Oleh: Amir Kumadin
Hanya Ada Satu Cinta Dalam Dada Manusia, Dari Cinta Kepada Makhluk Sampai Cinta Kepada Tuhan
Dalam kehidupan sehari-hari yang Anda lihat, atau bahkan yang Anda alami langsung, nampak bahwa apa yang disebut cinta itu begitu banyak, sebanyak obyek cinta yang dicintai oleh sebanyak manusia di bumi.
Akan tetapi, para sufi telah mengajarkan kepada kita, bahwa *hakikat cinta adalah hanya ada satu, yaitu cinta atau mencintai Tuhan*. Hal ini ditegaskan oleh salah seorang sufi sekaligus penyair besar, Maulana Jalaluddin Rumi bahwa, “Cinta pada selain-Nya adalah palsu bahkan berhala”.
Sayangnya sampai detik ini, mayoritas manusia belum tahu, apa yang dimaksud oleh kaum sufi tersebut.
Di sini saya mencoba membedah dan membongkar bahasa-bahasa hakikat dan metafora yang sering dipakai oleh kaum sufi, khususnya dalam mengungkap hakikat apa itu cinta yang telah disebutkan di atas.
Sebagaimana Imam Al-Ghozali saat membahas sesuatu, atau meletakkan dasar argumennya, sering kali, atau jika tidak malah selalu, menggunakan bahasa ilustrasi, analogi, dan dengan logika yang brilian. Saya pikir tidak salah, jika saya di sini juga mengikuti dan meneladani apa yang telah diajarkan oleh beliau kepada kita.
Apa yang dimaksud kaum sufi bahwa “hakikat cinta” adalah “cinta kepada Tuhan” atau “mencintai Tuhan”? Maksudnya adalah “cinta dalam arti metafisik”, atau *” cinta metafisik”* atau *”cinta kosmis”* atau *”cinta spiritual”*.
Ya, manusia harus memiliki hanya *’SATU CINTA’* selama hidupnya, baik saat dimana dia sedang mencintai makhluk maupun mencintai Tuhan. Yakni, “cinta metafisik”. Artinya, bahwa saat dimana Anda sedang mencintai segala ciptaan-Nya (makhluk) harus dalam rangka mencintai Tuhan.
*Pisau Ockham Itu*
*Bernama Analogi*
Agar mudah dicerna pikiran bahwa “cinta obyektif” atau “cinta empiris”, yaitu seperti cinta kepada kekasih, orang tua, keluarga, harta, jabatan, profesi, gunung, sungai, hutan dan lain-lain hanya merupakan manifestasi dan derivate dari ” SATU CINTA”, yang bernama “cinta metafisik”, maka saya mencoba untuk menjelaskan dengan menggunakan analogi berikut ini.
Para fisikawan mutakhir mengungkapkan bahwa *”hakikat ruang”* itu hanya ada *SATU*, yaitu *”ruang metafisik”* atau *” ruang semesta”*, atau *ruang kosmis*, atau *” ruang spiritual”*.
Konsep *empirisnya ruang*, seperti ruang rumah, masjid, kantor, dst menunjukkan bahwa nampak seakan-akan ruang itu banyak, sebanyak ruang rumah atau bangunan yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara ruang bangunan yang satu dengan ruang bangunan yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.
Padahal *”ruang dalam arti empiris”* yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena eksistensi *”satu ruang metafisik”*. Atau ruang-ruang empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu ruang metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual.
Kalau Anda tidak percaya, silahkan sekarang Anda keluar dari dalam rumah Anda! Lalu, coba robohkan rumah Anda! Dalam waktu singkat, maka *”ruang dalam rumah”* Anda akan hilang dan musnah berbarengan dengan hancurnya rumah Anda. Tetapi, ruang metafisik itu tetap bereksistensi, tidak rusak sedikitpun, tidak kurang dan tidak lebih. Ia ada sejak awal diciptakannya alam semesta hingga kiamat tiba. Ia ‘abadi’ atau ‘langgeng’ dalam konteks *relatifnya milyaran ruang empiris yang ada di bumi*.
Artinya, bahwa ruang empiris seperti “ruang dalam rumah” dan seterusnya itu, hakikatnya merupakan “ruang metafisik” belaka.
Kemudian, para fisikawan mutakhir juga mengungkapkan bahwa *hakikat waktu”* itu hanya ada *SATU*, yaitu *”waktu metafisik”*, atau *”waktu semesta”* atau *waktu matahari*, atau *Waktu Kosmis*, atau *”waktu spiritual”*.
Konsep *empirisnya waktu*, seperti waktu di arloji Anda, waktu di HP Anda, waktu di jam dinding Anda, dst menunjukkan bahwa nampak seakan-akan waktu itu banyak, sebanyak waktu yang ada di arloji, HP, dan jam dinding yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara waktu di arloji yang satu dengan waktu di arloji yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.
Padahal *”waktu dalam arti empiris”* yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena eksistensi *”satu waktu metafisik”*. Atau waktu-waktu empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu waktu metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual.
Anda masih penasaran?! Oke, sekarang juga, lepaskan arloji di pergelangan tangan Anda! Lalu, banting arloji itu ke lantai! Dalam waktu sekejap, maka *”waktu dalam arloji”* Anda langsung lenyap bersama hancurnya arloji Anda.
Tetapi, waktu metafisik itu tetap bereksistensi, tetap berjalan, tidak terhenti sedetikpun. Ia ada sejak awal diciptakannya alam semesta hingga kiamat tiba. Ia ‘abadi’ atau ‘langgeng’ dalam konteks *relatifnya milyaran waktu empiris dalam arloji (jam dinding, HP, dll) yang ada di bumi*.
Artinya, bahwa waktu empiris seperti “waktu dalam arloji” dan seterusnya itu, hakikatnya merupakan “waktu metafisik” belaka.
Begitu juga kiranya, konsep *empirisnya cinta*, seperti cinta pada kekasih, orang tua, saudara, tetangga, harta, jabatan, profesi, alam semesta dan seterusnya menunjukkan bahwa nampak seakan-akan cinta itu banyak, sebanyak cinta pada sesuatu atau pada obyek cinta yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara cinta empiris yang satu dengan cinta empiris yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.
Padahal *”cinta dalam arti empiris”* (cinta empiris), yaitu cinta pada obyek-obyek yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena keberadaan *”satu cinta metafisik”*. Atau cinta-cinta empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu cinta metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual seperti telah disebutkan di atas.
Artinya, bahwa cinta empiris seperti cinta pada orang lain, kekasih, orang tua, harta, bahkan segala ciptaan-Nya (makhluk), hakikatnya hanyalah merupakan “cinta metafisik” belaka.
Singkat kata, analoginya bahwa “cinta empiris” adalah “ruang dan waktu empiris” itu. Dan “cinta metafisik” adalah “ruang dan waktu metafisik” itu seperti telah dibeberkan di atas.
*Hakikat Cinta Metafisik*
Kalau begitu, apa itu “cinta metafisik” atau “cinta kepada Tuhan”?!
Cinta metafisik, cinta kepada Tuhan itu, adalah cinta yang meninggalkan apa yang bukan Dia, demi untuk Dia. Bentuk operasionalnya adalah jika ego, hawa nafsu, vested interest, keinginan (kehendak) dan kepentingan diri sendiri sudah bersedia tunduk dan patuh tanpa syarat pada nilai mutlak Ilahiyah, pada ketentuan, kehendak, dan petintah-Nya, pada ajaran-Nya. Itulah saat dimana ego dirinya, yakni kehendaknya dan sifat-sifat manusiawinya itu, telah sesuai dan menyatu dengan kehendak dan sifat-sifat Tuhan.
Jadi “cinta metafisik” itu adalah *”tunduk tanpa syarat” kepada “nilai mutlak Ilahiyah* dibalik segala egoisme, ke-aku-an, keinginan dan kepentingan manusia.
Dalam arti yang lebih konkrit dan membumi lagi bahwa “cinta metafisik” adalah tunduk tanpa syarat pada nilai mutlak
tersebut sebelum dan pada saat Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris (makhluk).
Dimana *nilai mutlak Ilahiyah* dalam arti operasional bisa berupa moral, seperti jujur, berintegritas, bertanggungjawab, adil, bijaksana, amanah, empati, peduli, solider, menolong, membimbing, mendidik, menasehati, mengingatkan, mengkritik yang konstruktif, memelihara, komitmen, pengertian, dan lain-lain termasuk etos kerja seperti bersungguh-sungguh, berjuang, berkorban, berani, kerja keras, gigih, konsisten, tahan banting, pantang menyerah, penuh dedikasi, profesional, berkorban, kreatif, proaktif, ridho, syukur, sabar, tawakal, dan lainnya yang bersifat mutlak sama *SEPERTI* mutlaknya ruang dan waktu metafisik sebagai dasar daripada ruang dan waktu empiris.
Artinya, bahwa “cinta empiris”, cinta kepada obyek-obyek empiris seperti cinta pada kekasih, orang tua, saudara, tetangga, harta, jabatan, profesi, gunung, laut, hutan, dan seterusnya itu, jika berpijak atau berdasarkan pada “nilai mutlak Ilahiyah”, maka pada hakikatnya merupakan “cinta metafisik”.
Dengan begitu, jika Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris tersebut, maka dalam ketika yang sama, berarti Anda sedang mencintai-Nya.
Itulah apa yang dimaksud oleh kaum sufi, bahwa *hakikat cinta* adalah *hanya satu*, yaitu *mencintai Tuhan*.
Menegaskan kembali bahwa ruang dan waktu empiris itu ada, maujud, jika berpijak pada ruang dan waktu metafisik. Demikian juga, “cinta empiris” bisa disebut cinta empiris, atau “cinta empiris” itu bisa ada dan maujud dalam kehidupan sehari-hari, *DENGAN SYARAT* berpijak atau tunduk syarat pada “nilai mutlak Ilahiyah” (moral) atau pada “cinta metafisik”.
Dengan kata lain, “nilai mutlak Ilahiyah” atau moral itu, adalah suatu nilai yang dipakai sebagai ukuran (indicator) untuk menentukan apakah itu merupakan “cinta empiris” sebagai manifestasi “cinta metafisik”, atau sekedar hanya egoisme, hawa nafsu, vested interest, ambisi/kepentingan pribadi sebagai manifestasi berhala, tepatnya “berhala cinta”.
Singkat kata, bahwa cinta metafisik itu = moral, cinta metafisik itu = nilai mutlak Ilahiyah (ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya/ajaran-Nya).
Sekali lagi, bahwa analogi berikutnya adalah, rumah dan ruang rumah yang bersifat empiris, atau arloji dan waktu di arloji yang bersifat empiris itu, analog dengan subyek dan obyek cinta yang bersifat empiris.
Kemudian ruang dan waktu metafisik itu, analog dengan moral, dengan nilai mutlak Ilahiyah, yang menjadi esensi dan substansi dari cinta metafisik (cinta kosmis, cinta spiritual).
Bukankah saat dimana obyek-obyek cinta empiris yang Anda cintai sudah tidak ada, atau bahkan Anda sendiri sebagai subyek yang mencintai telah kembali kehadirat Ilahi Robbi alias meninggal dunia, cinta metafisik itu, moral itu, nilai mutlak Ilahiyah itu, tetap ada, dan tidak rusak sedikit pun?
*Cinta Empiris*
*Versus*
*Berhala Cinta*
Berpijak pada analogi dan definisi cinta metafisik di atas, maka “cinta empiris”, seperti cinta kepada orang lain, harta, profesi, alam semesta (makhluk), tidak pernah ada tanpa berpijak pada “cinta metafisik”. Artinya, saat dimana Anda mencintai seseorang atau segala ciptaan-Nya tetapi tidak berpijak pada “nilai mutlak Ilahiyah”, maka itu bukan cinta, tetapi hanyalah ‘berhala cinta’. Dengan begitu, berarti pada hakikatnya Anda bukan sedang mencintai apa yang Anda cintai itu, tetapi Anda sedang memberhalakan (menyembah, mengkultuskan) apa yang Anda cintai tersebut, meskipun Anda tidak menyadari dan mengakuinya.
Ini berarti juga bahwa cinta Anda kepada makhluk tersebut telah melebihi cinta Anda pada Allooh swt, sehingga hanya akan membawa Anda untuk menjadi milik, budak, dan hamba dari sesuatu yang Anda miliki dan yang konon Anda cintai itu.
Dan itulah makna hakikat dari ayat di bawah ini:
“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At-Taubah: 24).
Dan pada saat yang sama, berarti Anda telah menduakan dalam mencintai-Nya. Berarti Anda telah menyembah dan memberhalakan (menuhankan) apa yang konon Anda cintai tersebut. Itulah ‘berhala cinta’ namanya. Itulah yang disebut syirik atau polytheisme tersembunyi yang tidak disadari oleh mayoritas manusia saat mencintai sesuatu yang bersifat duniawi.
Allooh swt berfirman:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah (mengkultuskan, memberhalakan) tandingan-tandingan selain Allooh. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allooh. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Alloh sangat kuat. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari pembalasan), bahwa semua kekuatan itu milik Allooh, dan bahwa Allooh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka sangat menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang (sesuatu) yang diikuti (disembah, dicintai) itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya (menyembahnya, mencintainya), dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan diantara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (menyembah, mencintai), “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), maka pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allooh memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”, (QS. Al-Baqoroh [2]: 165-167).
Nampak jelas dari ayat-ayat Al-Qur-an di atas, bahwa mengkultuskan memberhalakan, dan menyembah tandingan-tandingan selain Allooh, yaitu dengan mencintai obyek-obyek cinta empiris sebagaimana mencintai Allooh itu, bukan hanya merupakan perbuatan syirik dan fasik, tetapi juga orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut akan menyesal dan akan menghuni Neraka Jahannam.
Maka tidak heran jika Syaikh Akbar Ibnu ‘Arobi bilang dalam Futhuhatnya, “bahwa objek cinta empiris itu hakikatnya tidak ada”.
Tentu, obyek cinta empiris itu *tidak ada*, jika dalam mencintai obyek cinta empiris tidak berdasarkan, tidak tunduk tanpa syarat, pada “nilai mutlak Ilahiyah”. Karena jika demikian adanya, maka sebenarnya obyek cinta empiris seperti itu sudah berubah menjadi berhala.
Sebenarnya Ibnu ‘Arobi mau bilang bahwa *”obyek cinta empiris”* itu ada dengan syarat, dalam mencintainya harus berdasarkan tunduk tanpa syarat pada “nilai mutlak Ilahiyah” atau pada “cinta metafisik”. Jika sudah demikian, maka cinta empiris bukan hanya sebagai cinta empiris an sich, tetapi pada hakikatnya sudah menjadi cinta empiris sekaligus cinta metafisik dalam waktu yang bersamaan.
Anda, kita, manusia tidak bisa mencintai Tuhan hanya berhenti pada menjalankan ibadah-ibadah ritual saja, tetapi juga harus dibuktikan dengan mencintai obyek-obyek cinta empiris seperti orang lain, harta, profesi, dan alam semesta.
Anda tidak bisa langsung mencintai Tuhan tanpa perantara mencintai obyek-obyek cinta empiris terlebih dahulu. Karena untuk bisa mencintai Tuhan harus melalui perantara “cinta empiris”, cinta kepada segala ciptaan-Nya, yang merupakan manifestasi-Nya, yang merupakan ayat-ayat-Nya, dan yang merupakan milik-Nya yang begitu Dia cintai.
Intinya, cinta empiris, cinta kepada segala ciptaan-Nya, cinta kepada makhluk,p merupakan “cinta majazi”, yang jika didasarkan pada ” nilai mutlak Ilahiyah”, maka pada hakikatnya merupakan bentuk “cinta metafisik”, atau cinta majazi tersebut akan mengantarkan manusia pada “cinta haqiqi”, yaitu “cinta kepada Tuhan” atau “mencintai Tuhan”.
Dan juga, karena salah satu bukti kalau Anda mencintai-Nya, adalah dengan mencintai apa yang begitu Dia dicintai.
Jika Anda sudah mencintai-Nya, maka atas izin-Nya, Anda berhak untuk dicintai oleh-Nya, Anda berhak untuk mendapatkan cinta-Nya, dan Anda berhak untuk menjadi kekasih-Nya.
Jangan ngomong cinta, apalagi cinta pada-Nya, sebelum Anda mencintai orang lain (sesama) dan segala ciptaan-Nya yang begitu Dia cintai…!!!”
*Cinta Itu Moral*
Saya akan buktikan bahwa salah satu arti hakikat dari cinta adalah moral atau akhlak.
Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghozali (1058 ~ 1111 M) bilang, “Hakikat cinta adalah mencintai-Nya, yaitu saat dimana sifat-sifat seseorang telah sesuai dengan sifat-sifat-Nya”.
Bapak Cinta, Ibnu Hazm Al-Andalusi (994 ~ 1064 M) bilang, “Cinta merupakan sifat-sifat Tuhan yang bersemayam dalam jiwa yang terdalam dari manusia. Jika seseorang jatuh cinta karena suatu sebab obyek cinta empiris yang dicintainya, maka itu bukan cinta, tetapi itu hawa nafsu dan berhala yang berkedok cinta. Cinta yang seperti itu tidaklah abadi, karena cintanya akan hancur bersamaan hancurnya sebab itu”.
Sang Maulawi Ma’nawi (tokoh dunia makna), Jalaluddin Rumi (1207 ~ 1273 M) bilang, “Hakikat cinta adalah mencintai Tuhan. Yaitu, dengan mengalami sifat-sifat-Nya, yang tidak membutuhkan tafsir apapun. Cinta pada selain-Nya adalah palsu dan berhala”.
Bukan suatu kebetulan, bahwa ada benang merah yang tersambung dan kesamaan substansi dari ketiga sufi dan filosof itu dalam mendefinisikan hakikat cinta, yaitu *”mencintai Tuhan”* dengan merefleksikan dan memproyeksikan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan.
Sifat-sifat Tuhan itu merupakan sumber nilai yang bersifat mutlak (nilai mutlak Ilahiyah) dan yang menjadi landasan perilaku atau moral bagi manusia.
Dari itu, berarti moral itu merupakan salah satu dari nilai-nilai mutlak Ilahiyah dan merupakan obyektivikasi atau bentuk operasional dari sifat-sifat Tuhan. Lebih konkritnya bahwa moral adalah manifestasi dari sifat-sifat-Nya yang menyata dalam dimensi manusiawi, yang manusia alami dalam kehidupan sehari-hari. Atau moral itu merupakan “dimensi manusiawi” dari “sifat-sifat Ilahi”.
Dengan begitu, berdasarkan apa yang dikatakan oleh ketiga sufi dan filosof di atas, menunjukkan bahwa cinta berarti moral, cinta hakikatnya adalah moral, yang merupakan manifestasi, obyektivikasi, dan bentuk operasional dari sifat-sifat-Nya.
Inilah yang dimaksud dengan *”cinta metafisik”*, yang esensi dan substansinya adalah moral. Cinta yang berdasarkan pada moral (nilai mutlak Ilahiyah), cinta yang tunduk tanpa syarat pada moral.
Cinta yang melanggar moral (amoral), maka sudah bukan cinta lagi tatapi hanyalah cinta palsu (pseudo love) dan berhala sebagaimana yang dituduhkan oleh Rumi.
Artinya bahwa “cinta itu tunduk tanpa syarat” pada “nilai mutlak Ilahiyah”, pada “moral”, yang bersumber dari sifat-sifat Tuhan.
*Verifikasi Empiris*
Verifikasi empiris adalah proses pembuktian kebenaran suatu hipotesis, teori, atau pernyataan menggunakan bukti nyata, data lapangan, observasi langsung, atau eksperimen yang dapat diindera. Ini memastikan temuan berdasarkan fakta objektif (dunia nyata), bukan sekadar asumsi atau teori semata.
*Bukti I*
Allooh Maha Rohmaan dan Rohiim (Maha Mencintai), maka Anda juga harus mencintai sesama dan segala ciptaan-Nya.
Dia Maha Dermawan, maka Anda juga harus menjadi orang yang dermawan kepada sesama dan segala ciptaan-Nya.
Dia Maha Pencipta (Kreatif), maka Anda juga harus menjadi orang yang kreatif menciptakan suatu karya cipta yang inovatif yang berguna bagi sesama dan segala ciptaan-Nya, dan seterusnya. Itulah manifestasi dari manusia yang bermoral.
Saat dimana Anda merefleksikan, menyelaraskan, dan menirukan Sifat-Sifat Tuhan seperti dalam contoh-contoh di atas, maka pada saat yang sama, sebenarnya Anda sedang bermoral. Dan saat dimana Anda sedang bermoral, maka pada saat yang sama, Anda bukan saja sedang mencintai obyek-obyek cinta empiris (makhluk), tetapi juga Anda sedang mencintai Tuhan. Itulah hakikat dari *”cinta metafisik”*, atau *”cinta kosmis”* atau *”cinta spiritual”* atau *”cinta kepada Tuhan”*.
*Bukti II*
Untuk menyodorkan bukti ini, saya hanya menggunakan dan mengajukan beberapa pertanyaan yang begitu sederhana, atau mungkin hanyalah pertanyaan anak TK.
Bisakan Anda mencintai orang lain atau segala ciptaan-Nya (makhluk), seperti orang tua, kekasih, suami, istri, anak, saudara, tetangga, harta, jabatan, pekerjaan, udara, sungai, hutan dan lain-lain tanpa moral (bermoral), misalnya dengan tidak bertanggungjawab, berbohong, berkhianat, zhalim, menyakiti, merusak, dan bentuk amoral (moral bejad) lainnya…?
Bukankah tidak bertanggung jawab itu mengandung arti bersikap abai, lalai, tidak dapat diandalkan, plan-plin, ceroboh, apatis (tidak peduli) dan tidak profesional?
Semua contoh perilaku amoral tersebut di atas merupakan manifestasi dari egoisme yang menjadi lawan dari cinta. Dimana egoisme itu tak lain daripada berhala, yakni menuhankan diri sendiri sekaligus menuhankan perilaku amoral tersebut.
Kemudian, bukankah ketika Anda berbohong atau berdusta, atau tidak jujur pada orang yang katanya Anda cintai itu pada dasarnya, sadar atau tidak, sengaja atau tidak, mengakui atau tidak, Anda sedang menipu, memanipulasi, menyakiti, merugikan, merendahkan, menzhalimi (QS. Huud [11]: 18), dan sejenisnya terhadapnya?
Bahkan kalau kita kulik lebih dalam lagi sampai ke akarnya misalnya, bohong itu sebenarnya upaya untuk menyembunyikan, menggelapkan, dan menghilangkan kebenaran demi egoisme, demi keinginan dan kepentingan diri orang yang berbohong, bukan demi kepentingan orang yang katanya dia cintai. Artinya, bohong itu merupakan manifestasi dari berhala, tepatnya berhala egoisme. Berhala egoisme itu tak lain daripada ‘menuhankan’ diri sendiri’ sekaligus ‘menuhankan’ kebohongan tersebut.
Alloh swt berfirman:
“Hindarilah perbuatan menyembah berhala-berhala dan berkata bohong”, (QS. Al-Hajj [22]: 30).
Maksudnya ayat itu adalah, berbohong pun merupakan manifestasi berhala…!!!
Terbukti sudah bahwa moral merupakan hal yang mutlak, yang menjadi *”landasan metafisik*”, dari apa yang disebut cinta *SEPERTI* mutlaknya ruang dan waktu metafisik yang menjadi dasar dari ruang dan waktu empiris.
Sehingga, Anda dapat disebut orang yang memiliki cinta, orang yang mencintai, *if and only if* (kalau dan hanya kalau) Anda bermoral…!
Itulah yang disebut dengan *”cinta metafisik”* dalam arti yang paling operasional dan konkrit dalam kehidupan sehari-hari.
Jika begitu persyaratannya, maka berarti moral merupakan manifestasi dari *”cinta metafisik”*, atau sama saja bahwa moral itu ekuivalen dengan *”cinta metafisik”*.
Artinya, jika Anda cinta atau mencintai, maka bermorallah, atau bermorallah sebelum dan saat Anda mencintai orang lain dan obyek-obyek cinta empiris lainnya.
Ini berarti bahwa, saat dimana Anda sedang bermoral dalam segala hal, terutama saat Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris seperti kekasih, orang tua, saudara, harta, jabatan, profesi, hutan, sungai, gunung, dan bagian-bagian alam semesta lainnya (makhluk), maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang mencintai makhluk tersebut. Dan saat dimana Anda sedang mencintai makhluk, maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang mencintai Tuhan.
Itulah tafsir hakikat dan filosofis sekaligus analitik dan operasional dari apa yang dimaksud oleh kaum Sufi bahwa hakikatnya cinta adalah mencintai Tuhan.
Sebaliknya, saat dimana Anda tidak bermoral atau bermoral bejad, maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang bukan mencintai tetapi sedang egois (memberhalakan egoisme) sekaligus sedang memberhalakan apa yang konon katanya Anda cintai.
Artinya, Anda sedang berbuat syirik, Anda sedang menyekutukan dan bermaksiat kepada-Nya. Dan tentu, jika sudah demikian, maka Allooh ‘Azza wa Jalla akan tulis Anda sebagai seorang yang musyrik.
Dari pembeberan di atas, maka terkuaklah sunatullah yang selama ini bersembunyi rapat di keghaiban rahasia-Nya, yang menyatakan bahwa: *”Cinta itu moral. Tidak bermoral atau bermoral bejad (amoral) merupakan manifestasi dari egoisme. Egoisme itu, tak lain dan tak bukan, adalah hawa nafsu, vested interrest, keinginan dan kepentingan diri sendiri, dan berhala (ilah-ilah yang bukan Allooh). Sehingga cinta itu lawan dari egoisme”*.
Tidak berhenti di situ, bahkan semua bentuk kejahatan, keburukan, perbuatan hina, nista dan durjana, perbuatan destruktif, perbuatan negatif, kebatilan, kekejian, kemungkaran, kesesatan dalam kehidupan sehari-hari bersumber dari apa yang disebut dengan egoisme, berhala egoisme itu.
*phofmu/ wi/ nf/ 130326
Views: 44










