Beranda / KOLOM / TIDAK SEMUA YANG DIAM ITU TIDAK TAHU

TIDAK SEMUA YANG DIAM ITU TIDAK TAHU

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Oleh : Indri Retno Putranti

 

Saya semakin memahami satu hal dalam hidup: orang yang pandai berbohong biasanya bukan hanya pandai menyembunyikan kenyataan, tetapi juga pandai membuat orang lain meragukan apa yang sebenarnya mereka lihat dan rasakan.

Awalnya mungkin hanya satu kebohongan kecil.

Lalu muncul kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan pertama. Setelah itu muncul alasan, pembelaan, cerita yang diputarbalikkan, bahkan terkadang korban dibuat merasa bersalah karena berani mempertanyakan kebenaran.

Di situlah kebohongan berubah menjadi penipuan.

Karena penipu bukan hanya mengatakan sesuatu yang tidak benar. Ia membangun kepercayaan di atas sesuatu yang palsu, lalu memanfaatkan kepercayaan itu untuk kepentingannya sendiri.

Yang menyedihkan, terkadang orang yang melakukan semua itu justru merasa dirinya paling pintar.

Merasa berhasil karena tidak ketahuan.

Merasa menang karena orang lain masih percaya.

Merasa aman karena semua rahasianya masih tersimpan.

Padahal ada satu hal yang sering dilupakan:

Allah tidak pernah membutuhkan pengakuan kita untuk mengetahui kebenaran.

Allah mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita sembunyikan, bahkan apa yang ada di balik niat kita.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.”
(QS. An-Nahl: 23)

Maka jangan terlalu bangga karena berhasil membohongi manusia.

Bisa jadi seseorang memilih diam bukan karena ia tidak tahu.

Bisa jadi ia sudah melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatanmu.

Sudah mendengar cerita yang berbeda.

Sudah menemukan sesuatu yang selama ini kamu sembunyikan.

Hanya saja, ia memilih diam.

Bukan karena bodoh.

Bukan karena lemah.

Tetapi karena ia tidak ingin menghabiskan harga dirinya untuk berdebat dengan seseorang yang bahkan tidak jujur kepada dirinya sendiri.

Dan jangan heran ketika suatu hari orang yang selama ini begitu percaya kepadamu tiba-tiba berubah.

Menjadi lebih diam.

Tidak lagi banyak bertanya.

Tidak lagi menjelaskan perasaannya.

Tidak lagi mengejar jawaban.

Tidak lagi berusaha memperbaiki sesuatu yang terus-menerus kamu rusak.

Itu bukan berarti dia tidak peduli.

Mungkin justru karena dia sudah terlalu banyak peduli, terlalu banyak memberi kesempatan, dan terlalu sering menemukan alasan untuk memaklumi sesuatu yang sebenarnya tidak pantas dimaklumi.

Kepercayaan itu aneh.

Untuk mendapatkannya membutuhkan waktu yang panjang.

Untuk menjaganya membutuhkan kejujuran.

Tetapi untuk menghancurkannya, terkadang cukup dengan satu kebohongan yang terbukti.

Dan setelah kepercayaan itu hancur, jangan menuntut seseorang untuk kembali seperti dahulu.

Memaafkan adalah haknya.
Tetapi percaya kembali adalah sesuatu yang harus dibangun lagi.

Karena orang yang terluka tidak selalu membutuhkan permintaan maaf yang panjang.

Kadang ia hanya membutuhkan bukti bahwa dirinya tidak sedang dibohongi untuk kedua kalinya.

Saya tidak sedang menulis ini untuk membenci siapa pun.

Saya juga tidak ingin membalas kebohongan dengan kebohongan.

Karena saya percaya, setiap orang pada akhirnya akan berhadapan dengan kebenarannya sendiri.

Kita boleh menyembunyikan sesuatu dari pasangan.

Boleh menyembunyikannya dari keluarga.

Boleh menyembunyikannya dari teman.

Bahkan mungkin bisa membuat banyak orang percaya pada cerita yang kita buat.

Tetapi kita tidak pernah bisa menyembunyikannya dari Allah.

Dan ketika waktunya tiba, yang berbicara bukan lagi pembelaan kita.

Perbuatan kita sendiri yang akan menjadi saksi.

Jadi, kalau hari ini masih memiliki seseorang yang mempercayaimu, jagalah kepercayaan itu.

Kalau pernah berbuat salah, akuilah.

Kalau pernah menyakiti, mintalah maaf.

Kalau pernah berbohong, berhentilah sebelum satu kebohongan menyeretmu kepada kebohongan berikutnya.

Sebab hidup mungkin bisa dijalani dengan banyak kepura-puraan, tetapi hati yang terus-menerus menyimpan kebohongan tidak akan pernah benar-benar tenang.

Dan untuk siapa pun yang pernah dibohongi:

Jangan merasa bodoh karena pernah percaya.

Ketulusanmu bukan kesalahan.

Kepercayaanmu bukan kebodohan.

Yang salah adalah orang yang menerima ketulusan itu lalu memilih mengkhianatinya.

Tetaplah menjadi orang baik, tetapi belajarlah lebih bijaksana.

Tetaplah memaafkan, tetapi tidak harus memberikan kesempatan yang sama berkali-kali.

Tetaplah tenang.

Karena terkadang kebenaran tidak perlu diperjuangkan dengan suara keras. Ia hanya membutuhkan waktu untuk menunjukkan dirinya sendiri.

Dan ketika semua akhirnya terbuka, kita akan mengerti:

Tidak semua orang yang kehilangan kita adalah orang yang rugi.
Kadang justru kitalah yang sedang diselamatkan dari seseorang yang sejak awal tidak pernah menghargai kepercayaan yang kita berikan.

 

 

* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam As Syafi’iyah, dan Anggota PJMI

 

 

 

 

*infh/ wi/ nf/ 300826

Views: 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons