JAKARTA – Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF Universitas Paramadina Program Doktor Keuangan Syariah Gelar Diskusi Publik bertema “Industri Halal: Masa Depan Industri dan Ekonomi Indonesia” acara ini digelar di Ruang Granada Lt.7 Gedung Nurcholish Madjid, Kampus Cipayung, Jakarta Timur, Senin, 24/08/26.
Acara dibuka sekaligus dimoderatori oleh Wakil Rektor Universitas Paramadina/Wakil Ketua CSED INDEF Dr. Handi Risza, M.Econ.
Narasumber utama, Kepala BPJPH Prof. Dr. Ir. Ahmad Haikal Hasan, SKom, S.H, MMT, biasanya dipanggil Babeh Haikal memaparkan bahwa kontribusi ekonomi halal terhadap PDB Indonesia mencapai 27% atau Rp6.400 triliun pada 2025. Angka ini naik dari Rp4.900 triliun pada triwulan III 2025.
“Industri halal sekarang tidak hanya makanan dan minuman. Ekosistemnya sudah mencakup kosmetik, fashion, farmasi, keuangan, logistik, hingga pariwisata halal,” kata Babeh Haikal.
Ia merinci, BPJPH saat ini didukung 56.220 penyelia halal, 4.170 auditor, 6.270 juru sembelih, 133 LPH, dan 20.000 pendamping produk halal. Sejak 2019, capaian sertifikasi halal tumbuh hingga 7.000%.
Penanggap, Peneliti CSED INDEF Dr. Abdul Hakam Naja, menyoroti posisi Indonesia yang masih menjadi konsumen besar produk halal dunia. Berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy 2025-2026, peringkat Indonesia naik dari 4 ke 2, setelah sebelumnya sebelumnya dikabarkan berada pada peringkat 8. Namun untuk produksi, negara seperti Brazil, China, India, dan Amerika masih mendominasi.
“PR kita adalah mendorong UMKM dan investasi agar Indonesia tidak hanya jadi pasar, tetapi juga produsen dan eksportir produk halal,” ujarnya.
Diskusi ini bertujuan mengidentifikasi potensi, memetakan tantangan, memperkuat UMKM, dan merumuskan rekomendasi kebijakan industri halal nasional.
*irsh/ pjmi/ wi/ nf/ 250826
Views: 4












