Beranda / Kolom / JAM 6 TENG: “KELEMBAMAN”

JAM 6 TENG: “KELEMBAMAN”

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Mike Rowe adalah seorang pembawa acara televisi yang hidupnya terlampau nyaman. Pekerjaan hariannya adalah mengenakan pakaian rapi, mengulas kilang anggur yang wangi, dan tersenyum di depan lukisan galeri seni. Semuanya serba bersih. Serba terprediksi.
Sampai suatu sore, sebuah telepon dari ibunya mengoyak kenyamanan tersebut.
Sang ibu bercerita tentang kakek Rowe, Carl Knobel. Carl adalah potret sejati maskulinitas pekerja keras masa lalu—seorang tukang legendaris dengan tangan kasar yang konon bisa membongkar pasang jam tangan tanpa perlu melihat.
Lalu, meluncurlah satu kalimat dari sang ibu yang menusuk tajam langsung ke ulu hati Rowe: “Alangkah bagusnya kalau sebelum kakekmu meninggal, ia bisa melihatmu di televisi melakukan sesuatu yang benar-benar terlihat seperti… bekerja.”
Kata “bekerja” itu bergema keras. Rowe teringat masa kecilnya.
Suatu hari, saat ia tak sengaja mengacaukan adonan semen, sang kakek tidak marah. Pria tua itu hanya menatapnya dan berkata jujur bahwa Rowe sebenarnya tidak jatuh cinta pada keringat pekerjaan konstruksi. Rowe hanya jatuh cinta pada proyeknya—pada sebuah pekerjaan yang punya titik awal, pertengahan, dan akhir (Johnson, 2022).
Hari itu, setelah telepon ditutup, Rowe membuat keputusan yang terdengar _nyeleneh_. Ia menanggalkan jas rapinya. Ia meminta izin turun ke sistem gorong-gorong kota San Francisco.
Ditemani seorang inspektur selokan, Rowe merangkak di tengah kegelapan yang dipenuhi lumpur, tikus, kecoak, dan bau busuk yang menyengat. Tiba-tiba, sebuah pipa meledak. Limbah kotoran menyembur telak menghantam wajahnya. Kamera tetap merekam kejadian menjijikkan itu.
Saat segmen itu ditayangkan, stasiun televisinya panik. Penonton marah dan jijik. Rowe nyaris dipecat. Namun, di tengah kekacauan itu, ia justru melihat kilau emas: ia melihat wajah para pekerja keras yang selama ini dianggap tak kasatmata oleh dunia. Ia membawa rekaman gila itu ke _Discovery Channel_, dan lahirlah _Dirty Jobs_.
Acara ini berubah menjadi fenomena global—sebuah “surat cinta” untuk para pekerja keras yang menjadi tulang punggung peradaban. Rowe rela turun menjadi pembersih tangki septik hingga peternak belatung, menelanjangi sebuah realitas bahwa kenyamanan hidup kita yang serba wangi ini dibayar lunas oleh keringat mereka yang bergelimang kotoran.
Keberanian Rowe untuk melompat dari rutinitas yang rapi menuju lumpur gorong-gorong mengingatkan kita pada sebuah kisah yang hingga kini masih diperdengarkan. William Shakespeare pernah menulis sebuah kalimat yang menggetarkan: _”Ada saat ketika arus kehidupan membawa manusia menuju keberuntungan—jika kita berani mengikuti arus itu.”_
Rowe tidak sekadar duduk menunggu di tepi pantai. Ia berani memilih arus yang kotor dan bau, dan pilihan gila itulah yang mendobrak takdirnya.
Jika kita meminjam kacamata sains, apa yang dilakukan Rowe sebenarnya adalah wujud nyata dari _Hukum Kelembaman Newton_. Hukum Fisika Pertama menyebutkan bahwa benda yang diam akan selamanya diam, kecuali ada gaya luar yang memaksanya bergerak.
Secara psikologis, manusia adalah makhluk yang sangat patuh pada inersia ini. Otak kita membenci perubahan. Begitu kita menemukan zona nyaman—seperti jas rapi dan kilang anggur—kita akan berdiam diri di sana sampai mati. Butuh sebuah gaya dorong yang masif, entah itu berupa krisis, rasa muak, atau sentilan tajam dari seorang ibu, untuk memecah kelembaman tersebut dan memaksa kita melangkah.
Pakar inovasi Whitney Johnson (2022) menyebut titik pemecahan inersia ini sebagai fase Penjelajah (Explorer). Dalam model _Smart Growth_ (Pertumbuhan Cerdas), setiap kali kita hendak bertumbuh dan mendaki sebuah Kurva S Pembelajaran yang baru, kita harus selalu memulai dari titik nol ini.
Sayangnya, banyak orang membunuh impian mereka sendiri di titik ini karena perjalanannya terasa sangat lambat. Di sinilah _Hukum Newton Kedua_ (F = ma) berlaku keras. Semakin besar “massa” ego, gengsi, dan kenyamanan yang Anda miliki, semakin besar pula “gaya” perlawanan yang harus Anda keluarkan untuk bisa sekadar berakselerasi.
Ketika mencoba hal baru, otak bekerja keras merajut koneksi saraf yang belum pernah ada. Anda merasa seolah membuang-buang waktu. Padahal, apa yang tampak seperti stagnasi di permukaan, sebenarnya adalah fondasi persiapan yang sedang mengakar kuat di bawah lumpur.
Namun, Johnson (2022) memberi peringatan penting: seorang penjelajah sejati tidak pernah melompat ke dalam jurang dengan mata tertutup.
Sebelum Anda mempertaruhkan waktu dan masa depan untuk menempuh jalan yang baru, Anda harus melakukan dialog batin yang jujur agar tidak tersesat. Alih-alih berlari membabi buta, bertanyalah pada diri sendiri secara realistis apakah tujuan baru tersebut benar-benar mungkin dicapai, atau sekadar angan-angan kosong.
Jika masuk akal, carilah cara untuk mengujinya dalam skala kecil terlebih dahulu sebelum Anda mempertaruhkan seluruh kehidupan Anda.
Sembari mencobanya, rasakan tekanannya di lapangan. Pastikan tantangan itu memiliki unsur yang cukup familier agar Anda tidak gila karena frustrasi, namun tetap menuntut Anda untuk meregangkan batas kemampuan. Lebih dalam dari sekadar urusan teknis, arah baru ini mutlak harus selaras dengan identitas asli dan nilai moral Anda. Anda tidak boleh menjadi orang lain hanya demi sebuah pencapaian.
Mengingat setiap pertumbuhan pasti menagih bayaran mahal—entah itu waktu yang menguap, fisik yang remuk, atau hilangnya kenyamanan—Anda harus berani menguliti diri sendiri: apakah harga tersebut sepadan dengan hasil akhirnya? Semua kelelahan dan rasa sakit itu hanya bisa Anda tanggung jika apa yang Anda kejar terhubung langsung dengan alasan terdalam mengapa Anda bernapas di dunia ini (Johnson, 2022).
Hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk duduk di ruangan yang bersih, menunggu keajaiban datang. Pertumbuhan menuntut kita untuk membasahi kaki, melawan kelembaman, dan menemukan perjalanan yang layak diperjuangkan.
Semuanya, selalu dimulai dari keberanian Anda untuk mengambil langkah pertama.

*RUJUKAN*
Johnson, W. (2022). _Smart growth: How to grow your people to grow your company._ Harvard Business Review Press.

 

 

 

Oleh: Edhy Aruman

 

 

 

 

 

 

 

*hm/ wi/ nf/ 160326

Views: 58

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *