Beranda / SEMESTA / Buku Rekomendasi Pekan ini: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Buku Rekomendasi Pekan ini: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

 

WARTAIDAMAN.com   

 

 

Judul Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ; Penulis Buku: Brian Khrisna ; Tebal buku: vi, 210 halaman ; Penerbit: Gramedia Widiasarana ; Tahun terbit: 2025

 
Berikut beberapa poin penting tentang novel ini: Tokoh Utama: Ale, seorang pria berusia 37 tahun, mengalami depresi, masalah kesehatan mental, dan kurangnya penerimaan dari lingkungan sekitar. Alur Cerita: Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, tetapi sebelum itu, ia ingin makan mie ayam. Tema: Novel ini mengangkat isu depresi, kesehatan mental, penerimaan diri, dan perjuangan hidup. Simbolisme: Mie ayam menjadi simbol keinginan terakhir Ale, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ada hal-hal sederhana dalam hidup yang bisa dinikmati. Pesan Moral: Novel ini ingin menyampaikan pesan bahwa menerima diri sendiri dan berjuang untuk bertahan hidup adalah hal penting, bahkan di tengah kesulitan. 

 

“Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” adalah judul sebuah novel karya Brian Khrisna. Novel ini menceritakan kisah Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang mengalami depresi dan berniat mengakhiri hidupnya. Namun, sebelum itu, ia ingin menikmati seporsi mie ayam. Novel ini membahas perjuangan Ale dalam menghadapi depresi, masalah kesehatan mental, dan penerimaan diri, dengan simbol mie ayam sebagai pengingat akan hal-hal sederhana yang bisa dinikmati dalam hidup. 

Ale, seorang pria berusia 37 tahun memiliki tinggi badan 189 cm dan berat 138 kg. Badannya bongsor, berkulit hitam, dan memiliki masalah dengan bau badan. Sejak kecil, Ale hidup di lingkungan keluarga yang tidak mendukungnya. Ia tak memiliki teman dekat dan menjadi korban perundungan di sekolahnya.

Ale, seorang pria berbadan bongsor yang ditolak oleh masyarakat sosial. Tiga puluh tujuh tahun usianya, dia hidup tanpa berteman dan tanpa makna. Ale didiagnosa oleh psikiater mengidap depresi. Di tempat kerjanya, dia tak memiliki rekan dekat, bahkan cenderung dijauhi. Ia punya masalah dengan bau badan karena tubuhnya yang besar lebih sering menghasilkan keringat. Bukannya ia tidak peduli, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkar pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.
Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Ia meng-set waktu 24 jam sebelum mati. Ia sudah berencana menelan obat yang dia punya sekaligus satu telanan. Namun saat mendekati detik terakhir, Ale melihat label pada botol obatnya, anjuran untuk makan dulu sebelum minum obat. Seketika Ale berpikir untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri.
Namun, rupanya mie ayam yang hendak Ale beli, tidak jualan. Tutup. Rencana Ale untuk mati harus tertunda. Namun ia tetap bertekad untuk mati, setelah makan seporsi mie ayam.

Ale merasa hidupnya sangat sial dari fisik, cinta, pertemanan, hingga keluarga yang justru mematahkan semangatnya. Depresi akut membuatnya ingin mengakhiri hidup. Di hari terakhir, ia habiskan semua uang untuk bersenang-senang. Keinginan terakhirnya adalah makan seporsi mie ayam langganan. Tapi takdir malah menyeretnya ke kejadian tak terduga. Ia terlibat kesalahpahaman hingga masuk penjara. Di sana, hidupnya tak jauh berbeda, sampai Murad datang. Murad adalah tahanan “istimewa” polisi yang mengubah kehidupan Ale dari kepecundangan hingga keberanian lewat tempat yang tidak istimewa, kotor, berdosa, tetapi dari tempat itulah pertama kalinya Ale mendapatkan perlakuan manusiawi dari manusia.

Seporsi mie ayam sebelum mati adalah sebuah novel karya Brian Khrisna yang menyuguhkan cerita perjalanan hidup seorang Ale, pria berusia 37 tahun berbadan besar, berkulit gelap dan memiliki masalah dengan bau badan yang mengalami depresi akibat perlakuan buruk yang Ia dapatkan dari teman, lingkungan bahkan keluarganya sendiri. Ale merasakan kesepian, selalu dibuly, dan tidak punya teman untuk bercerita. Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan semua obat anti depresi yang Ia punya, namun ada satu hal yang terlintas dipikirannya sebelum mati adalah dengan makan seporsi mie ayam. 
Ditengah perjalanan, Ale menemui hal-hal diluar dugaan yang membuatnya menyadari bahwa terkadang hidup di lingkungan yang tidak dibayangkan sebelumnya justru untuk pertamakalinya Ia merasa dimanusiakan dan diakui keberadaannya.
Melalui kisah Ale, penulis menceritakan perjuangan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental dengan segala kisah yang Ia lalui hingga akhirnya menyadari bahwa kunci untuk bisa bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan dan kemauan dalam diri sendiri untuk menerima. “Untuk bisa sembuh, kamu harus merasakan sakit dulu. Untuk bisa mengenal kedamaian, kamu harus berperang dulu. Untuk bisa mengenal apa itu bahagia, kamu harus pernah sedih dulu. Untuk bisa bangkit melawan, kamu harus jatuh kalah dulu.”
Novel seporsi mie ayam sebelum mati disajikan secara ringan dengan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan menggunakan simbol mie ayam yang adalah salah satu makanan favorit masyarakat disemua kalangan. Cerita dalam novel ini semakin menginspirasi karena penulis juga melakukan riset dan wawancara langsung dengan penderita depresi dan juga berkonsultasi dengan psikolog ahli. 

 

 

 

 

dari berbagai sumber intenet/ wi/ mrbnj/ 220725

*iwsa/ pjmi/ wi/ nf/ 220725

Views: 2086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *