Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.
Prinsip untuk menguasai harta/jabatan sebagai sarana amal saleh, bukan diperbudak olehnya. Dunia cukup di tangan agar mudah dilepaskan untuk infak/sedekah, sedangkan hati difokuskan pada akhirat.
Hal ini sebagaimana yang selalu Nabi ajarkan kepada kita, yaitu sebuah do’a yang sangat masyhur.
اللهم اِجْعَلِ الدُنْيَا فِى اَيْدِيْنَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِى قُلُوْبِنَا
Wahai Allah, jadikanlah dunia ini ditangan kami dan janganlah jadikanya di hati kami .
Pada hadist ini, kita boleh meminta kepada Allah agar dilapangkan rizkinya, sekaligus meminta perlindungan dari Allah agar jangan sampai dunia itu masuk ke hati kita dan merusaknya.
Dunia di Tangan (Sarana): Harta dan tahta digunakan untuk kebaikan (zakat, infak, menafkahi keluarga, membantu sesama). Ini berarti, meski kaya raya, tidak membuat seseorang melupakan Allah.
Dunia Bukan di Hati (Tujuan): Tidak diperbudak oleh kecintaan duniawi, tidak rakus, dan tidak menghalalkan segala cara. Jika dunia masuk hati, ia akan memperbudak dan membuat lalai.
Dunia diibaratkan air, sedangkan hati adalah perahu. Perahu butuh air untuk berlayar (di tangan/bawah kaki), namun jika air masuk ke dalam perahu, ia akan tenggelam.
Fokus Akhirat: Menjadikan dunia sebagai ladang atau sarana untuk menanam amal baik yang akan dipanen di akhirat.
Dengan menempatkan dunia di tangan, seseorang akan selamat, bijak, dan tidak diperbudak oleh materi, sekaligus tetap produktif mengejar target akhirat.
Selamat menjalankan Ibadah puasa
*anwi/ wi/ nf/ 160326
Views: 38







