Mendampingi Generasi Penerus, Menatap Masa Depan PJMI dengan Kearifan

WARTA IDAMAN

Sebuah organisasi besar tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia kerap kali bermula dari sebuah ruang diskusi yang riuh oleh kegelisahan, atau sebuah meja kopi tempat ide-ide besar dipertaruhkan. Bagi Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), benih awal itu ditanam pada 3 November 2011 silam. Dan jika kita bicara tentang siapa yang paling getol mencangkul tanah dan menanam akar pertamanya, nama Mohammad Anthoni, M.Si., mustahil untuk dilewatkan.
Anthoni, yang kala itu merupakan jurnalis senior di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, berdiri di garda depan bersama enam wartawan senior lintas media lainnya. Mereka adalah Mashadi (Era Muslim), R. Widojo Hartono (Majalah Tapal Batas), Luqman B. Khalid (Tabloid Bekam), Ahmad Djunaedi (Suara Islam), Iwan Samariansyah (Jurnal Nasional), dan Suyunus Rizki (Koran Jakarta).
Ada sebuah keresahan kolektif yang mereka tangkap dari denyut nadi media nasional saat itu: kebutuhan akan sebuah wadah yang mampu merekatkan ukhuwah, meluruskan bias pemberitaan, sekaligus menjaga agar jurnalis muslim tetap memiliki kompas moral yang berakar pada nilai-nilai keislaman. Dari rahim kegelisahan di meja diskusi itulah, PJMI akhirnya resmi dideklarasikan. Anthoni kemudian didaulat menjadi nakhoda pertama, menjabat sebagai Ketua Umum atau Presiden pertama organisasi yang baru seumur jawung tersebut.
Memimpin sebuah organisasi di masa-masa awal sering kali disebut sebagai “fase sunyi”. Di periode ini, tidak ada panggung megah atau tepuk tangan meriah. Yang ada hanyalah kerja keras di balik layar. Anthoni harus memimpin konsolidasi, mengetuk pintu-pintu ruang redaksi media nasional, dan meyakinkan para jurnalis muslim yang tersebar di berbagai penjuru bahwa mereka membutuhkan satu rumah bersama. Ia adalah peletak batu pertama yang memastikan fondasi organisasi ini cukup kokoh untuk menahan terpaan badai di masa depan.
Arah Perjuangan Lewat Konferensi Internasional Media Islam
Hanya berselang sebulan setelah PJMI berdiri, gerak taktis organisasi langsung mendunia. Sejumlah pengurus teras berpartisipasi dalam Konferensi Internasional tentang Media Islam (International Conference on Islamic Media). Bagi PJMI, keterlibatan dalam konferensi tersebut bernilai sangat krusial karena berhasil memberikan arah serta kompas perjuangan organisasi yang jelas ke depan.
Di sela-sela konferensi internasional inilah, Anthoni bergerak aktif memperkenalkan wadah jurnalis muslim ini ke panggung dunia. Beliau berkenalan dengan para peserta dari berbagai belahan negara, termasuk membangun relasi erat dengan delegasi asal Turki (sekarang Turkiye). Komunikasi yang terajut harmonis sejak saat itu membuka jalan diplomasi pers yang lebih tinggi, di mana Anthoni kemudian mendapatkan undangan resmi untuk menjadi pembicara dalam forum global di Istanbul.
Namun, “fase sunyi” dalam konsolidasi internal bukan berarti PJMI membatasi langkahnya. Hanya berselang beberapa bulan setelah organisasi ini didirikan, langkah strategis luar negeri langsung dijejakkan. Tepatnya pada Desember 2012, Mohammad Anthoni bertolak ke Turki untuk menghadiri konferensi internasional bergengsi, Istanbul World Policy Forum (IWPF).
Di tengah riuhnya forum global di Istanbul tersebut, ia memperkenalkan bendera PJMI yang masih sangat muda kepada dunia internasional, termasuk merajut komunikasi erat dengan Asosiasi Ma’rifat. Langkah diplomasi jurnalistik ini menjadi bukti nyata bahwa sejak awal berdiri, visi PJMI di bawah nakhoda Anthoni tidak pernah kerdil; ia dirancang untuk bergema, bahkan hingga ke luar perbatasan negara.
Kolaborasi CSEAS dan Kedubes AS: Mengedukasi Santri dan Siswa MAN
Memasuki periode pertama dan kedua kepengurusan, jangkauan program PJMI kian meluas dan berdampak nyata bagi masyarakat. Di bawah kepemimpinan Anthoni, PJMI menggandeng lembaga prestisius Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) untuk menyelenggarakan program edukasi masif, berupa pelatihan jurnalistik bagi para siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan santri pondok pesantren di berbagai wilayah, termasuk kawasan Jabodetabek. Program strategis untuk melahirkan generasi penerus jurnalis muslim ini bahkan sukses menggandeng Kedutaan Besar Amerika Serikat sebagai sponsor utama.
Menjalin Hubungan Antarnegara Melalui Ramadhan Dialogue Series
Tidak berhenti di itu, diplomasi publik PJMI kian menunjukkan taringnya melalui penyelenggaraan Ramadhan Dialogue Series. Bekerja sama dengan CSEAS, PJMI sukses menghadirkan ruang diskusi eksklusif dengan menggandeng para Duta Besar dari sedikitnya 10 negara di benua Afrika yang bertindak sebagai tuan rumah. Langkah besar ini kian memperkokoh kiprah PJMI sebagai organisasi pers yang diperhitungkan di ranah domestik maupun internasional.
Sekembalinya dari berbagai panggung global, ujian domestik telah menanti di tanah air. Memasuki tahun-tahun politik menjelang Pemilu 2014, ruang publik mendadak bising dan terbelah. Di sinilah taji kepemimpinan Anthoni kembali diuji. Dengan kelantangan seorang jurnalis senior, ia bersuara lantang mewakili PJMI, mengingatkan rekan-rekan seprofesinya untuk tidak menggadaikan independensi demi syahwat politik praktis. Bagi Anthoni, pers harus tetap menjadi suluh publik, bukan alat pemukul kepentingan.
Kompas moral itu kembali ia tunjukkan saat dunia pers tanah air diguncang oleh kontroversi karikatur di salah satu harian berbahasa Inggris terkemuka pada Juli 2014. Karikatur tersebut dinilai melukai hati umat Islam karena memuat kalimat tauhid dalam konteks yang tidak semestinya. Sebagai Ketua Umum PJMI, Anthoni tidak tinggal diam. Ia melayangkan kecaman keras, namun tetap berada dalam koridor hukum dan etika pers yang berlaku. Langkah ini menjadi penegas posisi PJMI: tegas membela kehormatan agamanya, namun tetap elegan dan terukur dalam mengambil tindakan.
Bagi Mohammad Anthoni, jurnalisme bukan sekadar perkara adu cepat menayangkan berita atau meraup klik pembaca. Ia selalu menekankan pentingnya prinsip tabayyun—sebuah konsep verifikasi dalam Islam yang menuntut akurasi dan kehati-hatian sebelum sebuah informasi lepas ke publik.
“Jurnalis Muslim harus mampu menerapkan sifat-sifat kenabian seperti Shidiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh,” tegas Anthoni pada salah satu momentum penguatan visi organisasi.
Di era ketika hoaks mulai merayap naik, pesan ini menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa wartawan muslim sejati memikul tanggung jawab moral yang besar. Wartawan dituntut memegang teguh kejujuran (shidiq), tepercaya (amanah), cerdas membaca situasi (fathanah), serta menyampaikan kebenaran secara objektif (tabligh).
Waktu terus berjalan, dan tongkat estafet kepemimpinan PJMI telah berpindah tangan beberapa kali, mulai dari era Iwan Samariansyah hingga kepengurusan H. Ismail Lutan hari ini. Namun, sejarah selalu punya cara untuk mengingat para perintisnya.
Hadir Mendampingi Generasi Estafet — Menatap Masa Depan PJMI dengan Kearifan
“Sejarah selalu punya cara untuk mengingat para perintisnya. Menariknya, hubungan Anthoni dengan PJMI tidak pernah putus. Sebagai salah satu jangkar sejarah, ia tidak memilih untuk ‘pensiun’ dan duduk diam.”
Hubungan Anthoni dengan PJMI nyatanya tidak pernah putus ditelan waktu. Sebagai salah satu jangkar sejarah, ia tidak memilih untuk “pensiun” dan duduk diam menikmati masa tua di luar lingkaran.
Hingga menginjak gerbang usianya yang ke-15 tahun ini, Mohammad Anthoni masih sangat sering hadir di berbagai perhelatan penting PJMI. Duduk kokoh di jajaran Dewan Pembina dan Dewan Pakar, beliau kerap kali turun tangan secara teknis membantu kelancaran roda organisasi. Mulai dari menakhodai posisi Ketua Tim Pengarah (Steering Committee) pada Rakernas III, memimpin alur diskusi kritis seputar tantangan dunia pers di hadapan gempuran Kecerdasan Buatan (AI), hingga terus mengawal ketajaman dapur redaksi media internal organisasi.
Melihat perkembangan organisasi saat ini, di 15 Tahun usia PJMI, sang perintis pertama pun tak mampu menyembunyikan rasa bangga sekaligus harapannya bagi keberlanjutan roda kepengurusan,
“Saya senang PJMI masih aktif dan anggotanya bertambah. Saya berharap mereka yang telah mendapat rekomendasi dari PJMI memperoleh beasiswa dapat menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan organisasi,” ungkap Anthoni menitipkan pesan mendalam di 15 Tahun usia PJMI saat ini, untuk masa depan.
Kini, rekam jejak Mohammad Anthoni tetap memancarkan cetak biru keteladanan yang kuat. Ia adalah perwujudan sejati dari arti kata perintis: sosok yang giat menanam akar di fase sunyi, membawa visinya melanglang buana hingga ke Istanbul, dan tetap setia berdiri tegak menyiram pohon perjuangan itu agar tunas-tunas jurnalis muslim masa depan dapat terus tumbuh berteduh di bawah naungannya.
*****
tulisan ini dari WARTA IDAMAN, sebagai penghormatan dan penghargaan atas 15 tahun PJMI, kepada Pemrakarsa, Pendiri, Tokoh, Pengurus, dan Senior di PJMI/ Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia. TERIMAKASIH atas perjuangan dan pengorbanannya. JAZAKALLAH KHAIRAN
#MohammadAnthoni #IwanSamariansyah #IsmailLutan #15TahunPJMI #MiladPJMI
Terima kasih telah membaca artikel ini. Dapatkan artikel menarik lainnya di sini.
Dukung terus WARTA IDAMAN – Berita Semesta "Syiar Hijrah".
Silakan berikan komentar yang membangun pada kolom di bawah ini.
Jangan lupa membagikan artikel ini ke media sosial Anda melalui tombol bagikan di bawah!
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN Berita Semesta
- Kiprah Mohammad Anthoni di Fase Sunyi: Merajut Ukhuwah dan Akar Sejarah PJMI
- Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia: dari tujuh pemrakarsa hingga kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Napas Perjuangan 15 Tahun PJMI: Dari Tujuh Pemrakarsa hingga Kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Songsong Milad ke-15, PJMI Siapkan Agenda Kemanusiaan dan PJMI Award
- Safrizal dan Keluarga Besar Elang Tiga Hambalang Berduka, Doa Teriring untuk Ibu Eva Novensia Kristantie, S.H.
- Pengajian KB PII Bekasi Raya: Kyai Noer Alie Ulama Pejuang Penuh Inspirasi
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

mrbnj-moan/ pjmi/ wi/ nf/ 281026: naufalfuadi dikonfirmasi oleh mohammadanthoni
Views: 0

















