Beranda / LifeStyle / PEREMPUAN SATU MILYAR: _Hilangnya Ijasah SMA_

PEREMPUAN SATU MILYAR: _Hilangnya Ijasah SMA_

 
WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Bab 7 Hilangnya Ijazah SMA

Menjadi mahasiswa UGM merupakan kebanggaan tersendiri bagi anak-anak muda sepertiku di kampung Kota Yogyakarta. Bagaimana tidak? Sebagai anak-anak muda yang hidup dari dana pensiun yatim piatu yang belakangan baru ketahuan kalau mempunyai batas pada usai 25 tahun, kami tiga bersaudara dapat kuliah semua di UGM.

Akan tetapi, begitu kuliah di Yogyakarta setelah DO dari kuliah di Jakarta, situasi dan kondisi kemiskinan kembali muncul. Hanya naik bus kota untuk berangkat kuliah ke Bulak Sumur, Kampus Biru itu, akan menerima sindiran dari sesama anggota keluarga. Suatu hal yang sama sekali membuatku terkejut karena saat kuliah di Jakarta, tiap hari saat kuliah, aku naik bus kota pulang-pergi.

Situasi berat kembali kurasakan dalam menjalani hidup pada masa kuliah di Yogyakarta, antara lain kondisi makan makanan kurang bergizi. Sudahlah jalan kaki lebih dari 5 kilometer dari Bulak Sumur ke rumah, sebelah Malioboro yang terkenal itu, sampai di rumah hanya makan dengan “jangan bening”.

Hari itu aku ingin naik bus kota pulang dari kampus. Untuk itu aku menunggu kakak perempuanku yang kuliah di fakultas lain. Aku menunggu di sisi barat gedung pusat, supaya tidak ketahuan kakakku kalau mau ikut naik bus kota. Aku bermaksud nanti akan langsung melompat ke arah bus kota, jika sudah kulihat kakak naik bus kota. Namun, aku terkejut karena kulihat kakakku keluar dari fakultasnya terus belok kanan, bukannya ke depan ke arah halte bus dan justru terus berjalan kaki.
Kupikir, mungkin dia akan naik bus di halte lain, maka kuikuti langkah kakinya dari belakang. Aku belum ingin ketahuan kalau ingin ikut, jika dia naik bus kota. Akan tetapi, semakin jauh, dia itu terus saja berjalan kaki. Tentu saja setelah menyeberang sebuah jembatan di jalan raya, mau tidak mau aku lalu mendekatinya.

Dia tersenyum ketika aku cerita kalau tadi, aku ingin menumpang dia naik bus kota. Dia hanya bilang, kalau sedang tidak punya uang.

“Kita jalan saja lewat jalan jalan kecil ini, kan agak teduh,” kata kakakku itu sambil tetap tersenyum.

Sesampai di rumah kami pun dengan lahap makan nasi dengan lauk “jangan bening”. Sayur kol yang direbus, memang sangat segar dan tentu saja sedap pada saat itu.

Sungguh kami menikmati kemiskinan itu tanpa keluhan karena bercita-cita untuk menjadi sarjana UGM. Masyaalah.

Kondisi ekonomi kembali surut karena persediaan uang beasiswaku dari Kampus Jakarta, semakin menipis. Situasi sulit itu diperburuk dengan belum juga aku mampu eksis kuliah di tempat yang baru.

Kebiasaan tidak pernah membeli buku, dan hanya bermodalkan kertas buram dan pena, yang sempat membuatku masuk peringkat waktu belajar di SMA, tidak lagi mampu menyerap ilmu-ilmu perkuliahan di UGM.

Menjelang akhir tahun ajaran, ketika pulang dari study tour dari Bali, kuutarakan kepada kakak perempuanku, kalau aku ingin pindah ke IKIP. Aku ingin menjadi guru matematika saja.
Setelah mimpiku ke Amerika hilang dan DO dari kuliah di Jakarta, memang aku berhasil kembali menembus Kampus Biru. Sukses lulus tes ujian masuk ke PTN itu, membuatku ingin ikut tes lagi ke ke IKIP. Kalau lulus tes, aku ingin kuliah di IKIP untuk memperkuat hobiku pada matematika.

Namun, hal itu gagal kulakukan. Jangankan bisa diterima di IKIP Jurusan Matematika, sedang untuk mendaftar sekadar ikut test saja, aku tidak bisa. Hal itu terjadi karena ijasah SMA-ku hilang.

Bisa jadi kakak perempuanku, yang mungkin merasakan bahwa menurunnya standar hidup dapat membuatku mengambil keputusan yang aneh-aneh, kalau tidak boleh dibilang nekat. Standar hidup yang sudah mulai baik ketika memperoleh beasiswa di Jakarta, kembali menurun ketika kuliah di UGM. Suatu hal yang juga dialami kelas menengah Indonesia, khawatir mengalami menurunnya posisi finansial, sehingga lebih banyak yang terkooptasi dengan pihak yang kuat.

Lalu ada tetangga —yang dengan bujukan kakakku mungkin— menawarkan kepadaku untuk menjadi penjaga guest house di “kampung kota” kami.

Kusebut “kampung kota”, karena kampungku, memang letaknya di pusat kota Yogyakarta. Di belakang Malioboro dan di samping jalan Mataram. Lokasi “kampung kota” itu juga berada di antara kantor Pemda DIY dengan DPRD DIY.

Sebagai destinasi wisata terkenal, Yogyakarta menjadi lahan subur bagi pemilik rumah rumah di “kampung kota” itu. Usaha membuka hotel, guest house dan lain sebagainya, marak. Jadilah aku kuliah dan kerja lembur sebagai penjaga “guest house”. Saat itulah kembali aku mulai berurusan dengan uang dari hasil keringatku sendiri.

Tentu banyak pengalaman baik maupun buruk, yang kudapatkan pada saat menjadi penjaga “guest house”. Di tempat itu, aku sempat berkenalan dengan orang-orang besar yang memberi semangat juang.

Namun, aku juga sering melihat turis dengan pakaian seadanya, masuk-keluar kamar. Bahkan kadang mereka santai saja gosok gigi di kamar mandi luar tanpa menutup pintu. Namun, satu hal yang diberi pesan betul dari pemilik “guest house” adalah pemeriksaan KTP dan kartu nikah, yang harus kulakukan, jika ada tamu berbeda jenis ingin menginap. Berbekal aturan itu, mau malam hari apalagi siang hari tidak ada ampun, kalau pasangan lawan jenis ingin menginap di tempat itu, tidak dapat menunjukkan kartu nikah, harus ditolak.
Kemudian ada juga teman belajar bersama saat masih SMA yang memintaku untuk mengajar adiknya yang bandel. Awalnya mereka memintaku memberi les Fisika. Padahal aku sebetulnya lebih suka mengajar Matematika daripada Fisika. Namun, info yang kuterima, adik temanku yang bandel itu suka dengan caraku mengajak dia belajar. Kemudian kakak perempuan si bandel itu juga les matematika.

Alhamdulillah, di samping menjadi penjaga “guest house” aku juga mengajar les privat. Dari kegiatan itu, aku tidak lagi berpikir seribu kali kalau ingin naik bus kota, kalau kuliah.

Namun, aku bahkan sering ingin menambah gizi dengan cara ikut seminar-seminar yang diadakan di kampus. Pede saja lagi. Pokoknya, dari arah Cemara Tujuh, kalau ada kumpul-kumpul di salah satu gedung pertemuan di sebelah kiri jalan, sebelum sampai bunderan kampus, aku masuk. Namun, nasib buruk terkadang menimpa, rupanya bukan kegiatan seminar, tetapi orang pesta mantenan. Malu kalau ingat hal itu. Datang ke pesta tanpa diundang.

Nah karena aku sering jalan-jalan mencari tempat seminar itulah, yang membuatku berjumpa dengan Masu di MIPA. Masu yang saat ini menjadi Rektor Universitas Swasta terkemuka, kampus orang berdasi yang beken itu, membawaku menjadi tentor matematika di Bimbel.

Namun, kesedihan kemudian muncul lagi di keluarga. Ketika aku begitu mulai sangat sibuk menjadi penjaga “guest house”, mengajar les privat dan mulai pula menjadi tentor Matematika di Bimbel. Hal itu membuatku mulai jarang pulang ke rumah. Aku lebih sering di “guest house” yang tidak sampai 10 rumah dari rumahku di hari kesedihan itu datang,
Ketika tiba-tiba masku yang pada masa jayanya nanti, akan menjadi Rektor PTS ternama itu, bilang kalau Ibu dalam kondisi sakratul maut. Subhanallah.

Itulah pengalamanku mengantar orang yang dalam kondisi sakratul maut pertama kali. Aku hanya mampu membisikkan sesuatu di telinga Ibu. Sampai akhirnya dihentikan oleh kakak perempuanku, karena Ibu sudah tiada.

Dalam kesedihan sepeninggal Ibu, mbak yang mempunyai “guest house” setuju kalau aku sebaiknya aktif saja di Primagama. Jadilah aku mulai mengawali kuliah sambil kerja karena hobi. Hobi dengan matematika mengantarku menjadi tentor di Bimbel. Aku kuliah betul betul menjalani SKS. Namun, bukan Sistem Kredit Semester melainkan Sistim Kebut Semalam.

Saya jadi jarang sekali berjumpa dengan kawan-kawan kuliah selain jam kuliah.

Hanya kalau pada saat menjelang ujian saja aku sibuk mencari info ke sana kemari, mendekati teman yang baik hati. Bagiku saat itu memfoto kopi dalam jumlah banyak bukan lagi menjadi masalah. Pergi dengan angkutan pun tidak menjadi hambatan lagi. Hal itu membuatku merasa bak bintang kejora.

Rasa pede yang tinggi itu, membuatku dapat menyelesaikan mata kuliah S1 di Kampus Biru. Namun, aku harus mampu membuat skripsi sebagai syarat lulus sebagai sarjana. Hal itu kumulai dengan mengurus surat izin penelitian. Di sanalah aku bertemu dengan Nety, yang kini sudah menjadi perempuan satu mliyar itu.
Bukan hanya karena dia miskin, lalu dia kupilih untuk menjadi pendamping hidupku. Namun, setelah sering aku berkunjung ke rumahnya di Tingkir Salatiga, suatu hari adik lelakinya menyindir seringnya aku datang ke Tingkir bertemu Nety.

“Kalau Mas Jacky, ingin serius dengan Mbak Nety, ya melamarlah,” selorohnya, saat aku sedang asyik mengobrol dengan Nety.

Saat itu aku hanya dapat terdiam. Akan tetapi, anganku mulai melayang.

Seriuskah diriku dalam mencari jodoh. Apakah kalau aku sudah melamar, lalu akan ijab kabul?

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak order wa/me: 081266804830

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 050526

Views: 28

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *