
WARTA IDAMAN

Bismillahirrohmanirrohim.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat dan menuntut hasil instan, kita sering kali lupa bahwa setiap jengkel keringat yang keluar dengan landasan keikhlasan adalah sebuah investasi akhirat yang tak ternilai. Sering kali manusia mengukur kesuksesan dari angka-angka di atas kertas, padahal di mata Allah Ta’ala, nilai tertinggi terletak pada proses kepasrahan dan keteguhan hati saat menghadapi ujian.
Mari kita merenungkan sebuah kisah nyata dari sudut kota yang sunyi. Ada seorang paruh baya sebut saja Pak rahmat, seorang buruh panggul pasar yang kesehariannya akrab dengan beban berat di pundak. Secara materi, kehidupannya jauh dari kata mewah. Namun, ada satu hal yang membuat banyak orang berdecak kagum: wajahnya tak pernah kering dari senyuman, dan lisannya tak pernah absen dari basahnya zikir.
Suatu hari, seorang pemuda yang sedang dilanda depresi akibat kegagalan bisnis memperhatikannya dari kejauhan. Merasa heran dengan ketenangan Pak Rahmat, sang pemuda memberanikan diri untuk bertanya, “Pak, setiap hari Anda memanggul beban seberat ini dengan upah yang tak seberapa. Bagaimana Anda bisa tetap tersenyum sejernih itu?”
Pak Rahmat meletakkan bebannya perlahan, menyeka keringat di dahinya, lalu menjawab dengan suara yang teduh, “Nak, beban di pundak ini hanya sementara, paling lama hanya sampai pasar ini tutup. Tapi kalau hati kita yang memanggul beban keduniawian, khawatirnya lelahnya akan terbawa sampai ke akhirat. Saya hanya berusaha mengubah setiap langkah lelah ini menjadi lillah. Saat saya mengangkat beban, saya niatkan ini sebagai nafkah halal untuk keluarga dan bentuk ketaatan saya kepada-Nya. Ketika hati sudah ikhlas, Allah yang akan meringankan beratnya.”
Mendengar jawaban sederhana tersebut, sang pemuda seketika menangis. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk merutuki takdir dan lupa untuk menyertakan Allah dalam setiap usahanya. Kegagalan bisnis yang ia alami terasa begitu menghimpit jiwa hanya karena ia terlalu berharap pada hasil duniawi, bukan pada rida Sang Maha Pengatur Jasa.
Dari kisah pendek di atas, kita belajar sebuah esensi penting dari makna “Hijrah”. Hijrah bukan sekadar berpindah pakaian atau kelompok penampilan, melainkan hijrahnya hati dari yang semula berharap kepada makhluk, menjadi sepenuhnya bersandar kepada Allah Ta’ala.
BACA JUGA: Hijrah Itu Bukan Lari, Tapi Maju
Ketika seseorang mampu mengubah rasa lelah menjadi lillah, maka ujian seberat apa pun tidak akan mampu merenggut kedamaian di dalam hatinya. Semoga kita semua termasuk golongan hamba yang senantiasa dianugerahi keikhlasan di setiap helai napas dan aktivitas kita sehari-hari. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
*****
Baca Juga di WARTA IDAMAN (8)
- Pelaku Pencurian dengan Kekerasan terhadap WNA Mesir Ditangkap dalam Sepekan, Keamanan Pulo Gadung Perlu Diperkuat
- MUI Jakarta Selatan Gelar Halaqah Ormas Islam
- Perkuat Kompetensi Dakwah dan Media, Mahasiswa IAN Bekasi Ikuti PPL di PP Muhammadiyah
- Maulid Nabi di UIA, Dailami Firdaus: Kita Harus Dekat dengan Alquran
- Rumah Zakat dan PLN IP UBP Kamojang Salurkan Bantuan Bahan Bangunan untuk MCK Darurat di Manggarai Timur, NTT
- Fasli Jalal Harap PKBM Merangkul Anak Putus Sekolah, Korban Bullying, hingga Pekerja Anak melalui Pendidikan Berbasis Teknologi
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

*mrbnj/ wi/ nf/ 190926
Views: 0

















