Beranda / LIFESTYLE / ADAM MUSTHOFA: Pemuda Langit

ADAM MUSTHOFA: Pemuda Langit

“Salahudin, jangan kau tinggalkan ibumu lagi, Nak. Ayahmu sudah pergi dan ibumu sudah tua. Siapa yang akan menemani ibumu lagi kalau bukan kamu, Salahudin?” ujar Ijah setelah mendengar Salahudin akan ditugaskan Raja Danang Sayidin Panotogomo pergi ke medan perang.

Ijah bersedih. Sepeninggal Dusmin, suaminya, dia merasa Salahudin yang merupakan anak laki-laki satu-satunya itu sering pergi bertugas ke medan perang. Terlebih lagi Salahudin baru saja melangsungkan pernikahan dengan Ratu Ana.

Ijah tidak ingin Salahudin pergi jauh-jauh darinya. Namun, karena itu perintah Raja Danang, tentu saja tidak boleh ditolak.

Hati Ijah seakan meronta, jantungnya berdebar keras, kedua matanya memerah, bahkan suaranya melolong.

Melihat kondisi Ijah yang menyedihkan, Ki Ageng Batman, orang yang menjadi tempat Almarhum Dusmin dan Ijah mengadu selama ini, hanya bisa diam membisu.

Mendengar perkataan Ijah, Salahudin termenung. Sabda raja adalah perintah mutlak, sehingga tidak boleh ada yang menolak.

Menolak perintah raja, sama artinya dengan melawan.

Bukan hanya Salahudin, semua orang yang hadir—Baginda Raja Armanda, Bunda Fitri, Putri Pembayun, Sarpras, SuperA, Ki Ageng Batman, Putri Biyan, Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe, Jalal dan Tanjung, Ustaz Bondan Kaja, Putri Raisa, Putri Anya, Raja Slamet, Mbak Ay Ming, Miss Tami Zen, Ratu Ana—pandangannya menatap ke satu arah, yaitu Raja Danang Sayidin Panotogomo.

Mereka semua tahu konsekuensi menolak perintah raja. Walaupun Salahudin saat ini sudah menjadi salah satu dari 3 Pendekar Langit yang tiada bandingnya di tanah Jawa, tetap saja menolak perintah raja akan berdampak buruk kepada akhlak seorang jenderal perang seperti Salahudin. Bukan saja hal itu akan berpengaruh kepada Salahudin pribadi, melainkan juga memengaruhi mental para prajurit secara umum. Sabda raja tidak boleh ditolak, apalagi oleh seorang jenderal panglima perang seperti Salahudin. Akhirnya, semua diam membisu, menunggu reaksi Raja Danang Sayidin Panotogomo. Situasi dalam Istana Kerajaan Madiun pun menjadi hening karenanya.

BACA JUGA:

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Jenasah Niki Hilang_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Tragedi di Istana Kerajaan Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Bencana di Istana kerajaan Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri Menghilang_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ramai-Ramai Menuju Kediri_

“Salahudin!” Tiba-tiba Pendekar Abu Arang bersuara keras memecah kesunyian.

“Aku tahu kalau saat ini kamulah satu-satunya yang mampu mempunyai kompetensi tingkat tinggi di tanah Jawa. Kamulah satu-satunya yang mampu menguasai ajian seribu bulan dan telapak tangan langit di tanah Jawa. Bersama Jalal dan Tanjung yang menguasai ajian Bandung Bondowoso, kalian bertiga telah terkenal dengan julukan 3 Pendekar Langit. Suatu hal yang kami, Paduka Raja Danang Sayidin Panotogomo, Pangeran Hafiz Bagus Tinukur, dan aku sendiri Pendekar Langit Abu Arang impikan. Namun justru kamulah bersama Jalal dan Tanjung yang muncul sebagai Jenderal Panglima Perang Raja Danang, Salahudin.

>>> ke Halaman 2

Views: 0

Halaman: 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 1
  • 124
  • 97
  • 193
  • 168
  • 3,740
  • 18,258
  • 168,215
  • 255,685
  • 151,192
  • 0
  • 4,783
  • 270