SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Jenasah Niki Hilang_

Posted by : Her Way 09/06/2026

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

“Wahyudi tidak hilang, Paduka. Akan tetapi, dia pergi ke lereng Bromo. Wahyudi ingin melihat Raden Jalak Sakti dan Puja, anak dan istrinya di sana, sekalian menemui istri Paduka, Putri Nabilla dan Pangeran Adam. Eyangmu Putri Biyan mungkin masih jetlag, jadi dia cemas, saat ingat belum melihat Wahyudi,” kata Ki Ageng Batman saat melihat Raja Danang, Sayidin Panotogomo ikut bingung, karena Putri Biyan mengatakan kalau Wahyudi hilang.

“Lereng Bromo, Eyang Ageng Batman? Oh, ya. Kami berdua dengan Wahyudi memang menitipkan Putri Nabilla, Pangeran Adam, serta Puja dan Raden Jalak Sakti kepada Eyang Mbah Kikuk serta Panembahan Jati di sana. Alhamdulillah, kalau Wahyudi dapat pergi ke sana. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja di lereng Bromo. Insya Allah Aaamiin,” balas Raja Danang, Sayidin Panotogomo merasa lega, setelah mengetahui kalau Wahyudi tidak hilang, bahkan menyempatkan diri ke lereng Bromo.

Dia sendiri bahkan belum terpikir, untuk menjenguk Putri Nabilla dan Pangeran Adam di sana. Situasi sulit yang dihadapinya, serta ancaman terhadap keluarga istana Kerajaan Matraman Raya, karena ulah jahat Adi Seruling Sakti, membuat dia fokus untuk menugaskan Salahuddin menjalankan misi penyelematan keluarga istana. Teringat tentang misi penyelamatan itu, Raja Danang, Sayidin Panotogomo pun kembali bertanya tentang Salahuddin.

“Lalu bagaimana dengan Salahuddin, juga Ayahanda Ustaz Bondan Kaja? Apa yang terjadi dengan mereka, Eyang Ageng Batman?” tanya Raja Danang, Sayidin Panotogomo lagi.

“Itu, eyangmu ini juga tidak tahu tentang hal itu. Karena begitu kami sudah berada di Perahu Surya bersama Dinda Biyan, Putri Raisa, Bunda Lilik, Putri Anya, Pangeran Mustofa, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe, kami langsung dibawa terbang secepat kilat oleh Jalal dan Tanjung,” balas Ki Ageng Batman.

“Kami berdua diminta Salahuddin untuk fokus menjalankan misi penyelematan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya, supaya dapat segera menghadap Paduka. Sehingga kami juga tidak lagi memperhatikan lagi Salahuddin. Kami berpikir Salahuddin, akan mengawal kami dari belakang, jika masih ada ancaman yang akan mengganggu perjalan kami membawa keluarga istana dengan selamat untuk menghadap Paduka,” tambah Jalal dan Tanjung kompak.

Lalu di mana Salahuddin sekarang?pikir Ratu Ana, dia juga mulai merasa cemas terhadap keselamatan Salahuddin.Namun, merasa tidak sopan kalau langsung ikut nimbrung bertanya tentang Salahuddin.    

“Seharusnya, Salahuddin sudah sampai juga dan harus segera menghadap Paduka. Karena kesaktian Salahuddin ancaman serangan dari kelompk Adi Seruling Sakti itu sudah dilumpuhkan oleh kekuatan Mendung Pembawa Hujan dan Penangkap Petir.

Salahuddin bahkan meminta kepada kami berdua untuk membantu Bupati Kediri, Bejo Cinekel untuk menemukan Ustaz Bondan Kaja. Bupati Kediri, Bejo Cinekellah yang mampu mengenali ajian Penangkap Petir Ustaz Bondan Kaja. Sementara Salahuddin mengamankan usaha kami menerobos pasukan jin dari Ki Ning yang mengerikan,” jelas Jalal dan Tanjung.

“Aneh juga, kalau sekarang Salahuddin belum menghadap Paduka,” tambah Jalal dan Tanjung.

“Alhamdulillah, kalau Ayahanda Bupati Kediri ikut dengan misi Salahuddin menyelamatkan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya. Mudah-mudahan nanti Ayahanda juga dapat segera bergabung di sini, Paduka,” sela Pangeran Hafiz, Bagus Tinukur.

Dia merasa bersyukur, karena Bupati Kediri, Bejo Cinekel adalah ayahandanya. Sejak dia menghilang di Hutan Mantingan bersama Raja Danang, Pendekar Langit Abu Arang, sampai saat ini dia belum berjumpa dengan ayahandanya itu.

“Alhamdullliah, kalau Kanda Bupati Kediri juga ikut serta dalam misi Salahuddin. Hal itu akan membuat tim misi penyelamatan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya semakin kuat. Terbukti dengan tugas yang diberikan Paduka kepada Salahuddin untuk menjalankan misi penyelamatan itu sudah berhasil. Mudah-mudahan Salahuddin akan segera menghadap Paduka.” Pendekar Langit Abu Arang pun ikut memberi semangat kepada Raja Danang, Sayidin Panotogomo.

“Masalahnya, Salahuddin sampai saat ini belum menghadap. Ayahanda Ustaz Bondan Kaja juga belum ada di antara kita. Begitu juga Bupati Kediri, Bejo Cinekel. Jangan-jangan mereka ….” Raja Danang, Sayidin Panotogomo tidak melanjutkan kata-katanya, ada rasa khawatir yang muncul dalam pikiran Raja Danang, Sayidin Panotogomo.

“Maaf, Paduka. Tidak mungkin, hal itu terjadi. Salahuddin tidak mungkin pergi untuk menyerang Adi Seruling Sakti dan teman-temannya. Karena Salahuddin sendiri sudah menegaskan, kalau misi penyelamatan yang dibebankan di pundaknya, harus berhasil,” kata Jalal dan Tanjung seolah ingin menebak arah pembicaraan Raja Danang, Sayidin Panotogomo.

“Jalal dan Tanjung, maksud kalian, Salahuddin langsung menyerang Adi Seruling Sakti ke istana Kerajaan Matraman Raya, begitu?” tanya Ki Ageng Batman.

“Jalal dan Tanjung hanya menebak maksud dari pemikiran Paduka, Raja Danang, Ayah. Rasanya Salahuddin belum pernah pergi ke istana Kerajaan Matraman Raya. Jadi tentu Salahuddin tidak tahu, letak istana. Tentu saja, tidak mungkin Salahuddin dapat pergi ke sana,” balas Jalal dan Tanjung.

“Tapi kalau Ayahanda Ustaz Bondan Kaja bisa pergi ke istana,” kata Raja Danang, Sayidin Panotogomo.

“Ayahandamu, kalau tidak Bunda tahan memang akan mempertahankan istana Kerajaan Matraman Raya, Paduka,” sela Putri Raisa.

“Astagfirullah. Ayahanda mengapa harus berbuat nekad untuk membela Kerajaan Matraman Raya? Sungguh putramu Danang menjadi manusia tidak berguna, sampai membuat Ayahanda menempuh bahaya besar.” Raja Danang, Sayidin Panotogomo merasa sedih, kalau hal itu terjadi. Suasana di istana Kerajaan Madiun pun menjadi hening karena hal itu.

Semua terdiam tidak ada yang berani mengatakan sesuatu. Suasana bahagia setelah misi penyelamatan keluarga istana Kerajaan Matraman Raya berhasil dilaksanakan, berubah menjadi kekhawatiran terhadap keselamatan Ustaz Bondan Kaja, Bupati Kediri, bejo Cinekel dan Salahuddin yang belum juga tampak menghadap Raja Danang, Sayidin Panotogomo.

“Assalamu’alaikum. Paduka, Raja Danang, Ayahandamu Ustaz Bondan Kaja datang menghadap, bersama Bupati Kediri dan Salahuddin.” Tiba-tiba terdengar suara Ustaz Bondan Kaja.

Kontan seluruh istana bagai ingin bersorak mendengar suara Ustaz Bondan Kaja yang mereka tunggu-tunggu.

Ratu Ana pun ikut tersenyum walau masih tampak tersipu malu. Kalau Salahuddin datang dengan selamat dan berhasil menjalan tugas yang dilaksanakan oleh Raja Danang, Sayidin Panotogomo, maka dia harus bersedia menjadi istri Salahuddin.

“Alhamdulillah, Ayahanda selamat,” kata Raja Danang, Sayidin Panotogomo.
***

“Paduka, eyangmu Ki Ageng Batman ini, minta izin untuk berangkat ke Kediri sambil menjemput Ijah, ibunya Salahuddin. Supaya dia dapat menghadiri pernikahan Salahuddin dengan Ratu Ana. Biar Jalal dan Tanjung yang mengantar kami ke Kediri,” kata Ki Ageng Batman.

“Alhamdulillah, kita semua bersyukur karena atas rahmat Allah Subahana wa Ta’ala, keluarga istana Kerajaan Matraman Raya dapat selamat dan berkumpul semua di sini. Pernikahan Salahuddin dan Ratu Ana, tentu saja akan membuat mereka lebih bahagia, kalau ibu Salahuddin dapat mendampinginya.

Terima kasih, Eyang Ageng Batman sudah mau merepotkan diri untuk menjemput ibu Salahuddin ke Kediri.

Jalal dan Tanjung sudah seharusnya mengawal Eyang Ageng Batman untuk keperluan itu.

Silakan Eyang Ageng berangkat ke Kediri. Itu bagus untuk Salahuddin dan Ratu Ana,” kata Raja Danang, Sayidin Panotogomo.
***

“Paduka, Raja Adi, sebaiknya kita tidak perlu mengejar orang-orang sakti itu. Toh mereka juga akhirnya pergi tidak menganggu kita lagi. Mari kita kembali ke istana. Takhta Kerajaan Matraman Raya itu lebih penting bagi Paduka,” kata Ki Ning kepada Raja Adi Seruling Sakti yang sebetulnya masih ingin mengejar musuh-musuhnya. Akhirnya Raja Adi Seruling Sakti pun mengikuti nasehat Ki Ning, ayah mertuanya.

Mereka berdua pun kembali terbang menuju istana Kerajaan Matraman Raya. Namun, mereka berdua terkejut tatkala tidak lagi menjumpai jenazah Niki, yang gosong dan tadinya tergeletak di depan pintu istana.

“Siapa, yang berani mengambil jenazah Bunda Niki?” tanya Raja Adi Seruling Sakti.

 

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak order wa/me: 081266804830

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 080626

Views: 11

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *