Hanya Ada Satu Cinta Dalam Dada Manusia, Dari Cinta Kepada Makhluk Sampai Cinta Kepada Tuhan
WARTA IDAMAN

Oleh Amir Kumadin
Dalam kehidupan sehari-hari yang Anda lihat, atau bahkan yang Anda alami langsung, nampak bahwa apa yang disebut cinta itu begitu banyak, sebanyak obyek cinta yang dicintai oleh sebanyak manusia di bumi.
Akan tetapi, para sufi telah mengajarkan kepada kita, bahwa *hakikat cinta adalah hanya ada satu, yaitu cinta atau mencintai Tuhan*. Hal ini ditegaskan oleh salah seorang sufi sekaligus penyair besar, Maulana Jalaluddin Rumi bahwa, “Cinta pada selain-Nya adalah palsu bahkan berhala”.
Sayangnya sampai detik ini, mayoritas manusia belum tahu, apa yang dimaksud oleh kaum sufi tersebut.
Di sini saya mencoba membedah dan membongkar bahasa-bahasa hakikat dan metafora yang sering dipakai oleh kaum sufi, khususnya dalam mengungkap hakikat apa itu cinta yang telah disebutkan di atas.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
Sebagaimana Imam Al-Ghozali saat membahas sesuatu, atau meletakkan dasar argumennya, sering kali, atau jika tidak malah selalu, menggunakan bahasa ilustrasi, analogi, dan dengan logika yang brilian. Saya pikir tidak salah, jika saya di sini juga mengikuti dan meneladani apa yang telah diajarkan oleh beliau kepada kita.
Apa yang dimaksud kaum sufi bahwa “hakikat cinta” adalah “cinta kepada Tuhan” atau “mencintai Tuhan”? Maksudnya adalah “cinta dalam arti metafisik”, atau *” cinta metafisik”* atau *”cinta kosmis”* atau *”cinta spiritual”*.
Ya, manusia harus memiliki hanya *’SATU CINTA’* selama hidupnya, baik saat dimana dia sedang mencintai makhluk maupun mencintai Tuhan. Yakni, “cinta metafisik”. Artinya, bahwa saat dimana Anda sedang mencintai segala ciptaan-Nya (makhluk) harus dalam rangka mencintai Tuhan.
*Pisau Ockham Itu*
*Bernama Analogi*
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Views: 42























