PEREMPUAN SATU MILYAR: _Ijab Kabul_

Posted by : Her Way 11/05/2026

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

Bab 8 Ijab Kabul

 

Saat mengadakan penelitian di Demak, kalau mau pulang ke Yogyakarta, sering kusempatkan mampir dahulu ke Tingkir. Kebetulan daerah penelitian Nety di desanya sendiri, jadi kalau aku pergi ke Tingkir, bisa jumpa dengan dia. Alhamdulillah.

Suatu hari kakek Nety, harus dirawat di Semarang. Dus frekuensi perjumpaanku dengan Nety menjadi lebih tinggi. Terkadang aku tidak menginap di Demak, tetapi justru di rumah sakit menemani kakeknya.

Kakek itu cukup lama dirawat di rumah sakit, sehingga aku banyak kenal dengan keluarga Nety. Bahkan terkadang tidak ada dia pun, aku tetap datang ke rumah sakit dari Demak. Tidak jarang aku justru tidak ke Demak, tetapi malah ke rumah sakit.

Saat kakeknya sudah boleh pulang ke Tingkir, usahaku ke Tingkir menjadi lebih sering. Aku sampai tidak tahu kalau penelitiannya sudah selesai. Sejak itu, aku jadi sering ke Solo untuk menjumpai Nety di tempat kosnya.

Sindiran adik laki-laki Nety membuat tekadku untuk hidup bersama mengarungi rumah tangga bersama Nety menajdi semakin tinggi. Aku pun minta bantu kakakku untuk melamar. Tentu sudah dengan pembicaraan dari hati ke hati.

Alhamdulillah lamaranku diterima oleh keluarga Nety.
Akan tetapi, Nety tidak mau langsung menikah, dia ingin cepat menyelesaikan skripsi.

Hal itu karena dia satu-satunya dari keluarga —bahkan mungkin di kampungnya— yang akan meraih gelar insinyur, bahkan yang dapat melanjutkan kuliah karena mendapat beasiswa. Tentu hal itu menjadi beban tersendiri baginya. Di satu sisi, skripsiku justru macet.

Waktu dia wisuda, baru aku berpikir kalau harus segera menyelesaikan skripsi.

Alhamdulillah, dua bulan setelah Nety wisuda, aku mendapat izin ujian skripsi, walau masih harus menunggu bulan depannya lagi.

Selama menunggu waktu ujian skripsi tidak pergi ke Tingkir.

Aku juga tidak bercerita kalau mau ujian. Bahkan satu minggu sebelum ujian, aku mengurung diri di dalam kamar. Aku hanya keluar saat ambil wudu dan ambil makan. Tiap malam aku stel radio acara wayang kulit.

Tepat hari-H ujian, aku pakai baju putih, sehingga Bu Lik —adik ibuku— yang menemani kami tinggal terkejut. Sudah seminggu nggak keluar kamar, kok tiba tiba pagi-pagi aku sudah berpakaian rapi.

Tentu saja beliau bertanya, “Ada apa kok rapi sekali pagi ini?”

“Insyaallah saya mau ujian sarjana hari ini. Doakan ya Bu Lik …,” lirih kusampaikan.

“Lho mau ujian to? Kok tiap malam wayangan terus, seminggu ini. Ya sudah, ‘muga-muga’ lulus, ya. Sukses!” teriak beliau.

Ujian Sarjana, harus dihadapi. Walaupun jarang kuliah.

Alhamdulillah bikin skripsi ngetik sendiri. Kebiasaan bagus waktu mau bikin persiapan mengajar di Bimbel. Namun, berkutat terus dengan bahan skripsi yang tebal, tentu bisa stress. Opportunity Cost dengarkan wayang semalam suntuk di radio, pada malam hari, selama 7 hari, itu pilihanku biar nggak stress.
Setelah selesai ujian banyak sekali isi skripsiku, yang harus diperbaiki. Bukan itu saja ada hal prinsip mengenai metode yang harus kuubah. Itu sama saja, aku harus membuat skripsi baru. Namun, aku tidak ambil pusing dengan hal itu. Mau ada perubahan banyak atau sedikit skripsi itu, aku sudah dinyatakan lulus. Alhamdulillah.

Dengan kelulusan itu, aku pun pergi untuk menagih janji kepada Nety untuk segera menikah. Lalu terjadilah perundingan Opportunity Cost Waktu Pernikahan. Dalam perundingan tidak ada pesta. Namun, sebelum menentukan hari, tanggal, dan jam, aku diminta menghadap Mbah Kakung, kakek Nety yang pernah sakit dirawat di Semarang.

Saat itu aku ditanya Mbah Kakung, “Nak Jacky, mau pilih menjadi apa besuk-besuknya?”

“Maksud Mbah?” jawabku bingung tidak mengerti tujuan dari pertanyaan itu.

“Begini Nak Jacky. Ada beberapa pilihan yang harus diambil. Ingin menjadi orang ‘Selamat, Berpangkat, Kaya, atau Sengsara’?” tanya Mbah Kakung.

Weleh, weleh Opportunity Cost lagi, nih. Opportunity Cost Ijab Kabul. Kalau memilih ‘Selamat’, berarti menghilangkan peluang menjadi orang ‘Berpangkat’, ‘Kaya’ dan tentu saja ‘Sengsara’.

Begitulah prinsip opportunity cost, kalau memilih yang satu akan kehilangan peluang yang lain.

“Saya ingin jadi orang yang selamat saja, Mbah,” jawabku mantap.

“Kalau begitu, besuk ijabnya harus pagi?” jelas Mbah Kakung.

Weleh weleh mau ijab kabul saja pakai periode, seperti periode ujian. Periode ‘Selamat’, ‘Berpangkat’, ‘Kaya’, ‘Sengsara’.

Aku pun heran pilihanku adalah ‘Selamat’, bukan ‘Berpangkat’, ‘Kaya’ apalagi ‘Sengsara’.

Hari itu semua keluargaku berkumpul, baik yang di Yogyakarta maupun yang di Jakarta. Aku pun sudah bersiap dengan pakaian rapi seperti saat wisuda. Soalnya pakaianku yang bagus dan baru hanya itu. Kami rencana akan naik mobil dari Yogyakarta ke Tingkir, Salatiga.

Rupanya ada saudara yang membawa mobil, jadi dua mobil kami berangkat dari Yogyakarta. Mobil pertama adalah mobil Masu, teman sekelas SMA-ku, yang memberi rezeki mengajar di Bimbel. Namun, sudah agak lama ditunggu, Masu belum datang juga. Alhamdulillah, akhirnya Masu datang dan seluruh keluarga Jakarta, masuk ke mobil Masu.

Bak peribahasa mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, mobil Masu mogok di dekat Stadion Kridosono. Masu sibuk memperbaiki mobil. Aku karena ingin segera bisa berangkat, mencoba ikut jongkok dan memegangi yang dipegang Masu. Namun, aku tidak tahu yang harus kukerjakan. Akibatnya baju pengantin, eh wisudaku kena gemuk.

Melihat hal itu dan kelihatannya Masu juga menyerah. Katanya kemarin ada pinjam, Masu tidak kuasa menolak, maka bisa jadi ada problem pada mobil itu. Masu pun minta maaf. Mas iparku yang datang dari Jakarta langsung cari mobil.

“Bisa-bisa nggak jadi nikah nanti kamu, Jack,” kata Mas Ipar.

Pada saatnya nanti, waktu istriku hamil besar, dia mencari kampung Mas Ipar itu, karena mendengar ada berita lelayu. Mungkin untuk membalas jasa mas Ipar, karena tanpa bantuan beliau, bisa jadi kami batal menikah. Saat ada peristiwa itu, aku hanya membaca surat dari istriku, karena aku sudah di Sumatera.

Akhirnya kami sampai juga ke Tingkir. Karena aku disyaratkan puasa, sebelum ijab, aku pun sudah mulai agak lemas. Aku disarankan duduk bersama petugas KUA untuk pelaksanaan ijab kabul. Lama waktu berlalu, bahkan petugas pun sudah mulai resah karena mempunyai janji di tempat lain, sementara waktu ijab kabul molor dari jadwal yang disepakati. Karena tidak ada pemberitahuan dari pihak keluarga Tingkir, mengenai yang terjadi, aku pun mulai merebahkan badan, tiduran.

Tidak lama kemudian, aku dibisikkan oleh kakak perempuanku untuk tidur di belakang saja. Ijab kabul belum dilaksanakan juga. Petugas KUA itu pun karena segan dengan Mbah Kakung yang rupanya orang terpandang di daerah itu, dia masih juga mau menunggu.

Aku dibawa ke belakang dan tidur di salah satu kamar.

Sudah tidak lagi terpikir periode ijab kabul seperti halnya periode ujian. Aku hanya ingin tidur, di samping karena puasa, juga karena tidak ada informasi sama sekali tentang situasi yang terjadi. Aku seperti sendiri saat itu dan betul-betul sendiri di kamar itu.

“Jack, bangun …!” Tiba-tiba kakak perempuanku berbisik pelan.

“Ganti baju dengan ini.”

Aku diminta ganti baju wisuda yang kupakai dengan baju pengantin daerah.

Aku pun tidak berpikir panjang lagi, kuikuti saja arahan itu.

Begitu sudah siap, aku dibawa keluar, lalu aku digandeng sebelah kanan kakak iparku yang di Yogyakarta, di sebelah kiri kakakku. Aku berjalan ke tempat ijab kabul diapit oleh kakak perempuanku dan suaminya.

Setelah selesai ijab kabul. Aku dipisahkan lagi dengan istriku. Rupanya ada pesta. Ada acara lempar bunga dan sebagainya. Aku ikuti saja semua aba-aba.

“Ambil nasi, makan dahulu kalian. Suapi istrimu. Sudah jangan banyak-banyak, untuk syarat saja.”

Ramai suara orang dan terdengar suara orang banyak tertawa. Aku sendiri masih lemes, di samping puasa, bisa-bisa magku kambuh, maklum banyak pikiran.

Tanpa kusadari periode ijab kabul sudah berubah dari orang selamat menjadi orang kaya.

Akan tetapi, yang jelas itu bukan keinginanku. Walaupun aku pernah merasa menjadi orang kaya, bahkan berpangkat. Namun, aku masih berpikir apakah aku masih bisa menjadi selamat.

Kupandangi wajah perempuan satu Miliar itu di ruang tamu.
Jangan-jangan ibundanya yang memilih periode ijab kabul itu diubah. Dari periode ‘selamat’ ke ‘kaya’? Banyak orang bilang doa seorang ibu sering makbul.
Ingatanku pun kembali melayang. Memang dalam hidup ini, setiap saat kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan dan prinsip-prinsip opportunity cost selalu saja muncul. ‘Opportunity Cost, lagi-lagi opportunity cost.

Apakah dia menjadi perempuan satu Miliar karena opportunity cost?

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak order wa/me: 081266804830

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ hh/ 110526

Views: 16

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *