Beranda / LifeStyle / SALAHUDIN JALAL TANJUNG: episode 2 _Pendekar Literasi_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: episode 2 _Pendekar Literasi_

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Belum lagi Putri Raisa sempat memikirkan cara untuk mengatasi bahaya yang akan mengancam penghuni istana Kerajaan Matraman Raya, tiba-tiba datang Putri Anya berlari menuju ke arahnya. Tampak oleh Putri Raisa, Putri Anya dari jauh telah meraung sambil mengendong Pangeran Mustofa, diikuti Putri Biyan.

“Bunda Raisa, bagaimana nasib kami nanti, jika Paduka Raja Danang telah mati?” tanya Putri Anya histeris.

“Astagfirullah, Putri Anya, jangan berteriak seperti itu,” jawab Putri Raisa mencoba tenang.

“Semua orang sedang bingung saat ini. Jadi jangan bertindak ceroboh dengan berteriak-teriak histeris seperti itu. Lagipula belum ada info kalau Paduka Raja telah meninggal karena kalah perang dengan Adi. Bunda sedang memikirkan cara supaya kita dapat terhindar dari bahaya, jika Adi merebut takhta Kerajaan Matraman Raya,” jelas Putri Raisa.

“Apakah, ada yang melihat Ustaz Bondan Kaja?” tanya Putri Raisa kemudian.

“Kami belum melihat Ustaz Bondan Kaja dan tidak tahu di mana beliau sekarang,” kata Putri Biyan.

“Apakah Bunda Putri Biyan tahu, di mana Wahyudi saat ini? Biasanya Wahyudi sering belajar bersama Ustaz Bondan Kaja,” tambah Putri Raisa.

“Sudah beberapa hari ini, Wahyudi tidak menemui Bunda Biyan, Putri Raisa. Bunda Biyan pikir, Wahyudi justru sedang bersama Ustaz Bondan Kaja. Karena Bunda Biyan ke istana Kerajaan Matraman Raya ini, kan memang membawa Wahyudi untuk belajar ilmu Tauhid kepada Ustaz Bondan Kaja, sekalian menanti kelahiran bayi Putri Anya, waktu itu,” jelas Putri Biyan.

“Kalau Ustaz Bondan Kaja tidak diketahui posisinya di mana, dan Wahyudi juga jarang menemui Bunda Biyan, apa yang akan terjadi kepada mereka berdua?” tanya Putri Biyan cemas.

“Assalamu’alaikum. Saya di sini, Putri Biyan.” Tiba-tiba terdengar suara Ustaz Bondan Kaja, yang kemudian menghampiri mereka.

Melihat kedatangan Ustaz Bondan Kaja seorang diri, Putri Biyan tidak tahan. Sambil menangis, dia segera menyapanya sekalian menanyakan keberadaan Wahyudi.

“Waalaikumsalam. Alhamdulillah Ustaz Bondan Kaja sudah berada di sini. Di manakah Wahyudi berada saat ini, Ustaz?”

“Beberapa hari yang lalu, Wahyudi masih belajar mengaji, ilmu Tauhid bersama saya. Namun, tiba-tiba ….” Ustaz Bondan Kaja tidak melanjutkan kata-katanya, karena dia sendiri tidak tahu peristiwa yang terjadi pada Wahyudi saat itu. Ustaz Bondan Kaja hanya tahu, kalau tiba-tiba Wahyudi tubuhnya naik ke atas dan terbang ke arah timur, kemudian menghilang dari pandangannya.

“Tiba-tiba Wahyudi kenapa, Ustaz?” tanya Putri Biyan tambah cemas, melihat wajah Ustaz Bondan Kaja tampak bingung.

“Saya tidak tahu kejadiannya, Putri Biyan,” kata Ustaz Bondan Kaja.

“Tidak tahu, bagaimana Ustaz? Kan, Wahyudi sedang bersama Ustaz. Kok, bisa Ustaz tidak tahu, Wahyudi bagaimana?” tanya Putri Biyan bertubi-tubi, bahkan karena terlalu mengkhawatirkan keadaan Wahyudi, dia sampai lupa kalau sedang berbicara kepada seorang Ustaz.
Putri Biyan, takut kalau ditanya suaminya, Ki Ageng Batman di tepian Kali Gajah Wong, karena tidak tahu keberadaan Wahyudi saat ini.

Hal itu membuat Putri Biyan lupa adab saat bertanya kepada Ustaz.

Putri Biyan menyosor Ustaz Bondan Kaja seolah tanpa henti. Suatu perbuatan yang tidak terpuji, pada saat suasana normal.

Namun, karena situasi dan kondisi sedang genting, akibat berita Adi akan merebut takhta Kerajaan Matraman raya, yang juga akan mengakibatkan ancaman bahaya bagi mereka, Ustaz Bondan Kaja memaklumi desakan Putri Biyan yang seolah melupakan adab bertanya kepada ustaz, saat bertanya kepadanya.

Sementara Ustaz Bondan Kaja pun masih belum tahu cara untuk memberi penjelasan yang tepat, tentang kondisi Wahyudi saat ini.

“Saat itu Wahyudi tiba-tiba menghilang dari hadapan saya, Putri Biyan,” kata Ustaz Bondan Kaja, akhirnya memberi tahu seadanya.

“Wahyudi menghilang, Kanda Bondan Kaja. Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya Putri Raisa ikut penasaran mendengarnya.

“Menghilang bagaimana, Ustaz?” tanya Putri Biyan semakin mendesak Ustaz Bondan Kaja.

“Astagfirullah, Wahyudi sedang belajar ilmu Tauhid. Namun, saat dia mencoba memahami hadis Hurairoh, tentang tiga orang pertama yang masuk neraka, yaitu ahli sedekah, ahli Qur’an dan ahli jihad, tiba-tiba badan Wahyudi melambung ke atas, dan terbang ke arah Timur, lalu menghilang. Sungguh hanya itu yang teringat,” jelas Ustaz Bondan Kaja.

“Subhanallah. Apa yang terjadi dengan Wahyudi, ya?” kata Putri Raisa.

“Astagfirullah. Ampunilah, hamba-Mu ini, ya Allah. Ke mana Wahyudi menghilang? Bagaimana Bunda harus bilang kepada Ki Ageng Batman? Maafkan suamiku, aku tidak mampu menjaga anakmu!” teriak Putri Biyan histeris.

“Bunda Raisa, bagaimana nasib kita, kalau istana ini diduduki oleh pembunuh Paduka Raja Danang? Apa yang akan terjadi dengan Pangeran Mustofa, nantinya?” Putri Anya pun juga ikut berteriak histeris.

“Astagfirullah. Ampunilah, hamba-Mu. Berilah kami petunjuk untuk mengatasi masalah besar ini. Bahaya yang akan mengancam seluruh keluarga istana Kerajaan Matraman Raya,” kata Putri Raisa.

“Putri Raisa, jangan khawatir. Akan kuhadapi si Adi yang akan merebut takhta Kerajaan Matraman Raya!” seru Ustaz Bondan Kaja.

“Assalamu’alikum. Sebaiknya kita jangan bertindak gegabah dalam menghadapi Adi.” Tiba-tiba Pujangga Halim masuk ke istana bersama Bunda Lilik. Kedua orang tua Putri Raisa itu merasa, mereka harus segera ke istana karena juga mendengar kekalahan Raja Danang dari Adi.

“Kekalahan Paduka Raja Danang dari Adi, harus kita ambil sebagai pelajaran. Kalau Paduka Raja Danang saja, bisa dikalahkan Adi, maka kita semua yang berada di sini, tidak mungkin mampu mengalahkan Adi. Apalagi ada Pangeran Mustofa, yang masih kecil,” jelas Pujangga Halim.

“Menurut hematku, sebaiknya kalian segera menyelematkan diri, daripada menjadi tawanan Adi yang tentu dalam waktu dekat ini, akan menduduki takhta Kerajaan dan menjadi raja di Matraman Raya,” tambah Pujangga Halim.

“Maksud Ayahanda Pujangga dengan kalian?” tanya Putri Raisa.

“Apakah Ayahanda tetap akan bertahan di sini? Bukankah itu akan sangat berbahaya, Ayahanda. Karena Ayahanda adalah Kakek Paduka Raja Danang, yang tentu akan dianggap musuh oleh Adi. Bukankah kalau Ayahanda tetap di sini, Ayahanda justru akan menjadi sasaran empuk serangan Adi?” tanya Putri Raisa.

“Betul perkataanmu, Raisa. Bunda akan menemani cicitku Pangeran Mustofa, menyelamatkan diri. Bunda akan ikut kalian!” seru Bunda Lilik.

“Sebaiknya kalian cepat berkemas, segera berangkat! Jangan memikirkan nasibku. Aku Pujangga Halim punya cara sendiri untuk menghadapi Adi, tapi tidak dengan berperang melawannya. Nasib kalian lebih penting dari semuanya bagiku saat ini,” jelas Pujangga Halim.

“Baiklah, kalau memang itu merupakan keputusan Ayahanda. Namun, bolehkah Raisa bertanya, apa yang akan Ayahanda lalukan terhadap Adi, supaya Ayahanda tidak menjadi korbannya? Hal itu Raisa anggap penting, supaya kami dapat pergi menyelamatkan diri dengan hati tenang, tidak lagi khawatir akan keselamatan Ayahanda,” kata Putri Raisa.

“Putri Raisa lupa, ya. Ayahandamu kan seorang Pujangga. Jadi ayahandamu akan mendorong Adi sebagai raja untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakat dengan membuat even-even menulis buku. Kegiatan itu akan membuat Adi mendapat dukungan masyarakat. Dengan demikian posisi ayahandamu, Insya Allah, akan aman,” jelas Pujangga Halim.

“Pendekar Literasi!” seru Bunda Lilik.

“Proyek lagi, ya, Bunda?” tanya Putri Raisa.

“Udah cepat kalian harus segera mencari tempat untuk menyelamatkan diri dari Adi. Jangan justru menggosip!” seru Pujangga Halim, gerah.

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 011025

Views: 59

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *