Beranda / Kolom / Analisis Muchlis Hassan: “Tak Ada Benang Kusut Jika Digulung dengan Baik”, Membedah Skenario Agitasi di Balik Aksi AMPB

Analisis Muchlis Hassan: “Tak Ada Benang Kusut Jika Digulung dengan Baik”, Membedah Skenario Agitasi di Balik Aksi AMPB

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

JAKARTA – Di tengah dinamika politik yang kian memanas jelang berbagai agenda kenegaraan, pengamat sosial Muchlis Hassan mengeluarkan analisis tajam mengenai fenomena aksi massa Aliansi Masyarakat Pati Bergerak (AMPB). Melalui tulisannya, Muchlis mengingatkan bahwa dalam politik, tidak ada kejadian yang truly acak; semuanya adalah hasil dari “gulungan benang” yang dirancang secara sistematis, Rabu (26/8).

“Politik itu tidak seperti orang menyeplok telur yang instan. Apalagi jika tujuannya membelah lautan dan mencabut gunung, tentu harus diramu sedemikian rapi dan bersih,” tulis Muchlis, menegaskan bahwa setiap gejolak publik saat ini merupakan bagian dari rekayasa sosial (social engineering) yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

Skenario “Management Konflik” dan Peran Pion

Muchlis menyoroti bagaimana aksi tuntutan pengesahan UU PAS oleh warga Pati yang semula bersifat biasa, tiba-tiba mengalami amplifikasi isu yang signifikan. Ia menyebut ini sebagai penerapan ilmu “Management Konflik Politik”, di mana sebuah sistem bekerja diam-diam meniupkan aura perlawanan untuk memanipulasi kewarasan masyarakat.

Dalam narasinya, Muchlis menggunakan analogi lakon drama China (dracin) di mana tokoh protagonis tidak boleh dilukai secara fisik agar simpati publik meledak. Menurutnya, AMPB sedang dijadikan “kelinci percobaan” atau pion pemantik untuk membakar rasa kebencian publik yang berujung pada kondisi tidak terkendali. Tujuannya jelas: menciptakan situasi chaos ala 1998 yang bermuara pada tuntutan pergantian kepemimpinan, dengan Presiden Prabowo Subianto sebagai target utama.

Bedah Kasus Pelemparan Batu dan Viralitas Terarah

Analisis Muchlis menjadi semakin tajam ketika membedah insiden pelemparan batu terhadap bus rombongan AMPB di Tol Jakarta-Cikampek. Ia menolak hipotesis sederhana bahwa pelaku adalah koruptor atau orang iseng.

“Koruptor tuh mainnya di pinggiran Jalan Thamrin dan Sudirman, bukan pinggir jalan Tol yang banyak nyamuknya,” sindirnya logis. Muchlis menilai insiden ini adalah proyek agitasi klasik untuk membangun persepsi bahwa “yang baik sedang dizalimi”. Ia juga menyayangkan figur-figur seperti Mas Botok dan Teguh yang, meski mungkin tidak terlibat konspirasi tingkat tinggi, telah unwittingly menjadi alat tunggangan kepentingan tertentu karena ketidaktahuan mereka terhadap peta besar yang sedang dimainkan.

Efek domino dari agitasi ini terasa hingga ke level mikro. Muchlis menggambarkan bagaimana viralnya isu pelemparan batu mampu melumpuhkan aktivitas ekonomi warga biasa—seperti pedagang ketoprak langganannya—yang turut terseret arus emosi kolektif akibat narasi “pemerintah zalim” yang digaungkan di grup-grup WhatsApp.

Eskalasi Ke Bank Mandiri dan PMJ: Pola yang Sama

Pola agitasi yang sama, menurut Muchlis, terlihat jelas dalam kasus pemblokiran rekening Mas Botok oleh Bank Mandiri dan insiden pendekatan pihak PMJ (Pengamanan Masyarakat) di depan Gedung DPR.

Ketika Bank Mandiri memblokir rekening, saham bank BUMN tersebut langsung terjun bebas akibat amarah massa yang dimanipulasi. Baru setelah mendapat “restu” Istana, bank tersebut berani memberikan klarifikasi. Demikian pula dengan pendekatan PMJ yang dikemas seolah-olah “penculikan”, memicu gejolakan amarah relawan AMPB. Padahal, kepolisian telah mengklarifikasi bahwa kehadiran personel semata-mata untuk pendampingan administrasi perizinan.

Benang Merah yang Belum Terungkap

Muchlis menutup analisisnya dengan peringatan keras. Ia melihat adanya kejanggalan yang sengaja ditutup-tutupi di balik rangkaian peristiwa yang看似 terpisah ini. Bagi Muchlis, semua insiden—from tol, bank, hingga gedung DPR—adalah satu kesatuan skenario untuk mendiskreditkan legitimasi kekuasaan saat ini.

“Tidak ada benang yang kusut jika pemiliknya menggulungnya dengan benar dan baik,” pungkasnya. Kalimat ini menjadi tamparan bagi publik untuk tidak mudah terbawa arus emosi sesaat, melainkan mampu melihat “siapa yang sedang memegang gulungan benang” di balik layar agitiasi politik yang kian canggih dan berbahaya ini.

Analisis Muchlis Hassan mengajak kita semua untuk tetap kritis, tenang, dan tidak mudah menjadi pion dalam permainan politik kotor yang mengatasnamakan rakyat namun sesungguhnya hanya melayani ambisi segelintir elit yang ingin merobohkan tatanan yang sah.

 

 

 

 

 

 

*anwi/ wi/ nf/ 260826

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  WARTAIDAMAN.com        السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَللَّٰہُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَیٰ سَیِّدِنَا مُحَمَّدِِ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍﷺ Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan F...

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons