SALAHUDIN JALAL TANJUNG: episode 4 _Ki Ning_

Posted by : wartaidaman 10/10/2025

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Untuk sesaat Adi mencari senjata seruling saktinya. Begitu seruling sakti itu dipastikannya masih ada di pakaiannya, dia pun kemudian mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk bergerak bagai terbang di antara pepohonan di pegunungan itu.

Adi merasa pede kalau dia sudah memegang seruling saktinya. Kekuatan tenaga dalam Adi dapat disalurkan melalui seruling sakti itu berkat latihan yang dilakukan Putri Ming. Kesaktiannya itu yang membuat Adi dikenal sebagai Pendekar Seruling Sakti.
Putri Raisa bersama Ustaz Bondan Kaja dan seluruh penghuni istana Kerajaan Matraman Raya, Putri Anya, Pangeran Mustofa, Putri Biyan, pernah mengalami ketakutan yang amat sangat, saat Adi Pendekar Seruling Sakti itu beraksi. Pintu, jendela, dan atap Istana Kerajaan Matraman Raya seakan-akan mau terlepas dari tempatnya saat Adi meniup Seruling Sakti.

Bahkan pintu benteng istana pun seakan-akan mau terbuka, karena tiupan angin yang keluar dari Seruling Sakti Adi.

Sebagai Pendekar Seruling Sakti, Adi yakin akan dapat menduduki takhta Kerajaan Matraman Raya dengan mudah. Karena Danang, Sayidin Panotogomo yang pernah mengalahkannya saat ingin merebut takhta Kerajaan Matraman Raya pertama kali, sudah dapat dia pastikan menghadapi kematian bersama Pangeran Hafiz Bagus Tinukur dan Pendekar Langit Abu Arang dalam pertempuran bertiga di Surabaya —yang memang direkayasanya.

Adi termangu saat sedang terbang dengan ginkangnya di pegunungan itu, karena dia ingin menuju istana Kerajaan Matraman Raya, tetapi tidak tahu arah.

Namun, saat dalam kondisi bingung itu, dari atas, tampak oleh Adi, ada seorang gadis yang sedang mencuci kain di sebuah sungai. Untuk sesaat dia teringat pesan Ratu Langit Utara, kalau dia harus mencari wanita-wanita sebagai selirnya.

Teringat akan pesan Ratu Langit Utara, bahwa dia harus taat dan patuh kepada ratu itu, dia pun berpikir akan memperistri gadis yang sedang mencuci di sungai itu.

Namun, tiba-tiba datang niat degilnya, untuk menggoda gadis itu dulu. Sebelum Adi akan memperistri gadis itu, dia ingin menggodanya lebih dulu, dengan mengerahkan tenaga sakti dari serulingnya.

Ditiuplah seruling saktinya, sehingga membuat pakaian gadis itu berkibar-kibar seperti mau terlepas dari badannya. Kontan gadis itu lari ketakutan sambil memegangi kain ditubuhnya, menuju rumah, sambil berteriak, sambil tergagap ketakutan.

“Ayah Ki Ning … tolong Sumaidah ….”

Adi melihat gadis itu berlari dan mendengar kalau gadis itu meminta tolong seseorang dengan menyebut Ki Ning sebagai ayahnya, dan juga menyebut namanya Sumaidah.

Adi pun mencoba mengikuti gadis itu sambil tetap meniup serulingnya dengan pelan, sehingga pakaian gadis itu tidak sampai terlepas. Gadis itu pun terus berlari sampai ke sebuah rumah yang mempunyai halaman luas dan berpagar, bahkan di bagian depan tampak ada gapura.

“Ayah Ki Ning … tolong Sumaidah ….” Lagi-lagi gadis itu berteriak setelah memasuki gapura.

Sebetulnya dia berteriak sambil menyebut nama Ki Ning, sang ayah, karena berharap orang yang mengganggunya takut mendengar nama besar Ki Ning. Ki Ning terkenal sebagai tokoh sakti di pegunungan itu.

Ki Ning dikenal mempunyai ajian BuJin (Seribu Jin). Banyak orang harus lari terbirit-birit, bahkan bisa sampai mati kaku, jika terkena serangan ajian BuJin Ki Ning. Hal itu yang membuat Sumaidah berani mencuci sendirian di sungai.

Sumaidah yakin tidak akan ada orang yang berani mengganggunya. Orang yang akan mengganggu dirinya, pasti takut mendapat serangan aji BuJin Ki Ning.

Akan tetapi, Sumaidah heran karena suara seruling itu terus mengikutinya. Sejak ada suara seruling itu, pakaiannya seperti akan tertiup angin sehingga berkibar-kibar bahkan sampai seperti akan terlepas karena sudah mulai ada yang sobek. Tentu saja Sumaidah merasa perlu lari menghindar dan menuju ke rumah, sekalian memanggil nama ayahnya, Ki Ning. Namun, karena suara seruling itu masih juga terdengar, bahkan seperti mengikutinya, berarti orang yang meniup seruling itu tidak takut terhadap nama besar Ki Ning, yang membuat ngeri banyak orang.

Mengetahui hal itu, Sumaidah pun terus berlari menuju pintu rumahnya.
“Ki Ning”

Begitu tulisan yang terdapat melengkung di gapura rumah yang dimasuki gadis itu, yang terbaca oleh Adi saat dia mengikuti gadis yang lari itu. Adi tanpa sadar telah masuk ke kawasan kekuasaan Ki Ning —yang sangat berbahaya bagi banyak orang— hanya karena ingin menggoda dulu gadis itu.

Padahal, Adi sebetulnya ingin mendapatkan gadis itu sebagai istrinya. Jangankan Ki Ning yang sakti mandraguna, sedang nama Sumaidah pun, Adi tidak tahu. Adi hanya tahu kalau gadis yang dia goda dengan seruling saktinya itu cantik. Adi semakin mantap ingin menjadikan Sumaidah sebagai istrinya.

“Ada apa, Sumaidah? Mengapa kamu sampai lari begitu ketakutan? Siapa yang berani mengganggumu? Belum tahu dia, kamu ini anak Ki Ning, ya. Mana orang kurang ajar itu? Biar kuhabisi dia!” seru seorang lelaki tua yang keluar dari rumah.

Adi yang sudah ngebet ingin mendapatkan Sumaidah, tidak lagi mendengar teriakan Ki Ning yang sangat ditakuti banyak orang.

Melihat Sumaidah sudah bertemu ayahnya Ki Ning, Adi pun segera turun dari udara, sambil memandang Sumaidah, gadis yang wajahnya memang cantik jelita. Parasnya tirus bagai telur. Adi pun terpesona, tanpa dapat bersuara lagi.

Hal sebaliknya terjadi pada Sumaidah, begitu dia tahu ada seorang pemuda yang mendatanginya, dia pun langsung berseru kepada ayahnya, sambil tangannya menunjuk ke arah Adi.

“Itu dia orangnya, Ayah!”

“Anak muda ini? Orang cuma tinggi kurus begini saja, kok kamu takut Sumaidah!” seru Ki Ning.

“Tapi, ayah … dia itu sakti … dan … ternyata ….”

“Ternyata apa, Sumaidah?”

“Dia … tampan, Ayah … jangan bikin dia sengsara, apalagi mati … Ayah ….” Rupanya setelah melihat wajah Adi, Sumaidah merasa khawatir Ki Ning akan membuat Adi celaka, karena berani mengganggunya.

Sumaidah bahkan berpikir, baru sekarang ini ada pemuda yang berani mengganggunya, lalu mengejarnya sampai ke rumah. Biasanya, banyak pemuda lari ketakutan melihat Sumaidah berjalan sendirian, mereka mungkin takut dihajar Ki Ning dengan aji BuJin yang sangat dahsyat itu. Namun, pemuda ini lain. Suara serulingnya saja mampu membuat pakaiannya berkibar dan mulai ada yang sobek-sobek, sampai hampir terlepas.

Pemuda ini pasti sakti. Tapi, apakah dia sanggup menghadapi ajian BuJin Ayah? pikir Sumaidah risau.
Sayang sekali, kalau pemuda tampan ini, menjadi korban keganasan ajian BuJin Ayah. Aku harus menyelamatkan nyawanya, kalau sampai dia diserang Ayah, nanti. Bulat sudah Sumaidah mengambil keputusan.

“What’s? Apa putriku yang cantik ini, jatuh cinta kepada, anak muda kurang ajar ini?” tanya Ki Ning penasaran.

“Hey, Ki Ning, dan kamu Sumaidah, kalian berdua belum tahu, siapa diriku, ya. Berani sekali, kalian tidak sopan menyambutku!” seru Adi sombong karena dia seakan-akam merasa sudah menjadi raja Kerajaan Matraman Raya.

“Kamu siapa, Anak muda? Berani sekali kurang ajar di sini!” sergah Ki Ning yang kemudian tanpa menunggu Adi menjawab, sudah langsung mengerahkan ajian BuJin, yang tersohor sangat ganas terhadap manusia yang menjadi lawannya.

Sontak di halaman rumah Ki Ning muncul hantu-hantu, jin-jin, yang jumlahnya bagai mencapai seribu serentak menyerang Adi, yang tentu saja bukan hanya kaget, sampai tidak sempat meniup seruling saktinya.

“Ayah, jangan lukai dia!” seru Sumaidah.

Namun, seruan Sumaidah terlambat, tampak oleh Sumaidah, tubuh Adi sudah terkapar diserbu jin seribu dari ajian BuJin Ki Ning.

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 101025

Views: 38

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *