Di tengah kegalauannya dalam berjalan, akhirnya Zahra pun sampai juga di kantin. Tampak oleh Zahra, Sidiq memang ada di kantin. Zahra pun segera menemui Sidiq. Begitu Zahra jumpa dengan Sidiq. Zahra pun bercerita sambil berbisik kepada Sidiq tentang Nabilla.
“What’s. Jadi ke mana Nabilla pergi?” teriak Sidiq. Orang-orang di kantin pun terkejut mendengar teriakan Sidiq.
Sadar mereka telah membuat kegaduhan, Sidiq dengan cepat menggandeng Zahra untuk meninggalkan kantin untuk keluar kampus. Zahra tanpa sadar ikut saja, dengan Sidiq. Walaupun hati Zahra bergetar keras karena Sidiq tiba-tiba menggandeng tangannya.
Sampai di luar kampus, Sidiq dan Zahra berjumpa dengan Pengelana yang berusaha mencari Nabilla. Tentu saja Pengelana merasa lega, bisa bertemu Sidiq, walau tidak melihat Nabilla.
“Jadi ini gadismu, Sidiq. Pantesan kau tidak mau menjadi pasangan Nabilla. Alhamdulillah. Bapak senang dengan pilihanmu, Sidiq!” seru Pengelana.
“Pak, tadi Nabilla sempat di rumah Zahra. Oh ya maaf, ini Zahra, teman Sidiq,” sapa Sidiq.
“Teman atau pacar. Ah, kalian ini, masih juga mau menipu orang tua. Jelas-jelas dari pandangan mata kalian berdua, kalian saling cinta. Apalagi sudah bergandengan-tangan di siang bolong, di tempat terbuka seperti kampus ini,” seru Pengelana.
“Oh, ya Nabilla tadi di rumah siapa? Siapa nama gadismu, Sidiq?” tanya Pengelana.
“Zahra, Pak. Jadi ke mana Nabilla pergi, Pak?” tanya Sidiq.
“Kalau Nabilla sulit ditemui di kampus, bisa jadi dia ke rumah kakeknya, Pak Ning!” seru Pengelana.
“Sudah kalian jangan khawatir tentang Nabilla. Bapak akan mencari Nabilla ke rumah Pak Ning kakeknya. Kalian mau ikut atau mau pulang!” seru Pengelana.
“Kami ikut Bapak mencari Nabilla,” seru Sidiq sambil kembali menggandeng Zahra untuk mengikuti Sidiq dan membawa masuk Zahra ke dalam mobil Pak Pengelana.
Zahra merasa menyesal telah mencari Sidiq di kantin. Namun, penyesalan Zahra berbuah manis. Zahra merasa nyaman di samping Sidiq.
+++
“Kek, Nabilla nggak terima dituduh Ayah sudah berbuat tak senonoh!” seru Nabilla kepada Pak Ning, kakeknya.
“Apa ini? Tak senonoh, bagaimana? Pengelana itu memang dari kecil kurang perhatian sama kamu, Nabilla. Kakekmu inilah yang selalu sayang kepadamu! Tiada lain, Nabilla cantik, cucuku,” seru Pak Ning, menerima laporan Nabilla yang masih marah dan jengkel terhadap ayahnya, Pengelana.
“Itulah, Kek. Nabilla percaya, hanya Kakek yang mau membela Nabilla. Nabilla nggak mau pulang. Nabilla mau tinggal sama Kakek di sini!” seru Nabilla.
“Nggak usah pulang, Nabilla nemanin Kakek saja di sini, kasih makan burung, oke oce,” kata Pak Ning.
“Ogah, masak Nabilla udah mau ujian S1, hanya disuruh kasih makan burung. Ogah. Nabilla mau tidur-tidur saja di sini!” seru Nabilla.
“OK OC, nggak mau kasih makan burung, nggak apa-apa. Nabilla cukup rebus jagung saja!” kata Pak Ning, menghibur Nabilla cucunya.
“Ogah, makan jagung itu bukan kelas Nabilla lagi. Itu makanan kelas Kakek jaman dulu. Kakek saja yang nggak mau ikut kemajuan jaman. Nabilla kalau mau makan pesan di warung, minta tolong ojek di pengkolan depan rumah Kakek. Kakek bisa suruh orang untuk panggil tukang ojek itu ke rumah. Pokoknya Nabilla nggak mau repot. Kalau Kakek nggak mau Nabilla begini, Nabilla mau tinggal di rumah teman saja!” tambah Nabilla.
“Eh, tidak boleh. Nabilla sudah di rumah Kakek, Nabilla tidak boleh tinggal di rumah teman. Tinggal di rumah teman, memang teman yang mana yang Nabilla maksud. Dari dulu teman Nabilla ganti-ganti!” seru Pak Ning.
“Sidiq!” seru Nabilla.
“Mana boleh! Nabilla cucu kakek yang cantik, tinggal bersama orang laki-laki yang bukan mahromnya. Itu dilarang agama!” seru Pak Ning.
“Tapi, ngomong-ngomong apa hebatnya Sidiq, kok, sampai cucuku mau tinggal bersama Sidiq. Apa tidak lebih baik, Nabilla langsung menikah saja dengan Sidiq. Kalau Nabilla sudah menikah dengan Sidiq, Nabilla boleh tinggal di rumah Sidiq, teman laki-lakimu itu!” jelas Pak Ning.
“Nabilla bukan mau menikah dengan Sidiq. Sidiq sudah seperti abang Nabilla. Dia teman kuliah Nabilla, sudah mau ujian juga, tapi Sidiq sering memberi nasehat kepada Nabilla, tidak seperti teman laki-laki Nabilla yang lain. Mereka maunya senang-senang saja dengan Nabilla. Mereka sukanya hanya ngobrol soal mau makan di tempat yang enak, lalu mengajak jalan-jalan. Sidiq tidak begitu!” jelas Nabilla.
“Baguslah, kalau begitu. Berarti Sidiq itu cocok menjadi suami Nabilla. Sebagai suami Nabilla, dia bertugas membimbing Nabilla, bukan memanjakan Nabilla, seperti Kakekmu ini,” jelas Pak Ning.
“Tapi kata Sidiq, ada calon suami yang baik untuk Nabilla, namanya Hari!” seru Nabilla.
“Hari! Siapa pula Hari itu?” tanya Pak Ning.
“Hari itu teman kuliah Nabilla juga. Mahasiswa kutu buku. Tahunya hidup ini kuliah saja untuk mencari ilmu. Bukan main-main ke sana kemari, sok bergaya karena menjadi mahasiswa!” seru Nabilla.
“Kutu buku? Jangan pilih orang seperti itu. Nanti kalau habis bukunya, dia bisa makan kutu. Kakek nggak mau, Nabilla, cucu Kakek, punya suami kutu buku. Buang jauh-jauh nama kutu buku itu! Siapa namanya tadi?” tanya Pak Ning.
“Hari, Kek!” seru Nabilla.
“Nabilla boleh nikah sama Sidiq, tapi tidak dengan Hari!
Pokoknya Kakek tidak mau Nabilla hidup bersama kutu buku!” seru Pak Ning.
“Kek! Hari itu mahasiswa pintar. Nilai ujiannya bagus-bagus!” jelas Nabilla.
“Ah, itu karena dia kalau ujian minta tolong sama hantu kutu yang sering dia makan! Pokoknya, kalau Nabilla mau menikah harus sama Sidiq, bukan sama Hari!” seru Pak Ning.
Tiba-tiba di halaman rumah Pak Ning, terdengar suara mobil berhenti. Nabilla hafal, kalau itu suara mobil ayahnya, Pengelana.
“Kek. Nabilla nggak mau ketemu Ayah!” seru Nabilla lalu masuk ke kamar kakeknya, di sebelah ruang tamu. Nabilla tahu, ayahnya pasti tidak akan berani mencari Nabilla di kamar kakeknya. Nabilla merasa aman kalau bersembunyi di situ.
Pengelana menghentikan mobilnya agak jauh dari ruang tamu. Pengelana masih mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ayahnya, Pak Ning dan Nabilla, anak gadisnya. Tidak mudah bagi Pengelana mengatasi hal itu.
Pola komunikasi yang terbentuk bertahun membuat satu sama lain, lebih merasa superior. Begitu fokusnya Pengelana memikirkan tentang yang akan dibicarakannya dengan Pak Ning dan Nabilla, Pengelana sampai lupa, kalau ada Sidiq dan Zahra yang mengikutinya.
Zahra sendiri karena merasa asing dengan rumah itu, sementara Zahra melihat Pengelana berjalan seolah dengan pikiran berat karena tanpa mengingat lagi, kalau Zahra dan Sidiq ikut bersamanya, membuat Zahra memegangi lengan baju Sidiq dengan kedua tangannya.
Kalau saat masuk mobil Sidiq dengan cekatan menggandeng tangan Zahra untuk ikut. Sekarang Zahra yang ingin berlindung kepada Sidiq, dari situasi dan kondisi yang tidak diketahui nantinya.
Melihat hal itu, Pengelana langsung berbisik, “Jangan begitu kalau di sini, nanti kalau kakek Nabilla, Pak Ning, tahu kalian belum menikah, pasti marah besar.”
Mendengar peringatan Pengelana, Zahra bukannya melepaskan pegangangnya dari lengan baju Sidiq, tetapi justru semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sidiq.
Zahra semakin takut mau berjumpa dengan kakek Nabilla. Namun, Zahra merasa aman kalau bersama Sidiq. Sidiq pun dengan santai sempat menepuk tangan Zahra untuk menenangkan perasaan Zahra.
+++
“Assalamualaikum,” sapa Pengelana.
“Walaikumsalam,” jawab Pak Ning.
“Ayah, apakah Nabilla tidak di sini?” tanya Pengelana setelah melihat ayahnya; Pak Ning, sendirian di ruang tamu. Tidak biasanya ayahnya begitu kalau Nabilla ada di situ.
“Sudah kau lakukan tugasmu, Pengelana!” tanya Pak Ning.
“Sudah, Ayah, tapi sampai saat ini, Pengelana belum ketemu Nabilla,” jawab Pengelana.
“Sudah kaucari Nabilla ke rumah Sidiq!” seru Pak Ning.
“Nabilla sedang berada di rumah Sidiq. Nikahkan Nabilla dengan Sidiq, segera!” seru Pak Ning.
“Nikahkan Nabilla? Dengan Sidiq? Apa ayah kenal dengan Sidiq?” tanya Pengelana sambil tangan kanannya memberi kode ke arah Sidiq dan Zahra, supaya diam dulu.
Hati Zahra bergetar mendengar kakek Nabilla ingin menikahkan Nabilla dengan Sidiq. Namun, beda hati Zahra yang khawatir kalau pernikahan Nabilla dengan Sidiq terjadi, kedua tangan Zahra justru lalu memegang tangan Sidiq.
Padahal mendapat peringatan Pengelana saat mau masuk ke rumah, kedua tangan Zahra masih hanya memegangi lengan baju Sidiq. Zahra mulai merasakan getar-getar cinta di dalam hatinya, kepada Sidiq.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.
*mjkr/ wi/ nf/ 271125
Views: 18












