SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Bencana di Istana kerajaan Matraman Raya_

Posted by : wartaidaman 02/06/2026

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Ki Ning yang dibawa terbang oleh Panglima GaZa bersama Sumaidah, telah sampai di istana Kerajaan Matraman Raya. Mereka pun langsung dibawa masuk oleh Panglima GaZa yang pernah menjadi penghuni istana saat Raja Adi Setrum 35.000 megawatt, ayah Adi Seruling Sakti menjadi raja di istana Kerajaan Matraman Raya. Sampai di istana Kerajaan Matraman Raya, kondisi Ki Ning sudah mulai membaik. Ki Ning sebetulnya hanya merasa terkejut karena belum pernah dirinya terkena sambaran petir saat bertarung dengan musuhnya selama ini.

“GaZa, turunkan aku di sini. Malu aku, kalau sampai nanti Raja Adi Seruling Sakti melihatku, kamu gendong seperti ini. Ke mana, akan kutaruh mukaku, Ki Ning tokoh sakti BuJin,” kata Ki Ning, minta diturunkan dari gendongan Panglima GaZa.

“Aku juga, Paman GaZa. Malu dong Sumaidah, istri Paduka Raja Adi, kok digendong Panglima GaZa,” kata Sumaidah.

“Baik, Ki Ning dan putri Sumaidah. Hati-hati berdirinya, khawatir nanti masih jetlag pula. Karena tadi kan GaZa ajak terbang,” balas Panglima GaZa.

“Suara siapa itu, Adi?” tanya Niki, sambil mengelus rambut di kepala Adi yang masih tidur dalam pelukannya.

“Siapa, yang berani menganggumu di dalam istana ini Adi?” tanya Niki lagi.

“Ada apa, Bu?” Tiba-tiba Adi terbangun dan bertanya.
“Ada ribut-ribut di dalam istana. Siapa yang berani berbuat begitu dalam istanamu, Anakku?” tanya Niki, sambil bangkit dan membetulkan baju tidurnya.

“Mari kita lihat bersama, Bu,” balas Adi juga sambil membetulkan baju tidurnya.
Sungguh terkejut Ki Ning dan Sumaidah tentu saja, saat mereka melihat Adi keluar bersama seorang perempuan sambil masih memakai baju tidur. Tampak oleh mereka, kalau Adi Seruling Sakti itu baru bangun dari tidur bersama dengan perempuan itu, karena mereka keluar bersama dan masih memakai baju tidur pula.

Sementara Adi Seruling Sakti begitu melihat Ki Ning bersama Sumaidah dan Panglima GaZa yang datang, tentu saja langsung menyambut mereka dengan sukacita.

“Ki Ning. Selamat datang di istana Kerajaan Matraman Raya. Kenalkan ini, Bunda Niki. Bunda Niki, ini Ki Ning, ayah Sumaidah. Itu Sumaidah, selir Adi,” kata Adi Seruling Sakti, langsung mengenalkan mereka satu demi satu.

“Selamat datang, Ki Ning. Niki adalah Ibu Paduka Raja Adi.” sapa Niki.

“Ki Ning mengucapkan terima kasih, telah diundang ke istana, oleh Paduka Raja Adi seruling Sakti. Sungguh itu kehormatan yang tiada duanya, untuk Ki Ning dan Sumaidah putri Ki Ning dapat berada di istana Kerajaan Matraman Raya ini. Namun, Ki Ning perlu mohon maaf kepada Paduka Raja Adi Seruling Sakti, sebab Ki Ning tadi kewalahan bertempur dengan musuh di kebun singlong,” jelas Ki Ning.

Ki Ning merasa malu, karena diundang Raja Adi Seruling Sakti untuk membantu, melawan musuh Kerajaan Matraman Raya, tetapi justru Ki Ning kalah dalam pertempuran melawan musuh.

Namun, belum sampai Raja Adi Seruling Sakti menanyakan musuh yang dihadapi Ki Ning, tiba-tiba para BuJin turun dari langit dan langsung masuk ke dalam tubuh Ki Ning dan Raja Adi Seruling Sakti. Masuknya BuJin yang berkecendurangan jahat ke tubuh Raja Adi Seruling Sakti membuat dia menjadi tegang, bak menahan marah.
“Kebun singkong? GaZa, bukankah kebun singkong itu sudah kujaga dengan para BuJin?” tanya Raja adi Seruling Sakti.

“Betul, Paduka, tetapi mereka sudah melaksanakan tugasnya untuk menjaga kebun singkong itu, dari musuh yang akan masuk atau keluar. Bahkan para BuJin Paduka juga sudah bekerja sama dengan BuJin Ki Ning, Namun, mereka tetap kewalahan menghadapi musuh,” jelas Panglima GaZa.

“Kurang ajar! Siapa mereka berani melawan BuJin, Raja Adi Seruling Sakti. Katakan pada Rajamu ini Paman Gaza, siapa mereka? Biar kuhabisi mereka!” seru Raja Adi Seruling Sakti.
“Para BuJin itu sudah kembali kepada kita, Paduka Raja Adi. Mereka mampu membuat hujan dan petir yang menyambar. Ki Ning sempat hampir pingsan, karena terkejut belum pernah mendapat serangan petir seperti itu,” jelas Ki Ning.

“Petir, hujan! Kurang ajar!

Mereka betul-betul keterlaluan. Tidak ada hormatnya kepada Raja Adi Seruling Sakti. GaZa, jaga Bunda Niki dan Sumaidah! Biar kuhabisi mereka!” seru Raja Adi Seruling Sakti.

Adi Seruling Sakti pun seolah-olah ingin meninggalkan istana untuk menemui musuh.

Melihat hal itu, Niki langsung memeluk Adi, karena khawatir Adi akan celaka kalau sampai harus berperang melawan musuh. Kontan saja Sumaidah terkejut, melihat tindakan ibunda Raja Adi itu. Begitu juga dengan Ki Ning, saat melihat kenekatan ibu Adi melakukan kemesaraan di depan mereka. Namun, Ki Ning terkejut sekaligus terpana dengan kemolekan Niki.

“Ibu, biarkan Adi pergi melawan musuh. Sungguh berbahaya kalau sampai mereka nanti masuk ke istana,” kata Adi Seruling Sakti kepada Niki.

“GaZa, antar Sumaidah ke kamar Raja. Ibu harap istirahat dulu di kamar. Biar Adi berunding dengan Ki Ning untuk menghadapi musuh,“ tambah Adi Seruling Sakti.

“Paduka, Sumaidah tidak mau diantar Paman GaZa. Sumaidah ingin, Paduka yang mengantar Sumaidah,” pinta Sumaidah, karena masih jengkel melihat Raja Adi Seruling Sakti dipeluk Niki, ibunya.

Mendengar permintaan Sumaidah, selirnya itu, Raja Adi Seruling Sakti agak kebingungan menghadapi kelakuan dua perempuan yang disayanginya itu. Dua perempuan luar biasa bagi Raja Adi Seruling Sakti, yang satu Niki, ibu masih memeluknya dan yang satu lagi Sumaidah, selir, yang baru datang ke istana, belum tahu letak kamarnya. Namun, tanpa Adi sadari, tiba-tiba Niki melepas pelukannya.

“Adi, antar selirmu ke kamar. Biar dia istirahat dulu,” kata Niki.

“Baik, Ibu. Ayo, Sumaidah, kita ke kamar, mengikuti perintah Ibu,” kata Raja Adi Seruling Sakti.

“Begitu baru betul. Kalau begitu, Sumaidah akan dengan sukacita, akan ikut perintah Paduka,” kata Sumaidah.

Setelah Raja Adi Seruling Sakti mengantar Sumaidah, meninggalkan ruangan itu, Panglima GaZa pun ikut-ikutan pergi dari ruangan itu. Melihat tingkah Panglima Gaza menyelinap pergi dari ruangan, maka Niki pun menawarkan Ki Ning untuk minum kopi dan bermaksud mengajak Ki Ning ke dapur istana.

“Ki Ning, mari kita ngopi dulu, di dapur istana,” ajak Niki, sambil membuka lagi satu lagi kancing baju tidurnya.

Ki Ning yang masih terpana dengan kemolekan Niki, tentu saja tanpa berkata sepatah kata pun lalu mengikuti langkah Niki menuju ruangan yang kata Niki dapur istana. Niki yang melihat Ki Ning tampak bernafsu mengikuti langkahnya lalu pura-pura mau jatuh. Melihat Niki mau jatuh, Ki Ning pun langsung bergerak cepat menyambar tubuh Niki dan memeluknya.

“Ki Ning … kamu … sungguh sigap …,” desis Niki.

Sebelum Ki Ning membalas kata-kata Niki, tiba-tiba Niki mendekatkan kepalanya ke muka Ki Ning, sambl melepas kancing bajunya satu lagi.
“Ki Ning ….”

Akan tetapi, pada saat bersamaan tiba-tiba turun hujan begitu deras, disertai dengan suara petir menyambar-nyambar di langit di atas istana. Kontan saja Niki menjadi ketakutan. Bukannya Niki memeluk Ki Ning, tetapi dia justru meninggalkan Ki Ning yang terbengong-bengong di dapur istana.

 

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak order wa/me: 081266804830

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 020626

Views: 14

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *