
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
WARTAIDAMAN.com

“Paman GaZa!” seru Adi Seruling Sakti saat dari kejauhan tampak olehnya bayangan seseorang yang terbang sambil menggendong sesuatu. Adi Seruling Sakti pun mencoba mengejar bayangan itu dengan segera. Melihat hal itu, Ki Ning pun lalu mengiuti arah yang ditempuh Adi Seruling Sakti.
“Paman GaZa! Berhenti!” seru Adi Seruling Sakti setelah jelas bahwa yang terbang menggendong seseorang itu adalah Panglima GaZa. Namun, dia tidak mau mengikuti perintah Adi Seruling Sakti dan tetap terus terbang menggendong Niki. Baru setelah Adi Seruling sakti berteriak sekali lagi, minta dia berhenti, Panglima GaZa berhenti sejenak, kemudian dia berkata singkat. “Bunda Ming.”
- Salahudin Jalal Tanjung: _Ramai-Ramai Menuju Kediri_
- LOMBA NYANYI TARI FASHION DI CAFE TERAS MANGGA KEBON JERUK
- Berlangsung Dua Hari, Turnamen Tenis Piala Wamenag Romo Safii, Antusias Peserta Luar Biasa
- Kisah Cinta dan Dakwah di Atas Vespa: Pasutri Sigi Tempuh Jalur Lintas Pulau Demi Hadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah
- On Love Karya Khairil Gibran
- Ngering Merapi, 35 Peserta CTC Nikmati 130 Kilometer Perjalanan dan Persaudaraan
Setelah itu Panglima GaZa pun melanjutkan perjalanannya membawa jenazah Niki menuju pertapaan Putri Ming Nyamat. Mendengar ucapan Panglima GaZa itu, Adi Seruling Sakti tertegun, amarahnya seakan luntur, bahkan berganti dengan rasa kecut. Adi Seruling Sakti teringat, bahwa dia dapat mempunyai kekuatan seruling sakti karena latihan yang dibimbing oleh Putri Ming Nyamat ibunda Panglima GaZa. Tidak mungkin bagi Adi Seruling Sakti mencegah kepergian Panglima GaZa menuju pertapaan Putri Ming Nyamat.
Sesaat hati Adi Seruling Sakti pun bergejolak. Dia tidak ingin mengganggu lagi perjalanan Panglima GaZa, tetapi dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat bertemu dengan Putri Ming Nyamat yang sedang bertapa tanpa selembar benang pun.
“Paduka, Raja Adi. Mengapa Paduka tidak jadi menghentikan Panglima GaZa. Bukankah dia yang membawa jenazah Niki, Ibunda Paduka?” tanya Ki Ning yang sudah berada di dekat Adi Seruling Sakti.
Akan tetapi, Adi Seruling Sakti tidak menjawab pertanyaan Ki Ning. Dalam benak Adi Seruling Sakti bahkan telah terbayang kilau pualam kecantikan Putri Ming Nyamat. Dia pun lalu justru mengikuti arah terbang Panglima GaZa, tanpa menjawab pertanyaan Ki Ning. Melihat hal itu Ki Ning menjadi bingung. Namun, Ki Ning lalu juga mencoba mengikuti arah terbang Adi Seruling Sakti dari belakang. Dia tidak berani mengganggu Adi Seruling Sakti lagi. Namun, tetap akan mengawal Adi Seruling Sakti, sambil memperhatikan kalau Adi Seruling Sakti akan mendapat gangguan, ancaman, serangan musuh dalam terbangnya mengikuti Panglima GaZa membawa jenazah Niki.
Sementara itu, di lereng Dieng Plateau, Saspras dan SuperA, menghadap Baginda Raja Armanda sambil mengantar Putri Pembayun.
“Lapor Baginda, Raja Armanda. Mohon maaf, hamba berdua menghadap, tanpa diminta karena memenuhi permintaan Abu Arang untuk mengantar Putri Pembayun ke hadapan Baginda,” lapor Sarpras dan SuperA yang sebetulnya dulu merupakan dua panglima andal Kerajaan Matraman Raya saat Baginda Raja Armanda berkuasa.
“Sarpras dan SuperA, mengapa kalian jadi sungkan begitu. Aku bukan lagi raja Matraman Raya. Tidak sewajarnya kalian terlalu hormat begitu kepadaku,” balas Baginda Raja Armanda.
“Apa yang terjadi dengan Pembayun, keponakanku yang bandel itu, sehingga dapat membawa kalian sampai ke tempat ini?” tanya Baginda Raja Armanda.
Sarpras dan SuperA pun lalu menceritakan kalau saat itu Abu Arang khawatir, Kediri akan diserang Raja Danang, Sayidin Panotogomo yang sebetulnya akan menangkap Abu Arang. Karena khawatir akan keselamatan Putri Pembayun dari gangguan Raja Danang, Sayidin Panotogomo, mereka berdua diminta membawa Putri Pembayun menghadap Baginda Raja Armanda di Dieng Plateau untuk mohon perlindungan.
“Apakah Kediri masih dalam bahaya?” tanya Baginda Raja Armanda.
“Hamba tidak tahu perkembangan terakhir dari rencana serangan Raja Danang, Sayidin Panotogomo itu, Baginda,” jawab Sarpras dan SuperA.
“Kalau begitu, kalian istirahat saja di sini. Biar aku yang akan melihat situasi dan kondisi Kediri,” kata Baginda Raja Armanda.
“Pembayun, layani kedua tamu pamanmu ini dengan baik. Sampaikan kepada Bunda Fitri, kalau Pamanmu akan pergi ke Kediri,” pesan Baginda Raja Armanda kepada Putri Pembayun.
Namun, sebelum Baginda Raja Armanda berangkat ke Kediri, tiba-tiba Bunda Fitri berkata dari dalam. “Baginda, Bunda Fitri ikut.”
- Salahudin Jalal Tanjung: _Ramai-Ramai Menuju Kediri_
- Hari kedua, Pasis Dikreg Sesko TNI LVI berikan Penyuluhan Karhutla di Desa Hanjak Maju, Pulang Pisau
- Rajut Silaturahmi Lintas Wilayah, PKK RW 07 Menggelar Kajian Spiritual “Nasehat Jelang Senja Usia”
- Sekjen Al Jam’iyatul Washliyah Prof.DR.H.Saifuddin Herlambang S.Ag.,MA,: Alwashliyah Organisasi Perekat
- LOMBA NYANYI TARI FASHION DI CAFE TERAS MANGGA KEBON JERUK
- Mukhlis Syamaun Menghadiri Funwalk HUT RI ke-81 di Cipinang Cempedak, Ajak Warga Perkuat Silaturahmi dan Jaga Persatuan
- Berlangsung Dua Hari, Turnamen Tenis Piala Wamenag Romo Safii, Antusias Peserta Luar Biasa
- Tim Penyuluh Pasis Dikreg SESKO TNI LVI TA 2026 Gelar Penyuluhan Door to Door di Puskesmas Menteng Palangkaraya dan Masyarakat sekitar Sungai Kahayan
- Layanan Dukungan Psikososial: PT PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya bersama Rumah Zakat Untuk Anak-Anak Ameaba, Kab. Nagekeo
Mendengar permintaan Bunda Fitri tersebut, Baginda Raja Armanda lalu tersenyum.
“Pembayun baru datang. Ada tamu kita pula di sini. Rasanya kali ini, bagus Bunda Fitri tidak perlu ikut,” balas Baginda Raja Armanda.
“Siapa yang kau bawa itu GaZa?” tanya Putri Ming Nyamat, setelah melihat GaZa menurunkan orang yang digendongnya di pertapaannya. Putri Ming yang masih duduk bertapa tanpa selembar benang pun itu heran GaZa membawa seseorang yang tergeletak di pertapaannya.
“Niki mati, Bunda,” kata Panglima GaZa.
“Niki mati! Niki perempuan sundal itu mati. Mengapa kau bawa dia ke sini, GaZa? Bawa dia jauh-jauh dariku. Aku tidak ingin melihatnya!” seru Putri Ming Nyamat.
Mendengar ibunya marah, dia membawa jenazah Niki, maka Panglima GaZa segera keluar dari pertapaan melalu pintu belakang, lalu membawa jenazah Niki jauh dari pertapaan ibunya untuk menguburkan Niki. Adi Seruling Sakti yang belum sempat mengetahui kejadian yang menimpa Panglima GaZa, masih ragu mau ke pertapaan karena belum tahu akan sikap Putri Ming Nyamat terhadap dirinya. Namun, hal itu tidak terlalu lama, karena justru Putri Ming Nyamat yang meminta Adi Seruling Sakti untuk masuk ke pertapaannya.
“Adi, mengapa kamu hanya berdiri di luar. Tidakkah kau rindu kepadaku?”
BACA JUGA:
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Jenasah Niki Hilang_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Tragedi di Istana Kerajaan Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Bencana di Istana kerajaan Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri Menghilang_
Mendengar Putri Ming Nyamat memintanya dia masuk ke pertapaan, Adi Seruling Sakti pun tanpa berpikir panjang lagi langsung masuk ke pertapaan. Sampai di dalam, Adi Seruling sakti langsung gemetar melihat kilau pualam Putri Ming Nyamat yang sedang bertapa tanpa sehelai benang pun.
“Putri Ming, aku haus.” Spontan Adi Seruling Sakti merapat ke tubuh Putri Ming bagaikan terkena magnit. Namun, sebelum Adi sempat melakukan sesuatu, Putri Ming menepuk bahu Adi Seruling Sakti sehingga Adi pun terduduk di depannya.
“Sudahkah kau berhasil menduduki takhta Kerajaan Matraman Raya?” tanya Putri Ming.
Adi hanya mengangguk. Adi sudah tidak sanggup lagi bicara, pikirannya sudah dipenuhi oleh kenikmatan bermesraan dengan Putri Ming.
“Adi, aku milikmu,” bisik Putri Ming.
Akan tetapi, belum sempat Adi Seruling Sakti melepaskan hasratnya kepada Putri Ming Nyamat, tiba-tiba terdengar suara Ki Ning berteriak di luar pertapaan memanggl-manggil namanya.
“Paduka, Raja Adi, di manakah, Paduka?”
“Adi siapa yang memanggil-manggil namamu?” tanya Putri Ming.
- 5 Tips Konsisten Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari agar Tetap Istiqomah
- Kajian Kitab Al-Hikam #2
- Ketum Al Washliyah: Teladani Kepemimpinan Amanah dan Keadilan Ekonomi Rasulullah
- Amal sedikit penuh kesadaran Ilahi lebih baik dari pada banyak amal dengan kesombongan diri
- Maulid Barokah Munajat kami pada MU, Yaa Allah
- Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan Fajar
“Ki Ning, ayah mertuaku, Putri,” bisik Adi Seruling Sakti, yang sudah tidak sabar lagi ingin mereguk kenikmatan bersama Putri Ming Nyamat.
“Adi, pergilah ke Kediri, lakukan pembalasan dendamku kepada Raja Slamet. Setelah itu kembalilah ke sini sepuasmu,” bisik Putri Ming sambil tangan kanannya menunjuk ke pintu belakang pertapaannya, seolah mempersilakan Adi Seruling Sakti keluar.
“Putri Ming,” panggil Adi.
“Pergilah dulu ke Kediri,” kata Putri Ming sambil tetap mengarahkan tangan kanannya ke arah pintu belakang, dan berpesan, ”akan kuselesaikan urusan ayah mertuamu, Ki Ning.”
Mendengar hal itu, Adi Seruling Sakti pun tidak dapat lagi menolak perintah Putri Ming. Setelah Raja Adi Seruling Sakti pergi melalui pintu belakang, maka Putri Ming lalu memanggil Ki Ning.
Ki Ning terkejut mendapati seorang putri yang duduk bertapa tanpa selembar benang pun di dalam pertapaan itu. Ki Ning bahkan tidak melihat Raja Adi Seruling Sakti di tempat itu. Namun, belum sempat Ki Ning berbuat sesuatu, putri yang sangat cantik itu berkata, “Ki Ning. Namamu Ki Ning, bukan? Berangkatlah ke Kediri, temani Raja Adi Seruling Sakti. Jika kalian berhasil melakukan tugas yang kuberikan, maka kau boleh merasakan kenikmatan bersamaku. Cepat pergi susul Adi ke Kediri!” seru Putri Ming.
oleh: MJK, jurnalis PJMI.

“ORDER BUKU” silahkan kontak wa saya MJK: 081266804830
*mjkr/ wi/ nf/ 020926
Views: 1


















