_*Ratu Kampus yang Galak*_
_*dan Kutu Buku yang Pendiam*_
“Abang ini lain dari pada yang lain,” seru Nabilla pada Sidiq yang bertamu ke rumahnya.
“Ya, harus, dong. Masak semua sama. Kan, memang harus beda, biar orang tahu … hehe … bercanda. Eh, tapi memang, apanya dari Abang yang lain, sih, Nabilla. Serius tanya, nih?” tanya Sidiq sambil menatap Nabilla.
“Hem, memang Abang nggak merasa beda, ya?” Bukannya menjawab pertanyaan Sidiq, tetapi Nabilla justru kembali bertanya.
“Yah, bukannya dijawab pertanyaan Abang, kok, malah Abang yang gantian ditanya. Bukannya Nabilla tadi yang bilang, kalau Abang lain dengan yang lain, hehe,” seru Sidiq sambil tertawa.
“Bang, serius, nih, Nabilla tanya. Abang merasa beda nggak, sih?” sahut Nabilla ketus.
“Astagfirullah. Ratu Kampus Nabilla mulai beraksi. Abang pun jadi sasaran emosi,” seru Sidiq.
“Kalau orang lain, begitu Nabilla gertak udah kecut. Kok, Abang biasa saja, sih. Malah ketawa kayak gitu. Padahal ini di rumah Nabilla, sedang di luar rumah saja, bisa Nabilla tinggalkan orang kalau Nabilla nggak suka, jengkel atau apa saja. Apalagi sekarang Abang berada di rumah Nabilla. Gampang sekali kalau Nabilla mau tinggalkan Abang!” seru Nabilla.
“Karena Abang beda dengan orang lain, Nabilla,” tegas Sidiq.
Nabilla terdiam. Sidiq sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Nabilla. Tidak ada laki-laki yang berani berkunjung ke rumah Nabilla. Sementara di kampus saja Nabilla galak sama laki-laki, apalagi kalau di rumah.
Memang harus diakui Nabilla mahasiswi paling cantik di kampus. Semua orang, apalagi laki-laki tentu terpana melihat kecantikan Nabilla. Namun karena galak, banyak teman mahasiswa Nabilla yang mundur teratur, jika bermaksud melakukan pedekate kepada Nabilla.
Walaupun begitu, Nabilla justru sering mencoba mengajak bicara kepada teman mahasiswanya. Sebagai anak orang kaya, Nabilla bebas mengajak bergaul kepada teman-temannya dan juga royal tentu saja.
Nabilla pun lalu dijuluki Ratu Kampus, walaupun galak. Ratu Kampus yang galak, kata-kata teman-teman mahasiswanya.
Namun, bukan berarti Nabilla tidak mau berteman, bahkan terkadang Nabilla sering mempunyai hubungan khusus dengan seseorang. Kalau Nabilla sudah suka sama orang, apalagi laki-laki, maka Nabilla tidak segan-segan mengajak lelaki itu jalan-jalan untuk sekadar makan, nonton atau sekadar jalan sore.
Kalau teman laki-lakinya kebetulan mahasiswa di kampus, maka tidak masalah baginya pada saat jam masuk kuliah ke kampus, Nabilla menjemput teman mahasiswanya itu. Jadi mereka boncengan naik motor berdua ke kampus.
Namun, hubungan mereka sering putus di tengah jalan, kalau ada sesuatu yang membuat hati Nabilla tersingung.
Reza adalah salah satu korban Nabilla. Namun, tidak ada satu pun teman-teman laki-laki, apalagi teman mahasiswa Nabilla yang berani main ke rumahnya, selain Sidiq.
Padahal saat ini Nabilla sedang berhubungan dekat dengan Gie. Itulah sebabnya, Nabilla berpikir, Sidiq —yang lebih sering dipanggilnya Abang— itu lain dari yang lain. Nabilla sering memanggil Sidiq, Abang karena kebetulan dia berasal dari luar Jawa.
“Maksud Abang?” tegas Nabilla.
“Abang lihat, banyak lelaki yang dekat Nabilla sering putus di tengah jalan, tanpa sebab yang jelas,” seru Sidiq.
“Jadi karena itu Abang tidak pernah ingin mempunyai hubungan khusus dengan Nabilla. Karena Abang juga takut Nabilla putusin di tengah jalan, begitu!” tegas Nabilla.
Tidak percuma Nabilla dijuluki Ratu Kampus yang galak. Di kampus saja galak, apalagi di rumah.
“Bukan,” jawab Sidiq.
“Maksud Abang? Abang sering datang ke rumah Nabilla hanya ingin menjadi saudara begitu .. hihi. Jujur, Bang, kalau Abang memang naksir dengan Nabilla, bagus terus terang saja. Nabilla juga mulai tertarik kok dengan kenekatan Abang, berani main ke sini!” cetus Nabilla.
“Siapa sih yang tidak tertarik dengan Nabilla, Ratu Kampus yang cantik,” seru Sidiq.
“Cantik atau galak! Jujur, Bang!” seru Nabilla ketus.
Nabilla mulai berpikir, kalau Sidiq memang naksir dirinya. Nabilla pun semakin bersikap terus terang kepada Sidiq.
“Sebetulnya manis, sih. Bukan cantik. Kalau galak itu relatif. Ada enigma yang mungkin perlu mendapat penyaluran yang tepat,” kata Sidiq, kalem.
“Manis .. baru kali ini, ada orang yang berani berkata jujur kepada Nabilla. Banyak orang lebih suka memuji Nabilla cantik. Padahal kulit Nabilla saja agak kehitaman .. hihi,” kata Nabilla mulai melunak terhadap Sidiq.
“Nabilla. Ada orang yang Abang anggap tepat , jika dia menjadi pasanganmu,” tegas Sidiq.
“Maksud Abang, Nabilla tidak cocok dengan Gie begitu!” seru Nabilla.
“Bukan begitu. Abang tidak akan mencampuri hubungan Nabilla dengan Gie, tapi Abang beranggapan Nabilla hidup sukses, jika menjalin hubungan dengan seorang yang tepat. Orang yang begitu mendamba Nabilla. Orang yang begitu mencintai Nabilla sepenuh hati, tanpa reserve. Orang yang ..,” kata Sidiq sambil berpikir, apalagi yang akan diucapkannya kepada Nabilla tentang orang yang diusulkannya itu.
“Siapa orang itu, Bang?” tegas Nabilla.
“Hari, si Kutu Buku,” kata Sidiq.
“Si Kutu Buku yang pendiam itu, maksud Abang?” seru Nabilla seolah tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan Sidiq. ‘Bagaimana Hari, si Kutu Buku yang tidak pernah bicara dengan orang lain, apalagi dengan gadis, kecuali dengan buku-buku kuliah dan literatur itu, bisa dianggap pasangan yang tepat untuk dirinya?’ pikir Nabilla.
“Hari itu, pemujamu, Nabilla. Bahkan mungkin sampai mati, dia akan tetap memujamu!” tegas Sidiq.
“Hari yang mempunyai kemampuan akademis tinggi, merupakan aset yang berharga bagi kantor dia tempat bekerja nantinya. Dengan Nabilla di samping Hari, maka karier Hari akan cepat melejit. Hari akan menjadi orang hebat dan orang-orang akan bicara, tidak ada seorang lelaki hebat, kecuali memiliki istri yang kuat,” seru Sidiq.
“Kamu mempunyai enigma yang kuat, Nabilla. Jangan lewatkan kesempatan berpasangan dengan Hari dalam hidupmu,” tambah Sidiq.
“Aku, tidak pernah memikirkan Hari, Bang,” jawab Nabilla.
“Mulai sekarang, pikirkanlah Hari, Nabilla,” kata Sidiq.
“Abang serius!” Kembali Nabilla suaranya mengeras.
“Abang tidak ingin memisahkan hubungan Nabilla dengan Gie!” tegas Nabilla.
“Abang hanya minta Nabilla, mulai memikirkan pasangan hidup untuk masa depan. Bukan bolak balik pergi, main, nonton, makan dan jalan-jalan saja. Tidak ada maksud lain,” tegas Sidiq.
“Kalau sudah masalah jodoh, Abang harus berani bicara dengan ayahku!” sergah Nabilla.
“No problem. Kalau memang itu yang menjadi syarat, Nabilla mau berpasangan dengan Hari, Abang bersedia berbicara dengan ayahmu. Abang justru yakin, ayahmu akan memikirkan masa depanmu, seperti yang Abang usulkan kepadamu, Nabilla,” tegas Sidiq.
Nabilla tertegun mendengar tekad Sidiq yang kuat untuk menjodohkan Nabilla dengan Hari si Kutu Buku yang pendiam. Namun, Nabilla ragu.
‘Bagaimana mungkin Nabilla Ratu Kampus yang galak akan berpasangan dengan Hari si Kutu Buku yang pendiam. Apa kata dunia?’ pikir Nabilla. ‘Tapi Bang Sidiq yakin bahkan mau membicarakan hal itu kepada ayah Nabilla. Bagaimana ini?’ lamun Nabilla.
“Bang, apa serius tidak ingin menjalin hubungan dengan Nabilla. Kayaknya Nabill pikir, justru Bang Sidiq-lah yang mampu membimbing Nabilla menuju masa depan,” bisik Nabilla.
“Astagfirullah,” seru Sidiq.
“Nabilla. Maafkan abangmu ini. Hati abangmu telah tertambat kepada seseorang,” desis Sidiq.
‘Ternyata Bang Sidiq yang bijak ini, telah jatuh cinta kepada wanita lain, bukan kepada Nabilla,’ pikir Nabilla.
‘Sungguh beruntung wanita itu. Siapakah dia?’ lamun Nabilla.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 221125
Views: 14












