“Ayah, jahat!” teriak Sumaidah sambil memukuli badan Ki Ning.
“Tapi tadi kamu teriak-teriak minta tolong ayahmu, Sumaidah?” tanya Ki Ning, bingung melihat reaksi Sumaidah yang justru marah kepadanya karena menyerang pemuda yang mengejar anak gadisnya dengan ajian BuJin (Seribu Jin).
Akan tetapi, tanpa ayah dan anak itu sadari, pada saat para BuJin itu mendekati Adi, yang sudah roboh dan mungkin pingsan itu, salah satu dari Bu Jin itu mendapatkan seruling sakti Adi. Dia pun mengambil seruling sakti itu dari pakaian Adi. Lalu lari meninggalkan tubuh Adi yang tergeletak di pekarangan rumah Ki Ning. Tingkah salah satu BuJin yang membawa seruling sakti Adi itu kemudian diikuti oleh para BuJin yang lainnya. Kontan saja para BuJin itu lalu menjauh dari tubuh Adi yang masih tergelatak.
Melihat hal itu, spontan Sumaidah berlari menghampiri Adi. Sambil duduk di dekat Adi, Sumaidah pun menggoyang-goyangkan tubuh Adi. Adi yang setengah pingsan, setengah sadar, karena mendapat serangan dari para BuJin, menganggap dirinya sudah mati. Namun, saat dirinya merasa ada tangan yang menggoyangkan badannya, Adi pun mencoba memegang tangan itu dengan tangan kanannya. Terasalah oleh Adi, tangan yang dipegangnya sangat halus. Saat Adi mulai mencoba membuka matanya, tampak samar-samar wajah gadis cantik itu bernama Sumaidah itu sangat cemas, duduk di sampingnya.
Sumaidah yang masih belum menyadari kalau Adi sudah sadar, masih terus menggoyangkan tubuh Adi. Adi yang juga masih menganggap dirinya sudah mati pun, akhirnya bertindak nekat. Tangan kanannya pun berpindah dari tangan Sumaidah, ke punggung, sambil berusaha untuk bangkit. Akibatnya Adi dan Sumaidah seperti hampir berpelukan.
“Sudah, sudah. Hentikan sandiwara kalian ini! Kalau kalian ingin menikah, mengapa harus pakai alasan berkelahi dulu,” teriak Ki Ning gusar.
Ki Ning telah salah duga, karena melihat adegan Sumaidah bersama pemuda itu dan menganggap Sumaidah takut memberi tahu Ki Ning, kalau dia mempunyai hubungan dengan pemuda itu. Lalu mereka berdua bersandiwara untuk meminta belas kasihan Ki Ning untuk disetujui hubungannya. Ki Ning tahu, selama ini, belum ada pemuda yang berani mendekati Sumaidah, karena takut berhadapan dengannya. Mereka khawatir terkena serangan aji BuJin, jika berani kurang ajar kepadanya.
“Sumaidah. Ayo terus terang kepada ayahmu! Katakan siapa pemuda itu!” seru Ki Ning.
Mendengar suara keras ayahnya, dan melihat tiba-tiba pemuda itu sudah hampir memeluknya, Sumaidah pun segera menampar wajah Adi.
“Kurang ajar! Sudah sadar kamu, rupanya!” seru Sumaidah, lalu berusaha melepaskan tangan kanan Adi dari punggungnya.
Namun, bukannya Adi melepaskan pelukannya, dia justru meraih punggung Sumaidah dengan tangan kirinya, sambil berusaha untuk duduk. Kontan saja badan Sumaidah menjadi semakin dekat dengan badan Adi.
“Ayah, bunuh dia!” teriak Sumaidah sambil tangan kanannya meronta.
Adi yang akhirnya merasa hidup kembali, karena mendengar suara dan melihat Sumaidah yang cantik itu marah dan meronta dari pelukannya, lalu bergerak cepat dan mengecup bibir mungil Sumaidah. Sumaidah pun gelagapan tak berdaya. Pelukan Adi pun semakin erat pada Sumaidah. Kontan saja pemandangan itu membuat Ki Ning semakin gerah.
“Sungguh kalian tidak sabaran. Kalau mau begituan, di dalam rumah kan bisa. Bikin malu Ayah saja, kamu Sumaidah,” kata Ki Ning sambil meninggalkan Sumaidah dan Adi di halaman rumah. Ki Ning pun kemudian masuk rumah, tidak ingin mengganggu dua anak manusia yang dikiranya sedang dimabuk cinta itu, sampai lupa etika.
“Sumaidah, aku ingin kau menjadi selirku, eh istriku, maksudku,” kata Adi.
“Tuan ini siapa? Kok berani lancang melamarku!” seru Sumaidah. Namun, hatinya berdebar-debar.
Akhirnya. Ada juga pemuda yang berani melamarku untuk menjadi istrinya, tapi kok dia bilang tadi selirnya. Memang siapa pemuda ini? pikir Sumaidah.
“Aku Raja Adi, raja Kerajaan Matraman Raya. Aku ingin memperistrimu Sumaidah. Akan tetapi …,” kata Adi main tembak langsung, tetapi menggantungkan ucapan.
“Tapi apa, Paduka Raja Adi …?” kata Sumaidah tergagap, tetapi bangga.
Belum pernah aku dilamar. Sekali dilamar, aku akan menjadi istri raja. Masya Allah, pikir Sumaidah.
“Aku sudah mempunyai Permaisuri Nyai Langit Utara. Jadi kamu akan menjadi selirku. Selir Raja Adi, raja di Kerajaan Matraman Raya. Selain itu, kamu hanya akan menjadi selirku, kalau ….”
“Kalau apa, Paduka?” berasa tak sabar lagi Sumaidah, ingin segera tahu yang diinginkan Adi supaya dia dapat menjadi selirnya.
“Kalau ayahmu Ki Ning, mau membagi ajiannya yang mengerikan kepadaku. Apa nama ajian itu, Sumaidah?” tanya Adi.
“BuJin,” kata Sumaidah,
“Ajian Seribu Jin, namanya.”
Lalu buru-buru menjelaskan.
“Ajian Seribu Jin? Ih, ngeri, aku mendengar namanya. Takut aku, Sumaidah, tapi aku tidak mau menikah denganmu, kalau ajian BuJin ayahmu Ki Ning itu, tidak dibagikan kepadaku,” jelas Adi.
“Paduka, benarkah, Paduka Raja Adi, ingin menikah denganku, Sumaidah si gadis desa ini?” tanya Sumaidah ingin menegaskan.
“Ya. Tapi, kalau Ayahmu Ki Ning mau membagi ajian BuJin kepadaku,” kata Adi.
“Baiklah, Paduka. Sumaidah akan mencoba membujuk Ayah, supaya dia mau membagi ajian BuJin, kepada Paduka. Namun, Paduka harus berjanji, mau menjadikan Sumaidah menjadi istri Paduka,” pinta Sumaidah, karena tidak ingin kehilangan kesempatan ada pemuda yang melamarnya.
“Janji,” tegas Adi.
“Paduka tunggu di sini. Biar Sumaidah berunding dengan Ayah,” kata Sumaidah, lalu berlari masuk rumah, akan menemui Ki Ning.
Saat Sumaidah menjelaskan permintaan Adi, Ki Ning terkejut setengah mati.
“What’s? Minta dibagi ajian BuJin? Sudah gila apa dia?!” teriak Ki Ning.
“Paduka Raja Adi serius Ayah!” seru Sumaidah tidak kalah kerasnya.
“Paduka Raja Adi, katamu. Memang dia raja di kerajaan mana?” tanya Ki Ning.
“Kerajaan Matraman Raya dekat UI jalan Pramuka, Ayah. Ah, Ayah, mana tahu UI segala,” kata Sumaidah.
“Ayah tahu saja. Itu di Jakarta, kan?” tegas Ki Ning tidak mau kalah.
“Kalau Ayah sudah tahu, mengapa Ayah menolak?” tanya Suamidah.
“Ya. Masak anak perempuanku satu-satunya diminta, ajian BuJinku mau diminta pula!” seru Ki Ning.
“Dibagi, Ayah. Bukan diminta,” jelas Sumaidah.
“Sama saja. Memang kalau ayahmu tidak mau membagi ajian BuJin, bagaimana?” tanya Ki Ning.
“Paduka Raja Adi, tidak mau menjadikan Sumaidah sebagai istri, eh selir,” kata Sumaidah malu-malu.
“Selir? Kamu gadis paling cantik di desa ini. Anak Ki Ning yang ditakuti banyak orang. Hanya mau dijadikan selir! Kurang ajar dia!” seru Ki Ning.
“Dia sudah punya Permaisuri, Ayah. Lagian dia itu raja, Ayah. Masih untung, Paduka Raja Adi itu mau menjadikan Sumaidah menjadi istrinya. Daripada di sini terus, tidak ada pemuda yang berani datang, karena takut dengan Ayah,” jelas Sumaidah.
“Suruh dia ambil serulingnya!” seru Ki Ning.
Sebetulnya Ki Ning sendiri merasa aneh. Para BuJin itu tidak membunuh atau paling tidak menyiksa Adi, raja Matraman Raya itu, tetapi justru mengambil serulingnya.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ wi/ nf/ 101025
Views: 36











