Beranda / LIFESTYLE / SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Petir Ustaz Bondan Kaja_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Petir Ustaz Bondan Kaja_

 

WARTAIDAMAN.com 

 

 

 

“Kurang ajar! Siapa yang berani ganggu para BuJinku!” seru Ki Ning, yang datang, sambil langsung mengerahkan ajian BuJin yang kurang jahat, tetapi juga berbahaya. Bukan itu saja, para BuJin itu juga mampu menghidupkan jin-jin yang mati dengan melangkahinya. Kontan para BuJin itu pun ramai-ramai mengeroyok Salahuddin, Jalal dan Tanjung.

Kedatangan Ki Ning ke kebun singkong membawa Suamidah, diantar oleh Panglima GaZa, memang ingin mencari musuh-musuh yang dikatakan Panglima GaZa dapat membuat Adi Seruling Sakti celaka.

Begitu Ki Ning sampai di kebun singkong dan melihat para BuJin yang dimiliki Adi Seruling Sakti banyak yang cidera bahkan ada yang mati diserang oleh tiga orang pendekar yang tidak dikenalnya, tentu saja Ki Ning marah besar. Ki Ning pun dengan serta merta langsung mengerahkan ajian BuJin yang dimilikinya.

Para BujIn itu bukan hanya menyerang tiga pendekar yang tidak dikenal Ki Ning, yaitu Salahuddin, Jalal dan Tanjung, tetapi juga menghidupkan jin-jin yang sudah sempat mati dengan melangkahi mayat jin-jin itu atau cukup dengan melangkahinya. Kontan saja jin-jin yang hidup kembali itu, bersama dengan jin-jin yang baru datang langsung mengeroyok Salahuddin, Jalal dan Tanjung. Para BuJin itu mengepung tiga pendekar, Salahuddin, Jalal dan Tanjung dan akan menghabisi tiga pendekar itu dengan keroyokan.

“Hai, Orang tua. Siapa dirimu? Mengapa tanpa sebab, kau kerahkan jin-jin untuk mengepung kami bertiga?” tanya Salahuddin.

“Kalian belum kenal aku, ya. Aku Ki Ning, pertapa Bukit Menoreh. Kalian yang menyerang BuJinku, kalian pula yang menuduhku menyerang. Ayo, kalau kalian jantan, sebut nama kalian! Jangan kalian menyesal, mati tanpa nama. Dihabisi para BuJIn!” seru Ki Ning pongah. Ki Ning merasa selama ini belum ada yang mampu mengalahkan para BuJin itu.

“Kami, Tiga Pendekar Langit, Salahuddin, Jalal dan Tanjung. Utusan khusus Baginda Raja Danang, Sayidin Panotogomo. Ki Ning, cepat bawa para jin itu dari tempat ini. Kalau tidak, kami akan menghabisi mereka!” seru Salahuddin tidak mau kalah gertak.

“Tiga Pendekar Langit. Sombong kali, kalian. Kalian saat ini sudah dikepung oleh BuJin. Ruang gerak kalian sudah semakin sempit. Ayo tunjukkan kehebatan kalian pada BuJin. Pergilah ke langit, tempat kalian hidup!” seru Ki Ning.

“Ki Ning, kami sudah peringatkan dirimu untuk membawa jin-jin ini pergi dari sini. Tapi kalau kamu tetap membandel, kami akan bereskan jin-jin itu dari hadapan kami. Lihat aksi kami, Tiga Pendekar Langit!” seru Salahuddin yang tiba-tiba melesat terbang ke langit tinggi-tinggi. Jalal dan Tanjung yang melihat aksi Salahuddin pun tanpa pikir panjang segera terbang dengan sepeda beroda satu mereka menyebar untuk menghindari serangan Salahuddin pada BuJin itu. Jalal dan Tanjung seolah tahu, jika Salahuddin akan mengerahkan ajian Telapak Tangan Langit. Jangankan Bujin, baik Ki Ning bahkan Jalal dan Tanjung jika masih berada di tempat itu dan terkena serangan ajian Telapak Tangan Langit dapat terluka. Oleh karena itu, mereka berdua pun terbang menyebar, untuk menyingkir dari tempat itu.

Akan tetapi, sebelum Salahuddin turun dari langit untuk meyerang BuJin dan Ki Ning yang bersama Suamidah dan Pangllima GaZa, tiba-tiba di langit muncul awan bergulung-gulung. Awan itu pun kemudian turun menjadi hujan. Bukan itu saja, tampak pula ada petir yang menyambar dari langit ke arah BuJin dan Ki Ning. Bujin itu seperti takut mendengar suara petir, apalagi datang hujan turun, mereka pun seperti kebingungan, mau lari dari tempat itu, takut dimarahi Ki Ning. Sementara Ki Ning terkejut dan tubuhnya pun roboh di tanah, karena dadanya tersambar petir.

Salahuddin yang melihat situasi dan kondisi di kebun singkong itu berubah drastis, segera turun dan menghentikan serangan ajian Telapak Tangan Langit yang akan dikerahkannya untuk mengusir kepungan BuJin dan sekaligus menyerang Ki Ning. Tampak pula oleh Salahuddin dari jauh Bupati Kediri Bejo Cinekel bersama Ki Ageng Batman, Miss Kiara dan Mbak 00 WeIBe terbang dengan Perahu Surya menuju kebun singkong, tempat pertempurannya dengan BuJin dan Ki Ning. Apalagi dengan adanya petir yang menyambar di awan yang bergulung-gulung, Salahuddin berpikir, Ustaz Bondan Kaja sudah memberi tanda kalau beliau berada di sekitar tempat itu.

“Allahu Akbar. Itu Ustaz Bondan Kaja!” seru Salahuddin, seolah ingin memberi tahu Jalal dan Tanjung, bahwa orang yang mereka cari sudah muncul.

“Jalal, Tanjung, bantu Bupati Kediri Bejo Cinekel dan rombongan Perahu Surya Ki Ageng Batman, untuk menerobos masuk ke kebun singkong. Temukan Ustaz Bondan Kaja secepatnya. Biar aku yang urus Ki Ning dan BuJin ini!” seru Salahuddin lagi.

“OK Oc, Salahuddin, kami ikut perintahmu,” balas Jalal dan Tanjung kompak, lalu mereka berdua pun terbang ke arah Perahu Surya, menyambut Ki Ageng Batman, Miss Kiara, Mbak 00 WeIBe dan Bupati Kediri, Bejo Cinekel.

“Ayah, ibu, kami datang!” seru Jalal dan Tanjung bersamaan. Setelah itu mereka kemudian langsung memanggul Perahu Surya untuk dapat masuk ke areal kebun singkong dengan cepat, selagi BuJin masih dalam keadaan bingung dan Ki Ning belum dapat memberi instruksi kepada para jin itu.
Ki Ning yang terjatuh, sangat terkejut melihat aksi Tiga Pendekar Langit, Salahuddin, Jalal dan Tanjung itu. Apalagi dia mendengar ada disebut nama Ustaz Bondan Kaja, Bupati Kediri Bejo Cinekel bahkan Ki Ageng Batman yang tidak dikenalnya. Dia merasa menghadapi tiga orang yang menyebut diri mereka Tiga Pendekar Langit, Salahuddin, Jalal dan Tanjung saja sudah merasa keder melihat kelihaian mereka beraksi di langit, kalau sampai ada orang-orang lagi datang ke tempat itu, bisa jadi dia, Sumaidah dan Panglima GaZa, utusan Raja Adi Seruling Sakti akan mendapat bahaya, kalau masih tetap ngotot akan berperang di tempat itu.

Dalam posisi yang lemah karena harus menghadapi kenyataan bahwa tiga pendekar langit yang menjadi musuh secara langsung itu, luar biasa hebat kesaktiannya, Ki Ning pun segera minta Panglima GaZa membawanya bersama Sumaidah untuk menghindari pertempuran dengan tiga pendekar langit itu.

Panglima GaZa pun dengan sigap, tanpa banyak berkata-kata, langsung bergerak, lalu mengendong Ki Ning dan Sumaidah terbang menuju istana Kerajaan Matraman Raya.

Sementara itu BuJin yang bingung karena kehujanan dan takut mendengar bunyi petir yang begitu keras dari langit yang turun ke bumi, mereka pun lalu pergi meninggalkan tempat itu dan mengikuti Ki Ning, yang dibawa terbang Panglima GaZa.

Melihat hal itu, Salahuddin bernapas lega.

“Alhamdulillah. Mudah-mudahan Bupati Kediri dapat segera menemukan Ustaz Bondan Kaja. Dengan bantuan Jalal dan Tanjung, sepertinya mereka tidak akan kesulitan menemukan beliau, kalau memang beliau berada di kebun singkong. Apalagi para jin BuJin itu sudah tidak akan mengganggu mereka lagi,” kata Salahuddin pada dirinya sendiri.

“Jalal, Tanjung, Salahuddin segera menyusulmu!” seru Salahuddin.

 

 

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*mjkr/ wi/ nf/ 070226

Views: 54

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 75
  • 56
  • 215
  • 91
  • 8,517
  • 21,303
  • 169,342
  • 254,971
  • 150,647
  • 54
  • 4,768
  • 270