Beranda / LIFESTYLE / SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Pertempuran di Kebun Singkong_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Pertempuran di Kebun Singkong_

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

Niki minta Pujangga Halim untuk memberikan ajian Sastra Jendra kepadanya sebagai syarat untuk menerima kembali Pujangga Halim sebagai pujangga istana.

Adi Seruling Sakti tidak tahu maksud dan tujuan Niki.

Namun, karena menghormatinya sebagai ibu, dia diam saja melihat aksi Niki. Niki memilih kamarnya dulu di ruang Ketua Dapur Istana. Dia merasa lebih nyaman berada di sana. Adi Seruling Sakti pun tidak keberatan karena dapur istana tidak begitu jauh dari kamar tidurnya.

Malam itu, Pujangga Halim memenuhi undangan Niki. Karena sudah tahu seluk beluk istana Kerajaan Matraman Raya, bukan hal yang sulit bagi Pujangga Halim untuk dapat sampai ke ruangan dapur istana. Di sana Niki sudah menunggu kedatangan Pujangga Halim, dengan pakaian tidur yang tipis. Niki ingat pernah merasakan ajian Sastra Jendra, saat dia mencuri dengar Putri Raisa belajar ajian itu dari Bunda Lilik di istana Kerajaan Matraman Raya. Niki ingin merasakan sensasi yang sebenarnya ajian itu dari sumbernya langsung, Pujangga Halaim.

Pujangga Halim yang tahu betul keinginan Niki, lalu meminta Niki duduk bersila di ranjangnya. Sementara Pujangga Halim berdiri di dinding di dekat pintu keluar.
“Paduka saat ini merupakan ibunda Raja Adi Seruling Sakti, jadi Paduka harus menjadi orang terhormat, tidak boleh sejajar dan terlalu dekat dengan saya,” kata Pujangga Halim.

Niki yang sudah merasa teringat kenangan masa lalu, saat mencuri mendengar kisah ajian Sastra Jendra dari Bunda Lilik kepada Putri Raisa, justru sudah tidak mampu berkata-kata. Tangannya bergerak sendiri membuka baju tidurnya pelan-pelan, seperti saat dia dulu melakukannya di dekat kamar tidur utama Putri Raisa. Pujangga Halim yang melihat gejala sudah mulai buruk, lalu mematikan lampu kamar tidur Niki, kemudian dia berjalan mengendap-endap keluar ruangan. Bahkan ruangan dapur istana pun dimatikan oleh Pujangga Halim. Pujangga Halim pun berhasil keluar istana dengan aman.

Sementara itu, Adi Seruling Sakti, bangun dan merasa haus. Lalu dia pergi ke dapur istana. Akan tetapi, sampai di dapur Adi melihat dapur istana gelap. Lalu dia mencoba mencari kamar ibunya. Saat tangannya meraba dinding, lalu merasa menemukan saklar lampu, maka ditekanlah saklar lampu itu. begitu lampu dapur istana hidup, Adi kemudian tahu kalau kamar Kepala Dapur Istana, tempat Niki, ibunya istirahat terbuka, walaupun kamar itu gelap. Adi pun dengan segera menuju ke kamar Niki. Di kamar itu, Adi mendapati Niki sedang kehausan asmara. Adi pun tanpa berpikir panjang melayani keinginan ibunya. Namun, Adi terkejut saat menjelang Niki terlelap, yang keluar dari mulut Niki adalah nama Pujangga Halim.

“Kamu lulus … Pujangga Halim.”
Mendengar kata-kata Niki, Adi Seruling Sakti pun malu sendiri. Adi pun lalu keluar dari kamar Niki dan kembali ke kamarnya.

Adi tidak tahu kalau akan banyak orang datang ke kebun singkong, untuk membebaskan anggota keluarga Kerajaan Matraman Raya yang bersembunyi di sana.

Aksi Ustaz Bondan Kaja saat mengerahkan ajian Penangkap Petir yang dimilikinya turun-temurun dari Ki Ageng Selo, membuat Bupati Kediri Bejo Cinekel berpikir, bahwa di tempat pertempuran antara Wahyudi dengan Adi itulah Ustaz Bondan Kaja berada. Jika Ustaz Bondan Kaja berada di kebun singkong, dapat dipastikan Putri Raisa, Putri Biyan, Putri Anya dan Pangeran Mustofa juga berada bersama Ustaz Bondan Kaja.

Memang kebun singkong itu sudah dicurigai Adi sebagai tempat yang dulu pernah menghuni di sana sebagai tahanan. Adi harus belajar ngaji dan menggarap lahan kebun singkong itu. Tentu itu merupakan pengalaman yang sangat tidak enak bagi Adi, dan dia tidak ingin mengingatnya kembali.

Akan tetapi, jika ada orang yang mencurigakan di kebun singkong itu, Adi ingin menyiksa kalau perlu membunuhnya.

Untuk itu, dia mengerahkan ajian BuJin yang dimilikinya untuk menyuruh para jin menjaga kebun singkong itu dari serangan musuh dari dalam atau dari luar.

Suatu hal yang tentu tidak diduga oleh Bupati Kediri, Bejo Cinekel, serta Ki Ageng Batman, yang terbang dengan Perahu Surya bersama Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe.

Begitu juga halnya dengan Salahuddin, Jalal dan Tanjung yang dengan pede habis akan mencari Ustaz Bondan Kaja di kebun singkong itu.

Salahuddin terbang tinggi ke langit, Jalan dan Tanjung melesat ke udara. Salahuddin pun saling susul-menyusul dengan Jalal dan Tanjung.

Terkadang Salahuddin terbang tinggi ke langit jauh ke depan, lalu Jalal dan Tanjung menyusul jauh ke depan, saat Salahuddin sedang menurun. Hal itu membuat Salahuddin terkadang tertinggal di belakang. Namun, setelah itu Salahuddin kembali terbang tinggi, melesat ke udara, mendahului Jalal dan Tanjung. Begitu terus-menerus terjadi Salahuddin, Jalal dan Tanjung susul-menyusul terbang di udara.

Pada suatu titik, saat Salahuddin sedang turun, dia melihat sosok putri yang sedang memegang guci dengan sangat kuat.

Salahuddin pun mencoba mendekati putri itu, dia tidak tahu kalau yang didekatinya adalah Putri Khasano Lou.

“Assalamu’alaikum, Putri. Siapakah dirimu? Mengapa kamu memegangi guci itu kuat-kuat?” sapa Salahuddin.

“Waalaikum salam. Kamu lupa, ya? Aku Putri Guci Khasano Lou. Tumben, tidak ada suara serulingmu. Tidak pula mengganggu pakaianku. Apa kau sudah taubat?” tanya Putri Guci Khasano Lou. Dia berpikir yang datang bukan Salahuddin, tetapi Adi Seruling Sakti.

“Putri Khasano Lou. Nama yang bagus. Alhamdulillah, kalau kamu baik-baik saja. Tapi, tampaknya kau salah orang. Aku tidak punya seruling. Aku juga tidak ingin mengganggumu. Ok Oc. Aku pergi kalau begitu,” balas Salahuddin, yang kemudian terbang tinggi lagi ke udara, menyusul Jalal dan Tanjung, pergi meninggalkan Putri Guci Khasano Lou yang terbengong-bengong.

Sementara Jalal dan Tanjung justru sudah sampai di sekitar kebun singkong tempat mereka pernah bertempur dengan Adi Seruling Sakti. Namun, Jalal dan Tanjung tidak dapat langsung terbang lagi, karena di luar kebun singkong itu, mereka langsung dihadang oleh para BuJin jahat yang sengaja dipasang Adi Seruling Sakti. Tentu saja Jalal dan Tanjung terpaksa sibuk menghadapi para BuJin itu dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Jalal dan Tanjung pun tanpa basa-basi lagi langsung mengerahkan ajian Bandung Bondowoso untuk menghadapi para BuJin jahat itu.

Akan tetapi, karena yang dihadapi oleh Jalal dan Tanjung adalah makhluk halus berupa jin, apalagi jumlahnya sangat banyak, maka setiap ada jin, yang mati tergeletak, datang jin lain yang lebih banyak lagi mengeroyok Jalal dan Tanjung. Hal itu membuat Jalal dan Tanjung pun seperti kewalahan. Bukan karena tidak sanggup, tetapi karena jumlah jin yang datang menyerang mereka sangat banyak. Pada saat mereka hampir kewalahan menghadapi para BuJin jahat itu, datanglah Salahuddin menyusul.

“Salahuddin, dari mana saja kamu? Cepat bantu kami atasi jin-jin ini!” seru Jalal dan Tanjung bersamaan.

“Minggir kalian! Biar kuatasi jin-jin itu!” seru Salahuddin.

Salahuddin pun langsung mengerahkan ajian Seribu Bulan untuk menyerang jin-jin yang datang mengeroyoknya. Begitu terkena serangan ajian Seribu Bulan, kontan saja jin-jin itu bergelimangan, tanpa ampun, bahkan banyak yang mati. Namun, belum sempat Salahuddin, Jalal dan Tanjung merasa tenang, karena terhindar dari serangan jin-jin itu, tiba-tiba terdengar suara keras dari udara.

“Kurang ajar! Siapa yang berani ganggu para BuJinku!” seru Ki Ning, yang datang sambil langsung mengerahkan ajian BuJin yang kurang jahat, tetapi juga berbahaya. Bukan itu saja, para BuJin itu juga mampu menghidupkan jin-jin yang mati dengan melangkahinya. Kontan para BuJin itu pun ramai-ramai mengeroyok Salahuddin, Jalal dan Tanjung.

 

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 070226

Views: 80

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 75
  • 56
  • 215
  • 91
  • 8,517
  • 21,303
  • 169,342
  • 254,971
  • 150,647
  • 80
  • 4,768
  • 270