Natsir, Pemimpin yang Dirindukan

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

_”Sejarah tidak hanya mengenang mereka yang pernah berkuasa, tetapi mereka yang mampu menjaga kehormatan ketika memiliki kekuasaan.”_

17 Juli merupakan hari kelahiran salah satu putra terbaik bangsa, Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, yang lahir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908, dan wafat di Jakarta pada 6 Februari 1993. Beliau dikenang sebagai ulama, negarawan, intelektual, pejuang kemerdekaan, Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus Pahlawan Nasional. Namun, lebih dari semua gelar dan jabatan itu, Natsir dikenang sebagai manusia yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri dan yang meninggalkan warisan moral jauh lebih berharga daripada sekadar jabatan atau kekuasaan.

Sejak kecil, Natsir tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Ayahnya, Mohammad Idris Sutan Saripado adalah seorang pegawai negeri. Keluarganya menanamkan kepada Natsir kecintaan kepada ilmu dan agama. Setelah menempuh pendidikan di HIS, MULO, dan AMS di Bandung, ia memeroleh kesempatan melanjutkan studi pendidikan tinggi dari pemerintah kolonial Belanda. Namun, jalan hidup yang dipilihnya bukan mengejar karier pribadi, melainkan mengabdikan diri untuk pendidikan, dakwah, dan perjuangan bangsa.

Di Bandung, ia berguru kepada A. Hassan dari Persatuan Islam. Dari sinilah terbentuk karakter Natsir yang kritis, rasional, santun, dan teguh memegang prinsip. Baginya, ilmu bukan sekadar untuk memenangkan perdebatan, tetapi untuk memperbaiki masyarakat. Ketika Indonesia merdeka, Mohammad Natsir tampil sebagai salah satu tokoh yang memperjuangkan persatuan nasional. Melalui Mosi Integral Natsir pada tahun 1950, ia berhasil mendorong kembali bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah masa Republik Indonesia Serikat. Banyak sejarawan menilai langkah tersebut sebagai salah satu tonggak penting dalam menjaga keutuhan Indonesia.

Sebagai Perdana Menteri, Natsir tidak pernah menjadikan jabatan sebagai alat membangun kemewahan. Ia hidup apa adanya. Berbagai kisah mengenai kehidupannya terus dikenang hingga sekarang, jas yang telah bertambal tetap dipakai, rumah yang sederhana, dan tidak meninggalkan kekayaan yang mencolok ketika tidak lagi memegang jabatan. Bahkan ia dikenal menolak berbagai fasilitas yang menurutnya tidak diperlukan karena merasa uang negara harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Kisah-kisah inilah yang membuat masyarakat mengenangnya sebagai salah satu negarawan paling sederhana dalam sejarah Indonesia.

Namun, kesederhanaan bukanlah satu-satunya keistimewaan Natsir. Ia juga dikenal memiliki integritas yang sulit dicari tandingannya. Ketika berbeda pendapat dengan Presiden Soekarno mengenai arah demokrasi dan kehidupan bernegara, ia menyampaikan kritik secara terbuka tetapi tetap santun. Ketika dipenjara karena pilihan politiknya, ia tidak membalas dengan kebencian. Setelah dibebaskan, ia tetap mengabdikan hidupnya melalui pendidikan, dakwah, penulisan buku, serta pembinaan umat. Bahkan pada masa pemerintahan berikutnya, ia tetap berani menyampaikan kritik ketika menurutnya kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan kepentingan bangsa. Integritasnya tidak berubah meskipun penguasa berganti.

Kesantunan menjadi ciri khas lain dari Mohammad Natsir. Mereka yang mengenalnya menceritakan bahwa beliau hampir tidak pernah merendahkan lawan politiknya. Ia memilih berdialog daripada menghina, memilih argumentasi daripada caci maki, dan memilih keteladanan daripada pencitraan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa dalam beberapa dekade terakhir bangsa ini berkali-kali dikejutkan oleh kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, serta perilaku sebagian pejabat yang dinilai arogan atau jauh dari etika pelayanan publik. Berbagai perkara tersebut telah dibuktikan melalui proses hukum dan menjadi pengingat bahwa jabatan tanpa integritas dapat merusak kepercayaan masyarakat.

Dalam suasana seperti itulah sosok Mohammad Natsir terasa semakin dirindukan. Beliau menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak harus hidup bermewah-mewahan agar dihormati. Beliau membuktikan bahwa kekuasaan tidak harus melahirkan kesombongan. Beliau memperlihatkan bahwa kritik dapat disampaikan tanpa kehilangan adab. Beliau mengajarkan bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan nama baik adalah warisan.

Tidak mengherankan apabila penghormatan kepada Mohammad Natsir datang dari berbagai kalangan. Raja Khalid bin Abdul Aziz Al Saud ketika menganugerahkan _King Faisal Prize for Service to Islam_ pada tahun 1980 menyebut Natsir sebagai tokoh yang sangat dihormati di dunia Islam karena keluasan ilmu, kecendekiawanan, kepemimpinan, dan pengabdiannya kepada masyarakat serta perjuangannya melawan kolonialisme. Prof. Bruce B. Lawrence, pakar studi Islam dari Duke University, menyebut Mohammad Natsir sebagai _”the most prominent politician favoring Islamic reform”_, yakni salah satu politikus paling menonjol yang memperjuangkan pembaruan Islam di Indonesia.

Mantan Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara menggambarkan Natsir sebagai seorang negarawan besar yang memadukan keluasan ilmu, akhlak, dan keteguhan prinsip sehingga dihormati bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan dengannya. Yusril Ihza Mahendra, yang banyak belajar dari pemikiran Natsir, berkali-kali menyatakan bahwa Natsir merupakan teladan negarawan yang berpikir jernih, berbicara dengan argumentasi, dan tidak pernah menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Bahkan setelah wafatnya pada 6 Februari 1993, banyak kalangan menyatakan bahwa Indonesia kehilangan seorang pemimpin yang bersih, sederhana, dan santun. Beliau meninggalkan dunia tanpa meninggalkan kemewahan, tetapi meninggalkan nama yang terus dihormati. Kini, lebih dari tiga dekade setelah kepergiannya, bangsa Indonesia masih menghadapi tantangan yang sama, bagaimana melahirkan pemimpin yang kuat tanpa menjadi arogan, berkuasa tanpa menjadi korup, serta cerdas tanpa kehilangan hati nurani. Mohammad Natsir telah memberikan jawabannya melalui seluruh perjalanan hidupnya.

Ia lahir dalam kesederhanaan.
Ia hidup dengan kejujuran.
Ia memimpin dengan integritas.
Ia berbeda pendapat dengan kesantunan.
Ia pergi tanpa membawa kemewahan.
Ia wafat meninggalkan nama baik.

Barangkali itulah sebabnya, setiap kali bangsa ini lelah menyaksikan korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan politik yang kehilangan etika, nama Mohammad Natsir kembali disebut. Bukan karena ingin kembali ke masa lalu. Juga tidak ingin mengkultuskan seorang individu. Melainkan karena bangsa ini selalu merindukan pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan sebagai hak istimewa. Mohammad Natsir bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah standar moral tentang seperti apa seharusnya seorang pemimpin.

(*Naufal Mahfudz*, Ketua Umum Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah)

 

 

 

 

 

*moan/ pjmi/ wi/ nf/ 170726

Views: 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SPACE IKLAN

SPACE IKLAN