan Kaja.

Mendengar Ustaz Bondan Kaja menyebut nama Ki Ageng Batman, maka Putri Biyan pun segera berlari keluar rumah untuk menyambut Ki Ageng Batman, suaminya.

“Kanda, maafkan Dinda Biyan … Wahyudi hilang!” seru Putri Biyan, sambil menangis dan lapor kepada Ki Ageng Batman.

Begitu Ki Ageng Batman melihat Putri Biyan lari menghambur keluar rumah sehingga dia kehujanan, serta merta Ki Ageng Batman berseru kepada Jalal dan Tanjung.

“Jalal, Tanjung! Turunkan Perahu Surya!”

Setelah Ki Ageng Batman dapat mendarat di halaman rumah, dia lalu pura-pura bertanya kepada Putri Biyan.

“Dinda Biyan, memangnya, Wahyudi hilang di mana?”
Melihat Ki Ageng Batman turun dari Perahu Surya, Putri Biyan pun semakin yakin bahwa orang yang turun itu adalah Ki Ageng Batman. Putri Biyan pun langsung lari menghampiri Ki Ageng Batman, lalu memeluk Ki Ageng Batman sambil menangis sejadi-jadinya.
Putri Anya yang tidak mengetahui sesungguhnya yang terjadi, karena dia belum mengenal orang-orang yang dibicarakan, dia pun bengong. Namun, dia lalu bertanya kepada Putri Raisa.

“Bunda Raisa. Siapakah sebenarnya orang-orang ini? Putri Anya tidak mengenalnya?”

“Putri Anya, mari kita ikut keluar, tapi hati-hati. Jaga Pangeran Mustofa karena hari hujan deras. Kita ikut melihat di pintu saja. Ayo, ikut Bunda,” kata Putri Raisa.

Begitu Putri Raisa dan Putri Anya terlihat di pintu rumah, tiba-tiba hujan deras pun berangsur-angsur hilang. Bersamaan dengan itu, Salahuddin pun turun dari langit.

“Hamba, Salahuddin datang menghadap. Apakah yang berada di hadapan saya adalah keluarga istana Kerajaan Matraman Raya semua?” tanya Salahuddin.

“Betul!” seru Putri Raisa.

 

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 130226

Views: 45

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *