PAHALA BAGI HAMBA YANG BERSABAR

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Dr.H.M. Suaidi,M.Ag

 

Sabar dalam Islam memiliki tiga macam utama, yaitu sabar dalam ketaatan (menjalankan perintah Allah), sabar dalam menjauhi maksiat (menahan diri dari larangan), dan sabar dalam menghadapi musibah (menerima takdir pahit dari Allah). Tingkatan sabar ini sering disebut sebagai tiga pilar kesabaran yang diajarkan ulama, di mana sabar dari maksiat sering dianggap puncak tertinggi, seperti dijelaskan oleh Syekh Ibnu Abid Dunya.

Tiga Macam Sabar:
1. Sabar dalam Ketaatan (الصبر على الطاعة) .Menahan diri untuk terus melakukan ibadah dan ketaatan, meskipun terasa berat atau sulit, seperti istiqamah salat, puasa, zakat, dan berbuat baik.

2. Sabar dalam Menjauhi Maksiat (الصبر عن المعصية). Menahan diri dari godaan untuk melakukan dosa dan larangan Allah, meskipun dorongan nafsu kuat, karena menyadari pengawasan Allah dan akibat buruknya.

3. Sabar dalam Menghadapi Musibah (الصبر على المصيبة). Menerima takdir Allah yang terasa pahit atau menyakitkan (seperti kehilangan, sakit, atau kesulitan) dengan lapang dada, tanpa mengeluh, dan meyakini adanya kebaikan di baliknya.

Syekh Ibnu Abid Dunya mencantumkan sebuah hadits riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Rasulullah ra bersabda

الصَّبْرُ ثَلَاثٌ: فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَى الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثَلَاثَمِائَةِ دَرَجَةٍ بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ، وَمِنْ صَبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ مَرَّتَيْنِ

Sabar ada tiga tingkatan. Sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan. Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin, Allah akan mengangkat 300 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi. Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah mengangkat 600 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy. Sedangkan, bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah mengangkat 900 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sekitar dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) .

Seperti nasihat Imam Ibrahim at-Taimiy yang mengatakan:

مَا مِنْ عَبْدٍ وَهَبَ اللَّهُ لَهُ صَبْرًا عَلَى الْأَذَى، وَصَبْرًا عَلَى الْبَلَاءِ، وَصَبْرًا عَلَى الْمَصَائِبِ، إِلَّا وَقَدْ أُوتِيَ أَفْضَلَ مَا أُوتِيهِ أَحَدٌ، بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ

 
Setiap kali Allah menganugerahi kesabaran pada hamba-Nya, baik atas rasa sakit, malapetaka, dan musibah, pasti juga memberinya yang lebih baik dari (ganjaran) keimanan itu sendiri.

Nasehat at-Taimiy di atas, mengajarkan kita bahwa mempertahankan keimanan jauh lebih penting dari pada keimanan itu sendiri. Segala bentuk kesusahan dan derita yang dirasakan umat adalah ujian keimanan dari Allah. Mengingat, iman yang hakiki yaitu iman yang tak lekang waktu, tempat dan kondisi, suka ataupun duka, lapang atau sempit. Sungguh, nasihat yang besar.

والله اعلم با لصواب

 

 

 

 

 

*anwi/ wi/ nf/ 081225

Views: 52

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SPACE IKLAN